New Experience, New Contemplation

Here comes me again, setelah 2 bulan tidak mengunjungi Medium, saya datang lagi dengan kegalauan yang baru, haha.

Dalam satu bulan ini saya mendapat banyak sekali penolakan, dari penolakan aplikasi internship di beberapa perusahaan sampai penolakan beasiswa Stuned dan AAS yang baru terjadi beberapa hari lalu. Jujur aja penolakan bertubi-tubi itu menyakitkan dan emang bikin down banget. Kalau ditolak perusahaan siih gapapa ya, toh saya juga masih coba-coba dan kadang suka ngasal aja pas kirim CV dan cover letter. Tapi pas datang email bahwa ga keterima Stuned, that hits me, a little bit. Awalnya udah pasrah karena ternyata timeline TU/e dan Stuned yang ga berjodoh. “Hah, ya sudahlah, kayanya ga bisa ke Belanda tahun ini,” so I am actually not too surprised when they told I did not pass the selection process. Agak terluka sih lumayan, haha. Gimana pun juga ditolak tuh ga enak, siapa sih yang suka ditolak?

Rather than feeling disappointed or depressed, I am more of afraid. Hilang satu harapan, gimana ya mimpi aku tentang masa depan…. And it becomes more real when I got the AAS announcement, and again, I am not successful. Well, this is reality. Sabar, ini adalah ujian 😔 Makin nyata rasa takutnya, sampai satu titik dimana aku menitikkan air mata /agak dramatis dikit gapapa ya/ dan mulai ga tenang. Honestly, I am all aware and already anticipated it, so I think I am ready if I fail. Tapi ketika beneran kejadian, ternyata sedih juga ya, meskipun hal itu sangat alamiah dan sangat manusiawi.

Sebenernya saya punya, yaa, sedikit trauma lah. When I want something so bad, but I could not make it true. Ketika SMA, impian saya cuma satu, kuliah di Jepang. Then I tried every possibility to make it happen, until the last chance. Yang adalah seleksi Monbukagakusho 2013. Saya sudah tahap akhir, yaitu wawancara dan dang! saya ga lolos tahap akhir tersebut. Waktu itu saya bersedih cukup lama, nangisnya cukup histeris sampai bikin orang tua saya khawatir. Feeling guilty, saya kira saya merasa bersalah ke orang tua saya, tapi kenyataannya saya cuma merasa bersalah pada diri sendiri. Saat itu saya banyak mikir (kayanya para pikiran itu saya tulis di blog) dan sadar bahwa that was not the end of world (yes, of course) dan mulai berdamai ddengan kenyataan. Alhamdulillah, hidup saya mulai tenang kembali dan berjalan sebagaimana biasanya, but the bad side is I stop making future plan.

Satu hal yang saya sadari waktu itu adalah bahwa saya harusnya bersyukur, sekian lama saya hidup ini, Tuhan kasih saya lebih banyak nikmatnya daripada ujiannya. Ranking bagus di sekolah, masuk SMA bagus dan kampus bagus without much effort (yang pasti bikin kesel banyak orang). Lalu, masa saya mau menyalahkan Tuhan karena satu keinginan saya tidak terkabul. That is unfair, nis. So I try to move on and live my life as it is, as Allah gave me. Tapi di satu sisi, saya sadar bahwa saya jarang menginginkan sesuatu dengan sangat.

Menjalani kuliah 3 tahun selanjutnya di ITB, semuanya berjalan begitu saja seperti air. I had never been too ambitious about anything, never been in a mood for some competitive experiences, never been interested in trying hard. Tapi Allah kasih semuanya ke saya, mulai dari amanah di Gamais, kelancaran akademik, kelancaran TA, semuanya dikasih. Mendekati penghujung studi, I started to get ambitious again, mau kuliah di luar negeri. Seolah-olah membangkitkan kembali impian lama yang udah terkubur. But I became more careful this time, jangan terlalu berharap dan jangan terlalu sombong. Dan sejak saat itu lah dimulai masa hidup galau Anisah yang kedua, hehe.

Dan ternyata benar, perjalanan mengejar mimpi saya kali ini pun sangat tidak mudah. Banyak banget rintangannya dari awal nyusun rencana sampai sekarang. Sampai detik saya menulis di sini pun saya masih banyak takutnya. Bedanya, saya sudah lebih dewasa kali ini (insya Allah), sudah menjadi yang yang berbeda dari Anisah 4 tahun yang lalu. Masih belajar menghadapi kegagalan, tapi terus berusaha mengambil hikmah, tidak terlalu bersedih dengan hasil buruk karena sadar betul bahwa frame buruk kamu denga frame buruk Tuhan itu bisa jadi berbeda.

Apa yang saya sadari adalah bahwa saya salah menaruh prioritas. Sebenarnya apa sih yang kamu takutkan nis? Takut mengecewakan orang tua, malu sama keluarga dan teman-teman. Trus kamu ga malu sama Allah? Udah jelas yang ngasih sukses itu Allah, tapi kamu kok malu dan takutnya sama makhluk lain? Apalagi di suatu ceramah tarawih di DH, seorang ustadz bilang bahwa terkadang kecintaan yang amat sangat terhadap sesuatu bisa saja dicabut sebagai suatu bentuk ujian, bahwa manusia salah menaruh cintanya, terhadap benda, terhadap manusia lain, atau bahkan terhadap suatu keinginan (seperti saya). Kegagalan kamu kali ini bisa jadi ujian, bisa jadi balasan dari dosa yang menumpuk, bisa jadi teguran, atau bisa jadi kenikmatan yang tertunda. who knows?

In the end, you have to well aware that your plan may not be the best plan, but we have to believe Allah always know what the best for us. But it does not stop us from ikhtiar and tawakkal because that is the essential of human’s lives.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Anisah Anis’s story.