Maaf Jakarta

Anisa Kesuma
Aug 9, 2017 · 1 min read

Aku belum bisa jatuh cinta dengan Jakarta. Mungkin karena pertemuan pertama kami yang tidak terlalu meninggalkan banyak kesan.

Pertama kali aku bertemu dengannya pada tahun 2005. Dia menyuguhkan ketidakramahan, keangkuhan, kepalsuan dan penderitaan. Penampilannya tidak begitu bagus. Kotor. Tidak menarik.

Pertemuan keduaku dengannya pada tahun 2013. Penampilannya berubah, sedikit mempesona. Dan sedikit membutakan. Dia membuatku banyak menaruh harapan padanya. Dia membuatku berdoa untuk bisa selalu bersamanya. Dia membuatku bermimpi yang indah-indah. Bercita-cita yang tinggi-tinggi. Lalu kemudian aku mendapatkannya.

Dan sekarang aku telah bersamanya selama 4 tahun. Selama menjalin hubungan ini, aku selalu dengan berat hati pulang padanya. Mungkin karena dia bukan rumahku. Selama 4 tahun ini aku berusaha membuat rumah sendiri, membuat kenangan sendiri, membuat kisahku dengannya, dengan segala perjuangan dalam tangis dan tawa. Aku selalu bersamanya. Walaupun aku tahu, dengan bersamanya aku tidak pernah merasa aman. Aku menjadi mandiri bersamanya, menjadi kuat dan tangguh. Dia mengajariku banyak hal dan aku mulai mencoba menumbuhkan perasaan cinta padanya.

Tapi dia begitu keras dan sombong, dan aku belum bisa jatuh cinta dengannya.

Maaf.

Tapi dia akan selalu ada dalam setiap kisah perjuangan hidupku.