Photo: Ibnu Mas’ud (Sebo Studio)

Chill with BackenDesigner

Kemaren, Jum’at malam 4 Maret 2016 menjadi salah satu hari istimewa. Bukan perayaan atau apa, tapi karena sebuah pertemuan. Bertemu teman, sama-sama pas di perantauan, Jakarta. Janjian untuk kumpul, dengan kopi untuk teman obrolan. Widnyana, pemuda Bali eks teman sekantor yang kebetulan sedang tugas kantor di Jakarta datang dengan membawa teman ternyata, Leonardo Situmorang namanya.

Mereka berdua programer, sama-sama backend developer. Mengobrol panjang lebar, sesoal karir, teknologi sampai kehidupan. Keduanya ahli di bidangnya, kadang terselip istilah IT yang membuat kepala sedikit muter.

Entah mengapa selalu menyenangkan ngobrol dengan teman yang berbeda bidang, Memperluas cara pandang. Kadang pelajaran muncul dari hal yang sederhana.


Tujuan yang memilih jalan

Dimulai dari obrolan keilmuan, sama-sama programer backend, saling sharing hal teknis yang sering mereka jumpai. Bertukar ilmu, membahas masalah yang ditemu. Dari orang backend engineer saya belajar, bahwa semua didasari tujuan. Tentukan tujuan, susun jalan. Selalu runtut namun selalu membuka semua kemungkinan. Bahwa pondasi adalah dasar yang menentukan ujung perjalanan. Tahu yang dituju, sambil merespon yang ditemu.

Dari awal susun pondasi yang tepat, untuk tujuan yang terpusat. Semuanya tergantung cara melihat, dibuka di awal atau tertutup untuk pusat. Efisiensi selalu dicari, efekfivitas harus dilakukan dengan tuntas.

Masa depan dalam dokumentasi

Kedua, dokumentasi. Tak semua pekerjaan rampung sekali jalan. Selalu buat catatan perjalanan, makin rapi makin membuat kita mengerti. Sejelas-jelasnya, setuntas-tuntasnya, seolah jika dibuka nanti, oleh siapapun, langsung mengerti.

Leo bercerita, pekerjaan lama yang terhenti langsung lancar diteruskan karena dokumentasi yang rapi. Tak harus dari nol, semua sudah runtut tertulis rapi ketika hendak melanjutkan lagi. Dokumentasi untuk masa depan, ibaratkan untuk kau yang hilang ingatan.

Knowledge management

Yang ketiga, knowledge management. Rotasi ilmu. Bahwa ilmu harus terus digulirkan agar menjadi cahaya. Sama-sama belajar, belajar sama-sama. Satu sama lain saling memberi pelajaran. Dibuat sistem untuk lebih memudahkan. Semua saling melengkapi, terdokumentasi rapi. Yang terang terus menyala, gelap hilang jadi benderang.

Knowledge management adalah suatu kegiatan yang digunakan oleh organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi.

Ada dua, yang pertama Tacit Knowledge, bersifat personal, hasil pemahaman, pengendapan -perenungan pengalaman yang sulit diformulasi dan transformasikan. Tergantung kepekaan sudut pandang dari orangnya. Segala hal bisa untuk belajar, belajar dari segala hal.

Explicit Knowledge yang kedua, pengetahuan berupa tulisan maupun peryataan yang terdokumentasikan. Semua pengetahuan disusun untuk kemudahan bersama. Semua berhak belajar dan saling memberi pelajaran dalam sistem yang terbuka. Iklim belajar terus terjaga, menyebarkan pengetahuan menciptakan inovasi. Semua saling berbagi saling berkontribusi.


Apa hubungannya dengan desain?

Apa guna panjang lebar bercerita jika tak ada sangkut pautnya. Meski semua tergantung cara pandang, paling tidak ini pelajaran yang saya dapatkan:

  • Tujuan memilih jalan.

Sering kali dalam mendesain User Experience kita terjebak dalam visual, User Interface-nya. Lupa akan tujuan terjebak memilih jalan. Sibuk menata lupa membangun apa. Di sinilah perlunya prioritas, main goal dan main action.

Urutkan prioritas, dari tujuan pertama, kedua, ketiga beserta fungsi yang harus ada di dalamnya. Prioritas pertama menjadi main goal, secara visual harus terdepan untuk fungsi yang vital. Setelahnya baru disusun prioritas kedua dan seterusnya. User yang pertama, don’t make them think benar adanya.

  • Masa depan dalam dokumentasi

Dokumentasi besar perannya dalam team. Jika kita bekerja dengan banyak orang, team yang bongkar pasang, dokumentasi menjadi pegangan. Setiap anggota tim harus dengan mudah mendapatkan informasi untuk menjaga kesamaan cara pandang. Mulai dari brand experience — karakter, nada bahasa ataupun visual, persona — untuk siapa desain ditujukan, user interface — bagaimana sistem bahasa visual (design language system)yang digunakan dalam berbagai kasus, hingga user experience — pengalaman pengguna yang dibangun menggunakan visual, animasi, warna, navigasi, sistem informasi yang diinginkan.

Setiap anggota team maupun anggota team baru, mendapat pegangan. Kesamaan cara pandang, keseragaman sistem kerja meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja.

  • Knowledge management

Desainer dapat menerapkan cara belajar bersama dalam tim. Bisa dalam perpustakaan bersama digital maupun analog, pun dokumentasi tadi bisa juga sebagai sarana. Bakal lebih rapi apabila menggunakan sistem. Dengan knowledge management setiap individu bisa belajar lebih cepat, menghemat waktu, adaptasi lebih mudah, ujungnya, produktivitas meningkat.

Hal lama terus dijaga, hal baru terus dirumus. Semua saling ajar dan terus belajar.

Kapan ngopi, Bung?