Aku melayangkan sebuah puisi ke udara.

Lalu ia tak lantas terbang begitu saja. Ia seperti enggan pergi dariku yang menjadikannya ada. Ia mematung disisi jalan bersama terik siang.

Kulihat dari bawah sini ia mulai buta arah, tak tau kemana. Bertanyalah ia pada angin, tapi angin malah mencerai-beraikannya. Menjadi banyak kata yang meluap memenuhi seisi kota.

Tak lagi berbentuk puisi, ia masuk ke dalam tubuh manusia. Tinggal didalam jiwa mereka. Mengalir bersama darahnya. Menjadi potongan-potongan kecil tak bersisa.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.