Tenang

Hari ini World Mental Health Day. Eh kemarin ding, 10 Oktober.

Banyak yang terjadi sejak satu tahun belakangan, di bulan Oktober, di periode yang sama setahun yang lalu. Semua berbeda, saat itu. But this is the new normal. Tidak bisa dibilang bagus juga tidak bisa dibilang buruk.

Tidak bisa dibilang bahagia atau damai, meski kadang rasanya (seperti) senang atau tenang. Tapi sepanjang tidak menangis lagi dan bisa stabil berfungsi, saya rasa ngga perlu juga lah bahagia-bahagia banget.

Di Selasa sore yang deras ini, saya mencoba mengingat apa saja yang terjadi setahun hingga 5-10 tahun ke belakang.

Jujur saja, tidak banyak yang saya ingat. Semua rasanya samar-samar saja. Mungkin (pernah) depresi efeknya ya seperti itu sih. Semua selewat-selewat saja. Melepaskan perasaan dari ingatan. Inget sih, kejadiannya, tapi sebisa mungkin jangan terhanyut dalam perasaan.

Saya sudah menerima bahwa depresi, dan juga mungkin ketidaktenangan, keraguan, kesedihan, mood swing, adalah bagian dari diri saya. Saya hidup bersama mereka, dan walau bisa saja saya menyebut mereka sebagai “demons”. They’re not. Mereka membuat saya utuh.

Saya belajar untuk memaafkan diri sekaligus menerima bahwa semua kesalahan dan kebodohan yang saya buat, they’re mine. I own it. Saya bukan korban, orang lain bukan penjahat, itu bukan kesalahan. Itu belokan di perjalanan yang membuat cerita saya, jika saya menemukan tujuan nantinya, jadi lebih kaya dan berwarna.

Inilah saya dan hanya saya, di sini, mengakui kesalahan dan memaafkan diri sebelum kembali berlari.

Yah begitulah depresi dan pascarasa-nya. Seperti berlindung di dalam bunker, mencari sedikit ketenangan dari deru badai di luar sana, berharap angin dan puing tidak menghancurkan kaca dan memporakporandakan “dinding” jiwa. Detik demi detik berjalan sedemikian lambat, persepsi ruang dan waktu terdilasi. Dan tiba-tiba saja terasa sebegitu lelah, sebegitu bosan, sebegitu kosong, begitu damai. Hingga jatuh tertidur dan terbangun saat semua berakhir. Matahari terasa samar, hujan tersisa rintik. Lengas.

And you muster up all the strength left in you, to crawl out of your own self-made and imaginary cocoon, to stand and see all the mess made. But you will feel content, enough to just be alive you will want to start all over, rebuilding from whatever was left from you after that storm.

Depresi itu seperti jeda. Seperti koma. Memisahkan kita dari masa lalu, membuat kita belajar memilah mana yang layak diberi rasa tapi tak perlu diingat, mana yang hanya perlu diingat tak perlu diberi rasa. Menghindari dan berhati-hati dengan kata dan rasa.

Maybe I’m not as fun or witty or colorful or smile as much as I used to, but if that’s what it takes to survive, I’m fine with that.

Depression is a very humbling experience. And I would never wish depression upon someone, because it is one hell of a lesson not everyone can bear. Sebab saya beruntung punya jejaring pendukung dan ada di lingkungan yang suportif. Yang mengutamakan empati bukan logika, prasangka, dan moralitas. Yang membebaskan saya bercerita semau saya.

Di hari ini, sebenarnya saya agak capek. Capek dengan begitu banyak berita tentang orang-orang yang galak-galak* dan pertikaian di luar sana. Politics and morals, the so-called “family values”, religious interpretation, all those brouhaha out there. Isn’t being good and kind is far more important than being right?

Saya bisa saja sih menulis berpanjang lebar lebih dari ini tentang kesehatan jiwa, tentang kurangnya empati (males banget ngga sih, dibilang “kurang ibadah” dan “kurang bersyukur” sebagai penyebab depresi?), tentang susahnya akses perawatan kesehatan tanpa prasangka. Masih banyak isi kepala yang belum tersampaikan.

Tapi saat ini, saya hanya ingin menikmati ruang dan waktu saya. Di sini, di sudut ini, di hujan deras sore ini, dengan musik kontemporer ini, bersyukur bahwa saya aman, hangat, senang, dan tenang, mengerjakan pekerjaan yang saya sukai dan membuat saya berarti, dikelilingi kolega saya. Dan secangkir kopi. Dan itu cukup, untuk hari ini.

So here’s to self-care, to put yourself first, to mental health, to that glimmer of hope.

*anyway, yang galak-galak itu saya rasa kurang ngewe aja sih, atau sange, atau baru belajar dan baru tahu, kaya mahasiswa semester satu yang butuh pembuktian dan pengakuan atas pengetahuan baru mereka.