Dariku, Untuk Seseorang yang Jauh
Hai, apa kabar?
Hari ini ada pikiran-pikiran yang bermunculan tentangmu ketika mencoba mengingat-ingat. Tentang banyak hal. Entahlah, untuk seseorang yang kukagumi sejauh ini, kamu memiliki banyak keistimewaan dan sisi-sisi lain yang baru kuketahui akhir-akhir ini. Dan ya, aku merindukan semuanya.
Aku tidak tahu apakah kamu tahu tulisan ini kutujukan kepadamu (dan entah mengapa itu membuatku lega). Aku bahkan tidak tahu apakah kamu akan membacanya. Mungkin jika Tuhan membisikkan kepadamu tentang kata-kata dalam tulisan ini sehingga kamu tahu ini untukmu, semoga kamu tahu bahwa ada banyak doa-doa baik terselip untukmu di sini.
Aku mengingat hal-hal terakhir yang kita bicarakan di kota tempo lalu. Tentang keinginan dan mimpimu. Aku suka mendengar cerita-cerita tentang impian seseorang. Ketika akhirnya kamu menceritakan mimpimu dengan santai, ditemani pie apel dan sebatang rokok, aku menyimpan kebahagiaanku dalam hati. Wah, kita berbagi impian yang hampir sama, pikirku. Dengan rasionalitas yang kau junjung tinggi, tentunya impian itu cocok sekali untukmu. Membayangkanmu mengajar di kelas dan mahasiswa memanggilmu, “Profesor!”, lalu seusai itu kamu menulis buku, banyak sekali buku, lalu memberi ceramah di auditorium yang besar dan luas. Dan aku? Aku akan datang untuk meminta tanda tanganmu setelah bukumu terbit, menjadi kolega kerjamu yang sibuk memikirkan bagaimana pemimpin dunia berpolitik lewat Twitter.
Aku selalu tersenyum setiap kali bayangan-bayangan itu melintas dalam hati kecilku.
Akhir-akhir ini ada banyak saranmu yang kucoba dan semuanya manjur. Mungkin karena kepribadian kita mirip? Tidak tahu sih, tetapi yang jelas itu semua bekerja dengan baik. Kekhawatiranku akan banyak hal sedikit demi sedikit berkurang. Aku perlahan memahami bagaimana sebuah tulisan ilmiah yang baik tercipta. Beberapa hari terakhir aku mulai paham bagaimana rasanya bisa menerima diri sendiri seutuhnya. Aku memberanikan diri mendaftar asistensi salah satunya karena doronganmu dan…kamu juga yang memasukkan namaku ke departemen. Wah, aku harus berterima kasih kepadamu atas banyak hal yang kau ajarkan sebelum lulus.
Waktu kita sebentar sekali, aku selalu berpikir seperti itu akhir-akhir ini. Ingat tidak ya terakhir kali kita mengobrol aku mengatakan ingin sekali kembali ke saat-saat aku menjadi mahasiswa baru? Selain harumnya kebebasan kampus atau berbedanya udara kosmu ketika kamu pertama kali tiba, sebenarnya ada satu hal yang ingin kusampaikan saat itu.
Jika aku tahu lebih awal bahwa bersamamu ternyata semenyenangkan ini, seharusnya aku dekat denganmu saat kita masih saling mengenal sebatas atasan-bawahan.
Sayangnya, aku bukan cenayang yang bisa melihat masa depan ya.
Wah, menyesal sekali aku terlalu takut saat itu.
Namun, sepertinya menyenangkan sekali bisa bertemu lagi denganmu di masa depan dalam bidang yang sama-sama kita suka.
Aku akan berusaha dengan baik membenahi kekuranganku di sana-sini, sehingga impian-impianku juga tercapai. Aku tidak seencer kamu, haha, akan ada banyak hal yang harus kulakukan untuk mencapai apa yang kamu capai sekarang. Belajar ke luar negeri, terutama. Butuh banyak kerja keras untuk itu. Jadi, aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya saran dan ilmu darimu.
Sebenarnya ada banyak hal yang harus membuatku berterima kasih. Untuk hal-hal yang membuatku bahagia. Untuk traktiran kecilmu yang surprising juga. Untuk saran-saranmu yang membuatku berkembang. Untuk waktu-waktu yang kau luangkan untuk mendengar ocehanku. Untuk buku-buku hebat yang kamu ceritakan. Untuk hari-hari menyenangkan yang kau buat.
Namun, sepertinya kalimat ini akan merangkum semuanya.
Terima kasih sudah menjadi inspirasiku untuk terus maju.
P.S.: Tadi temanmu titip salam untukmu dan menanyakan kabarmu juga, sepertinya bukan hanya aku yang penasaran soal keadaanmu ya.