Corat-Coret Kebahagiaan.

Semua orang ingin bahagia sepanjang hidupnya. Seorang teman berkata bahwa bahagia sangat dipengaruhi oleh usia, di mana indikator kebahagiaan bisa berubah-ubah seiring bertambahnya usia. Benar juga, ketika saya masih kecil menari di atas panggung ketika acara pelepasan siswa tingkat akhir menjadi suatu kebahagiaan, namun semakin tua saya berpikir bahagia adalah ketika dari menari saya bisa mendapat relasi, pengalaman, serta uang yang nantinya dipakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Perut kenyang, hati senang.

Semakin bertambahnya usia, tentu faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan well-beingnya akan berubah, hm sepertinya ini karena sudah banyak sekali kita melihat bagaimana orang-orang disekitar terlihat bahagia dengan sesuatu yang dimilikinya. Seperti kebudayaan barat, kebahagiaan letaknya di kepala, kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat terlihat wujudnya. O oh, tunggu dulu, tapi banyak juga loh yang menempatkan kebahagiaan dalam bentuk immaterial seperti para buddhisme misalnya yang menempatkan kebahagiaan di dalam hati nurani, dalam kalbu, batin.

Kalau seperti itu, berarti kebahagiaan memiliki role model ya? Apakah dengan begitu tidak ada lagi istilah bahagia yang indikatornya ditentukan diri sendiri? Begini, maksudnya kebahagiaan yang tidak menyonto orang lain, yang murni karena kita merasa akan senang ketika kita meraih ‘sesuatu’ itu?

Seorang teman lain bilang pada saya bahwa kebahagiaan merupakan bentuk konstruksi ideal yang dimiliki tiap individu yang akan membawa kepuasan ketika bisa meraihnya. Tapi kan tiap orang jelas mengonstruksikan tipe bahagia berbeda-beda bukan? Pertanyaannya adalah, kenapa dengan adanya perbedaan indikator kebahagiaan pada tiap individu masih perlu indikator yang dikonstruksikan oleh orang lain di luar individu tersebut?

Sebut saja saya misalnya. Misal, saya akan merasa well, bahagia ketika saya merasa diri saya cantik, hanya cantik tidak peduli harta atau ketenangan jiwa. Cantik itu relatif wahai para pembaca. Nah misal, perspektif saya soal cantik adalah kulit sawo matang yang bersih dengan tubuh yang berisi, tidak gemuk tidak kurus. Seharusnya saya bisa langsung bahagia bukan jika saya bisa merealisasikan hal tersebut? Kenyataannya tidak semudah itu.

Tubuh justru dipakai secara politik, banyak oknum yang justru menggembar-gemborkan standar cantik pada wanita, standar tampan pada pria. Di saat katanya kita bisa meraih kebahagiaan yang katanya subjektif, malah banyak sekali orang-orang yang terbentur standar yang berkembang. Cantik, kaya, pintar. Semua kata-kata berdefinisi dan berindikator justru muncul dari pihak di luar diri sendiri. Sehingga konstruksi ideal yang telah dipegang sedemikian kuat harus runtuh dan digantikan dengan apa yang dianggap sesuai standar, yang katanya lebih baik, lebih bermanfaat, lebih indah dan lebih-lebih lainnya. Sedang diri yang tidak memiliki kuasa apapun harus rela mengganti kebahagiaan awal yang ‘mungkin saja’ sederhana menjadi kebahagiaan yang baru yang lebih rumit, dan tidak sebesar kebahagiaan awal. Apa ini menandakan bahwa sejatinya manusia bisa memilih bagaimana kebahagiaannya namun sebenarnya tidak dapat menentukan bagaimana kebahagiaannya? Apakah kebahagiaan amat sangat dipengaruhi pihak lain; politik, budaya, agama, ekonomi? Apakah kebahagiaan yang sifatnya emosional dan material tetap bisa berdiri seperti selayaknya tanpa perlu dikuantifikasikan? Apakah kebahagiaan yang orisinil dan hanya berlandaskan moral –yang mana juga bersifat subjektif–benar-benar ada?

Ya udah deh, intinya jangan lupa bahagia, kawan.

Eh, bentar.

Bahagia, yang gimana?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ank’s story.