Lembar Satu:

Semilir Angin Malam Minggu

Aku sedang duduk disini, dengan rasa syukur melihat ke arahnya sembari menerka siapakah disana yang sedang melakukan hal yang sama seperti ini, di bawah sinar bulan yang sedang memancarkan cahaya penuh nya.

Mata minus yang ku miliki membuat sinar bulan terlihat lebih besar dari yang seharusnya. Alangkah indahnya melihat bulan dengan jelas, namun jauh dari rasa sedih dengan melihat nya begini membuat ku terasa lebih dekat dengan angkasa.

Awan tipis yang lewat di antara pandangan kosong ku terhadap bulan membuat ku teringat akan hal yang mendadak ku putar di otak. Lalu senyum ku merespon kenangan itu yang tak lain tak bukan adalah rekaman hidup pada setahun lebih yang lalu. Ku temukan diriku merasakan kehidupan yang sejati di belahan dunia yang jauh dari tempat ku dibesarkan, Madinah dan Mekkah 15 – 24 desember 2015. Momen indah sungguh luar biasa yang mampu memenangi hati ku dari seluruh hal yang terjadi di muka bumi.

Kalau disana jam sekarang ini 20:15 tepatnya ba’da Isya, lalu lalang sekeliling pasti ramai. Ada yang sedang berdiam diri di Masjid Nabawi sembari membacakan surah Al-Qur’an Al Karim dengan tenang nya, ada yang sedang berjalan menuju hotel sambil berdesakan dengan mereka yang membeli cemilan atau buah tangan di sekeliling Masjid Nabawi, ada yang sedang menikmati santapan malam di hotel sambil mendengarkan penjelasan ketua regu tentang aktifitas malam nanti (entah itu keliling Masjid Nabawi, atau berkunjung ke makam Nabi Muhammad Salallahu’laihi Wa Salam). Atau, jika tengah berada di Mekkah, ada yang sedang takjub memandangi Kabah sambil menangis, ada yang sedang menyelesaikan proses umrah (tawaf, sai, dll), ada yang sedang menunggu botol-botol nya penuh terisi air zam-zam di halaman masjid, atau ada juga yang sedang tersesat entah ingin kemana yang jelas ingin melihat setiap sudut Masjidil Haram yang berlantai selalu dingin membuat telapak kaki menggigil, seperti yang aku lakukan dulu.

Mengingat begini saja senang nya bukan kepalang. Ditambah suara pesawat terbang yang sedang lewat sekarang ini membuat aku seperti berada di dalam pesawat menuju Abu Dhabi menggunakan maskapai Etihad yang di dalam nya aku sedang menyantap makanan yang tiada hentinya diberikan. Di sebelah kanan ku ada kakak perempuan yang sedang asyik menonton film dan om (ku panggil lek) yang sedang terpana melihat apa yang ada di luar jendela pesawat pertama nya setinggi 38.000 feet itu, padahal gelap. Dan di sisi kiri ku ada kakek (ku panggil simbah) dan nenek (ku panggil emak) yang setengah melek sembari bersuara “orange juice” ke arah pramugari yang menawarkan minuman di sebelah ku. Alhasil sepanjang perjalanan, aku tidak bisa tidur dan terus menebak hal menyenangkan apa lagi setelah ini. Yaa, seperti anak kecil yang tak mau pulang padahal sudah jam 5 sore.

Mengapa malam ini banyak sekali pesawat yang melintas ya?

Kusudahi tulisan random ku malam ini. Sudah buyar karna aku tertangkap basah -oleh istri kakak ku- sedang duduk di antara jemuran bersilirkan angin dingin dengan bangku kecil yang ibu beli sewaktu di Mekkah*. Dan aku tertawa kaku sambil membuat alasan atas pertanyaan yang dia lontarkan “Anis? Lagi ngapain?” dengan kaget melihat keanehan yang sedang ku lakukan ini. Eh tapi bagiku ini engga aneh, justru adalah momen amat berharga bisa membebaskan pikiran seperti ini tanpa gangguan.

*bangku yang biasanya disediakan gratis buat yang ingin solat sambil duduk di Masjid Nabawi/ Masjidil Haram hahaha ibu jatuh hati sewaktu melihat pertama kali jadinya borong 4 buah.

15 Oktober 2016 20:45

Malam minggu di atap rumah ku