Seterah, Ya Udah Terserah.

Kadang saya bingung, sebegitu pentingkah penilaian orang? Di mana orang di luar diri sendiri milyaran, sedang telinga hanya punya dua. Yakin, sanggup mendengar semua komentar mereka?

Kata Mama, ga enak diliat tetangga anak gadis kok pulang pagi. Kata Ayah, ga baik perempuan kok mainnya sama laki-laki, banyak lagi.

Sebentar, ngomong-ngomong soal baik. Memangnya, apa sih baik itu?

Sejauh pengetahuan saya yang tentunya masih amat sangat terbatas ini, baik — juga buruk — akan berbeda makna antara satu individu dengan individu yang lain. Masa? Bodo, hehe engga-engga.

Coba saja, kalau saya suka rambut cepak rapi dan kamu suka rambut gondrong, apa itu salah? Nyambung ga sih? Engga ya? Bodo, hehe engga-engga.

Menurut saya, baik dan buruk itu tidak ada. Hah?

Katanya, baik dan buruk adalah suatu istilah yang digunakan ketika kita menempatkan sikap taupun sifat dalam suatu tempat tertentu. Kalau tempatnya benar, maka bisa jadi kamu orang baik, juga sebaliknya.

Seperti misalnya perokok. Perokok merokok di tempat silakan merokok akan dianggap orang baik, karena tempatnya benar. Dan perokok merokok di tempat dilarang merokok akan dikatakan buruk karena tempatnya salah.

Tunggu, dari mana kita tahu bahwa tempat kita meletakan sikap atau sifat kita itu benar atau salah? Hm, lagi-lagi saya menduga tempat yang benar dan salah hanyalah perspektif tiap individu saja. Bagaimana bisa?

Begini, saya ingin curhat dengan teman saya di kamar kost —terserah kamar kost siapa — suara saya cukup kencang karena terlalu bersemangat menceritakan kisah saya. Sikap saya akan dinilai berada di tempat yang benar karena tempat tersebut milik saya atau teman saya yang sudah jelas membayar tiap bulannya. Tapi sikap saya akan dinilai salah ketika saya melakukannya di bus umun. Karena saya berbicara dengan nada keras di tempat umum. Lho, lho bukankah di kata ‘umum' juga berarti terdapat diri saya di sana? Oh mungkin karena mengganggu ya?

Eh, sebentar kawan-kawan. Mengganggu dan tidak, bukankah itu juga suatu yang tidak jelas?

Coba-coba, kalau kamu punya teman yang hobinya memeluk tiba-tiba — entah perempuan maupun laki-laki — bisa saja menurut saya itu mengganggu, karena saya adalah tipe yang tidak suka dipeluk tanpa izin, tapi mungkin untuk kamu yang membaca ini misalnya, (taunya ga ada yang baca) mungkin santai-santai aja. Masa? Iya? Heem.

Jadi kesimpulannya apa sih?

Haha, jangan tanya saya. Saya sendiri juga engga tahu, atau setidaknya belum tahu. Mungkin saja baik dan buruk adalah perspektif individu yang disebar luaskan hingga akhirnya menjadi suatu standar tertentu dalam masyarakat tertentu pula. Ah, ada banyak kemungkinan untuk mendefinisikan baik dan buruk, dan itu semua terserah kamu. Kalau untuk saya, hm, sepertinya baik dan buruk itu tidak ada.

Bingung?

Sama, saya juga.

Engga tahunya kalian paham.

Jadinya saya yang bingung.

Apa sih?

Bodo, hehe engga-engga.