Surat Cinta

Anda pernah menulisnya?

Saya pernah. :)

Surat ini saya tulis akhir tahun 2013, sewaktu saya kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebagai materi tugas kuliah, lupa mata kuliah apa, yang jelas dosennya bapak Sumbo Tinarbuko. Saya masih ingat, mengumpulkan tugas dengan amplop bergambarkan hati di tengahnya. Tugasnya menulis peran dan pentingnya Desain Komunikasi Visual dalam kehidupan manusia. Entah mengapa, saya justru menulis surat cinta. Keluar begitu saja, mengalir apa adanya. Melankolis? mungkin. Sok romantis? Bisa jadi.

Saya menulis surat cinta untuk anak saya. Lebih tepatnya untuk calon anak saya di masa depan kelak. Saya masih single tentunya, meski pada saat menulis sedang punya pacar. :)

Begini suratnya,


Assalamualaikum Warohmatulloh Wabarokatuh

Nak, mungkin saat membaca surat ini dirimu telah menjadi seorang desainer hebat. Bapak yakin kemampuan mendesainmu sangat mumpuni. Tapi perkenankan sedikit Bapak bercerita tentang hidup dan DKV. Sebagai desainer, kita harus bisa hidup dan belajar hidup dari DKV ,Nak Tak hanya bisa menjadi dunia yang bisa menghidupi kita, kita sebenarnya bisa belajar banyak dari desain (ketauilah Nak, zaman Bapak desain belum dihargai seperti zamanmu). Desain itu sama seperti ilmu hidup, kamu bisa belajar dari setiap bagiannya. Ambilah pelajaran dari kehidupan desain yang kamu jalani.

Anakku, kamu pasti tahu SWOT kan, Nak? Ya, Strength Weakness Opportunity Threats, meski mungkin sekarang sudah tidak dipakai lagi. Tak hanya untuk desain, tapi kenalilah dirimu dengan analisa SWOT, Nak. Pahami dirimu, siapa kamu. Apa kelemahanmu, apa kelebihanmu, lakukan instropeksi diri. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya, Nak. Kenali dirimu seutuhnya. Gunakan untuk meningkatkan kualitas pribadimu, rajin-rajinlah melihat diri sebelum melihat orang lain.

Setiap mendesain tak lepas dari Target Audience kan, Nak? Kalau kamu jago menganalisa target audience desainmu, kamu harus pintar menganalisa target audience dalam hidupmu, Nak. Pandai-pandailah menyesuaikan diri. Ojo keminter, ojo mbodhoni. Sesuaikan dengan siapa kamu berhadapan, Tak perlu pingin terlihat pintar, bicaralah seperlunya, sesuaikan takarannya. Kamu harus pandai menempatkan diri, dimanapun kamu berada. Bersikaplah sewajarnya, sederhana tapi bermakna.

Hargailah proses dalam hidup, Nak. Seperti kamu melalui tahapan dalam mendesain. Karyamu yang hebat pasti melalui tahap brainstorm, lay out kasar, lay out halus, baru sampai final artwork. Jangan tergesa-gesa, Nak. Nikmati prosesnya, sabar dan tunggulah waktu yang tepat untuk bertindak. Selalu pilih yang terbaik di setiap kesempatan, tentu setelah kamu memahami semua yang ada. Kamu harus memikirkinkan semua kemungkinan yang terjadi, baru kemudian merumuskan yang terbaik yang mana. Hidup itu perjuangan, Nak. Belajarlah dari orang-orang sukses, merekapun pasti pernah susah. Namun, mereka tidak berputus asa menghadapi semua ujian. Belajarlah dari mereka.

Kamu pasti tahu branding kan, Nak? Bapak tak setuju teori Pak Subiakto, Brand = promise. Bapak setuju teorinya Sakti Makki,

Brand = You!

Berbuat baiklah karena kamu benar-benar baik, berbuat baik karena kewajiban. Bukan berbuat baik karena ingin dilihat baik. Kalau berbuat baik, buatlah seutuhnya. Tak perlu berpura-pura dalam hidup, Nak! Be You, Son!

Tak perlu bersifat komsumtif, karena iklan itu pembohong besar, Nak! Jangan percaya iklan, karena pembuatnya dibayar untuk membuat setan di otakmu, membuat keinginan jadi kebutuhan. Dia menciptakan kebutuhan-kebutuhan semu di matamu. Desainer juga harus belajar ilmu keuangan, biar pandai mengatur uang. Yang terpenting, jangan terperdaya iklan! Pintarlah membedakan kebutuhan dengan keinginan. Always trust your hearth! Kamu harus belajar dari tipografi, Nak. Pelajarilah perannya dalam menyampaikan pesan. Kamu pasti pernah dengar,

Without type, design like fine art.”

Kamu harus bisa membantu orang lain, menyampaikan pesan kebenaran dengan tindakanmu. Migunani tumrap liyan. Jadilah orang yang berguna untuk sesama. Bantu temanmu yang kesusahan, siapapun. Jadilah seperti huruf, menyampaikan pesan ke siapa saja, Nak!

Pahami juga packaging, Nak. Meski terlihat sepele, besar perannya, Nak. Tak hanya melindungi isi, packaging harus mempunyai nilai estetis dan representasi isinya. Belajarlah dari dia, berbusanalah yang baik, Nak. Jangan lupa,

“Ajining diri ono ing kedhaling lathi, ajining sariro ono ing kedhaling busono.”

Hormatilah orang lain dengan berbusana yang baik. Kalau kamu tak menghormati dirimu, bagaimana orang lain menghormatimu. Tebarlah senyum kepada orang dengan eloknya busanamu. Tak harus dengan barang branded, seorang desainer harus mampu meramu biar indah. Gunakan semua teori dalam desain. Use your taste, Son!

Jangan lupa belajar nirmana, Nak. Karena nirmana merupakan dasar desain. Kamu pasti akan menciptakan good design jika paham nirmana. Hidup juga seperti itu, Nak. Hidup juga perlu agama sebagai dasar. Jika kamu beragama dengan benar, pasti hidupmu akan indah. Baca dan pelajarilah Al Qur’an dan sunnah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, pasti hidupmu nikmat, Nak. Yang terakhir, teruslah belajar dan membaca dalam hidup. Dari siapa dan dari mana saja. Hargai budaya bangsamu.

Wassalamualaikum Warohmatulloh Wabarokatuh
Kanthi tresno,
Bapak.

Begitu,

Surat ini menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Tolong mention anak saya kelak. Ibunya siapa? Eaa

Bukannya meniru Mark Zuckerberg yang menulis surat untuk Max, anaknya. Saya lebih dahulu menulisnya. Meskipun saya bukan siapa-siapa dibanding Mark, paling tidak ini warisan saya nantinya.

Surat ini dulu saya publikasikan di blog pribadi saya: http://anggityuniar.blogspot.co.id/2013/12/surat-cinta.html

Kalau mau membaca surat Mark Zuckerberg untuk anaknya:
https://www.facebook.com/notes/mark-zuckerberg/a-letter-to-our-daughter/10153375081581634/

Selamat hari Sabtu, selamat berakhir pekan.