Damai

Aku melihatnya, anak kecil berseragam olahraga TK warna merah muda itu, tidak kuat menarik pintu sebuah minimarket dalam stasiun. Ia hampir menangis memanggil ayahnya yang mungkin sedang membayar di kasir. Aku mendorong pintu itu, kuberitau ia bahwa pintu sudah terbuka dan ia bisa segera masuk.

Dari dalam keluar seorang lelaki tua. Mengenakan batik warna hijau dan peci. Ia lipat celananya hingga mata kakinya terlihat. Mungkin ia baru saja dari kamar mandi. Entahlah. Sepertinya dia bukan orang kota. Rambut putihnya yang agak panjang menyembul berantakan keluar dari pecinya. Ia mengenakan dalaman berwarna putih, kaos kampanye salah satu partai politik, aku mengenal betul kaos itu. Rupanya ia mengantar anaknya yang sedang “study tour” ke stasiun. Ia berterima kasih padaku dan berbicara pada anaknya agar ia diluar saja. Tidak usah ikut masuk karena ayahnya hanya sebentar. Aku tersenyum melihatnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.