Seorang nenek yang menawan.

Dia datang dengan senyum dan sebuah kantong plastik. Dia selalu membawa kantong plastik, entah itu berisi apa. Dia masih memegang keyakinan bahwa jika dia bertamu harus membawakan sesuatu pada tuan rumah, bahkan jika itu rumah cucunya sendiri. Dia mengenakan kebaya brokat kutu baru, stagen, syal, kardigan dan jarik yang dikenakan seadanya, rambutnya putih digelung rapi. Penampilannya sangat aristokratik. Aku membukakan pintu untuknya, kakinya sudah sakit beberapa bulan ini dan pendengarannya juga sudah berkurang. Aku membuatkannya teh tawar kemudian berbincang dengannya. Dia adalah adik kakekku, dia adalah seorang kristen yang sangat taat. Dia sangat menyayangi ibuku, dan aku juga menyayanginya karena sepertinya hanya dia generasi tua di keluargaku yang selalu dengan murah hati memberikan doa-doanya padaku. Kadang dia bercerita dan menangis tanpa sadar lalu kemudian tertawa lagi, hingga kadang aku tidak tahu harus bagaimana. Suaminya sudah lama meninggal, dia tinggal bersama anak dan cucunya, berjualan sayur tiap pagi dan aktif di gereja. Katanya sudah tua begini harus ada yang dilakukan, jadi dia selalu memasak tiap pagi untuk dijual kepada orang-orang yang butuh sarapan. Katanya lagi sarapan itu biar semangat, jadi dengan kata lain dia menjual semangat setiap pagi dengan harga Rp 3.000,- per bungkus, murah kan? Tidak jarang dia memberi kami dagangannya secara cuma-cuma. Dia sangat spesial, karena kata-kata “sabar” yang dia katakan kepadaku terasa lain saat itu, dia berkata “sabar ya nduk, besok kalau rejeki pasti datang”. Banyak yang bicara seperti itu padaku tapi semua seperti kosong dan basa-basi tapi tidak dengannya. Seperti orang Jawa lama pada umumnya pikirannya sangat sederhana. Pertama kali yang dia katakan saat melihatku adalah “di sana kamu makan tiga kali sehari kan?”. Sungguh pertanyaan aneh yang membuatku tersenyum. “Kamu biasanya sarapan apa?” tanyanya lagi, aku menjawab dengan ragu karena sebenarnya aku tidak pernah sarapan. “Sebelum kerja wajib sarapan dulu, biar semangat” katanya. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan. Sebelum dia pulang dia memberikanku wejangan, dia bilang “jangan buru-buru nikah, seneng-seneng saja dulu, cari ilmu, cari pengalaman”. Aku tidak menyangka orang lama yang sangat “Jawa” bisa berkata seperti itu di saat yang lain yang entah hanya iseng atau serius berkata “jangan hanya sibuk dengan dunia sendiri, cari jodoh lalu menikah”. Dia adalah generasi tua satu satunya yang sangat open minded, dan wejangannya adalah seperti hal yang benar karena bahkan umurku tidak sebanding dengan separuh usianya. “Setuju mbah!” kataku, lalu dia tertawa. Dia adalah seoarang nenek yang sangat menawan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.