Film yang Sebaiknya Ditonton Tanpa Popcorns

Pertengahan tahun lalu di ruang TV percakapan tentang 65 bergulir, sehabis pulang kerja biasanya aku dan beberapa teman satu kos duduk-duduk di ruang itu dan membicarakan banyak hal dari hal yang terstruktur sampai yang ngelantur. Aku lupa apa persisnya hal yang membuat percakapan kami sampai ke 65. Tadinya aku tidak tahu apa-apa karena aku memang tidak punya gambaran apa-apa tentang 65 kecuali apa yang aku pelajari dulunya di sekolah. Kata teteh temanku satu kos dia tidak bisa bilang siapa yang salah negarakah atau PKI kah tapi banyak hal yang dia rasakan bahwa itu adalah sebuah kebohongan besar. Dari situ aku penasaran dan mencoba mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan 65, saking penasarannya aku sengaja mencari jurnal Profesor Ben Anderson, seorang figur besar dalam ilmu-ilmu sosial kontemporer, beliau banyak menulis tentang kondisi sosial politik Asia Tenggara dan cenderung memihak kaum under-dog. Beliau pernah membuat jurnal tentang bagaimana visum et repertum dari jenazah ke-6 jenderal yang dibuang di lubang buaya dan karena itu beliau dilarang masuk ke Indonesia selama 27 tahun di rezim orde baru. Jurnal itu kurang lebih berisi benar tidakkah mereka disundup rokok, mata dicongkel, dan penis dipotong seperti film 3 jam yang kita tonton dulu waktu jaman SD ketika tanggal 30 September tiba. Aku membaca banyak artikel dan buku tentang sejarah kelam bangsa Indonesia yang tidak diajarkan di sekolah, butuh effort yang sangat besar untuk membelokkan sejarah dan pencucian otak berkala pada generasi muda tentunya, berharap mereka mengabaikan sejarah sehingga dengan itu tidak perlu ada klarifikasi tentang dosa-dosa negara kita yang melakukan kejahatan genosida pada masa itu.

Pada suatu hari aku menonton film berjudul Jagal dan The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer, dulu film itu sempat dilarang pada masa rilisnya sekitar tahun 2012 dan 2014 tapi sekarang kita sudah bisa dengan bebas menontonnya di YouTube. Film itu benar-benar membuat aku mempertanyakan apakah benar surga hanya untuk orang yang baik dan neraka hanya untuk orang yang jahat. Di film itu semua abu-abu. Di lain kesempatan aku menonton teater yang berjudul “The silent song of genjer flower”, genjer-genjer adalah lagu yang bernuansa PKI mereka menyebutnya seperti itu, padahal genjer adalah makanan substitusi pengganti daging pada saat itu, yah kita tahu banyak orang miskin dulu setelah ditinggal Jepang, dan seorang seniman membuat lagu itu sebagai bentuk penghargaan kepada bahan makanan pengganti yang memberikan kenikmatan serupa daging di perut mereka. Bukan sebagai anthem. Cerita pagelaran teater itu juga membuatku miris, tentang tahanan politik wanita yang mengalami trauma karena diperkosa di penjara sampai melahirkan seorang anak. Dia tidak mau bertemu dan menyusui bayinya, sampai anak itu besar. Aku tau bahwa Tuhan tidak memberikan ujian yang begitu besar pada umatnya kecuali mereka bisa menanggungnya, dan itu juga membuatku blur, akankah dia masuk surga atau neraka di sisi lain dia mengabaikan anaknya, di sisi lain dia benar-benar teraniaya, dipenjara tanpa diselidiki asal muasalnya selama berpuluh tahun, ditelanjangi dan diperkosa oleh sipir penjara. Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata.

Di suatu sore sepulang kantor aku menonton film 3 jam itu, biasanya aku selalu mentok pada adegan dirumah Jenderal A.H Nasution, dengan Ade Irma Suryani yang tertembak, sisanya aku tertidur, tidak paham, dan ngeri dengan adegan darah yang berlumuran di tubuh manusia, entah itu siapa. Sepintas hanya sedikit dialog dan beberapa suara radio yang menggiring kita pada satu opini bahwa Komunis itu jahat dan harus dibasmi. Aku sangat awam tapi aku tahu bahwa komunisme itu ideologi sama seperti marxisme, bagaimana bisa sebuah ide dihapuskan? Kadang aku ingin sekali berdiskusi dengan orang lain selain saudara kembarku karena aku sudah sangat sering berdiskusi dengannya tentang hal ini. Aku ingin mendengar pandangan orang yang tidak memiliki subjektifitas yang sama seperti aku, tapi aku juga tau bahwa kita tidak bisa membicarakan hal-hal seperti ini kepada sembarang orang. Hanya mereka yang mau mengerti, memahami, dan mengingat saja. Yah kita tau generasi milenial sudah terdoktrin untuk tidak peduli dengan masa lalu bangsanya sendiri, mereka lebih sibuk antri tiket DWP, foto #OOTD, snapchating dan hal-hal yang berbau “craving” pengakuan di dunia maya daripada mendiskusikan tentang apa sih yang sebenarnya terjadi di masa lalu, kengerian apa sih yang membuat mata-mata itu melihat dengan tatapan kosong?

Oh iya satu lagi, ada adegan di film jagal dimana si optometris keliling ini menemui ibunya​ di sebuah kebon pisang. Dia berkata bahwa dia sudah menemui pembunuh kakaknya dan bertanya kenapa, si ibu sangat marah lalu menangis, si ibu berkata untuk apa dia melakukannya, bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi dengannya, karena bagaimanapun dia hanya punya satu anak si optometris keliling itu. Aku benar-benar terharu, itu adalah adegan yang sangat sederhana tapi aku benar-benar merasakan sesuatu yang lebih dari itu. Film-film seperti ini sejatinya adalah film yang tidak seharusnya kita tonton dengan makan popcorns.

Aku jadi ingat hari kemarin waktu aku sangat bersemangat untuk menonton film istirahatlah kata-kata, ada seorang teman yang bercerita bahwa dia baru saja menonton La La Land, kemudian dia berkata “akhirnya lo jadi juga nonton film itu? Nggak sekalian lo nonton cek toko sebelah?”. Satu, sudah jelas dari cara dia mencari film pembanding tidak apple to apple jadi sudah jelas pula bahwa dia tidak paham. Dua, ada banyak film Indonesia yang berkualitas yang mungkin dia tidak tau saja, dan kalau dia tau belum tentu dia menonton. Tiga, banyak yang sudah lupa dan tidak mau memahami, itu sebabnya kenapa hal-hal semacam ini tidak bisa kita bicarakan pada sembarang orang, paling hanya dengan orang yang itu-itu saja.

Sejauh ini film yang membuatku cengeng justru film yang diangkat dari realita kehidupan yang nyata bukan sekedar drama atau picisan. Film itu sederhana tanpa artis yang tampan dan cantik, kebanyakan tanpa dialog yang panjang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.