Tak Bertempat
Rasa-rasanya tidak ada terjemahan yang pas untuk “out of place”. Mungkin yang paling mendekati adalah “merasa asing”.
Saya tak cukup sering mengulas film. Pun bila saya mengulas, saya tak ingin terjebak pada pembedahan plot, persoalan teknis sinematografi, atau akting para pemainnya.
Saya mengulas perasaan saya setelah menonton, atau pascarasa (semacam upaya penerjemahan ‘agak maksa’ dari aftertaste) dari film tersebut.
Dan selepas menonton Lewat Djam Malam, saya merasakan apa yang Iskandar rasakan. Setidaknya dalam satu adegan.
Satu adegan panjang saat Iskandar keluyuran tanpa arah di pasar malam.
Pikiran saya seketika teringat novela Pramoedya Ananta Toer yang saya anggap paling membekas, jauh lebih meninggalkan kesan dibandingkan Tetralogi Pulau Buru: Bukan Pasar Malam.
Dan seperti itulah hidup. Ada atau tiada revolusi (atau bila revolusi dianggap sebagai suatu konstanta).
Sama seperti Iskandar, Entah sudah seberapa sering ada perasaan “hilang” dan “berhenti” di tengah kerumunan, keramaian, kebisingan, dan pergerakan ruang waktu. Menatap kosong, menyadari semua ini fana, selintas lalu, dan ephemeral.
Berjalan tak tentu arah dalam keputusasaan karena seolah tak ada yang memahami, dan semakin putus asa karena jalan keluar yang terpikir hanya satu. Ataupun bila ada jalan lain, hanya jadi pilihan yang terbaik di antara yang terburuk.
Usmar Ismail lewat Lewat Djam Malam berhasil menggambarkan seorang manusia yang merosot turun dalam jejalin spiral, dari lelaki pejuang muda, tampan, cerdas, menjadi pria putus asa, kecewa, pemarah, dan mencoba bertahan pada ideal yang dia percaya: semangat revolusi yang telah lalu.
Sosok Iskandar memang mengundang simpati, iba, sekaligus geram. Perang tentu tak mudah dilupakan. Rasa bersalah yang menghantui Iskandar membuat gerak-geriknya selalu nampak tak nyaman, tak betah duduk diam, tak bisa tenang.
Iskandar menolak menerima dan menjalani bahwa masa depan juga memiliki harapan.
Harapan yang sering kali terlambat disadari. Dan saat kesadaran datang, upaya meraih harapan yang tersisa hanya serupa menggenggam pasir dalam jemari.
Layaknya Iskandar, kita, atau tepatnya saya, terjebak pada ruang di antara. Antara kini dan nanti, rasa bersalah dan semangat yang kadang tergugah, diselingi kehampaan dan pertanyaan tiada henti.
“Jam malam” bagi Usmar Ismail bisa jadi lebih dari sekadar bingkai waktu untuk mempermudah penuturan dan membatasi durasi. Lewat Djam Malam adalah kisah tentang keterasingan, kecemasan, dan ketakutan yang mencekat. Dan terutama, tentang kesadaran yang lewat, datang terlambat.