Dan pagi ini aku bangun. Dengan sejuta rindu yang lebih besar dari hari kemarin.

Ibu mengirimiku sebuah foto, ia dan seorang temanya sedang berpose memegang belimbing didepan landmark sebuah argowisata di Mojokerto Jawa Timur. Aku tersenyum, dalam benakku aku berdecak kagum cenderung mengejek bahwa sekarang ibu sudah canggih memakai handphonenya.

Sebetulnya aku khawatir, bagaimana kalau ia kelelahan dan mulai mengeluh sakitnya lagi ? Tapi bukankah tidak enak rasanya jika tidak boleh pergi kemana-mana ?

“Tenang saja adek, mbak, ndak akan capek-capek kok cuma ziarah ke makam sama ibu-ibu pengajian” katanya saat meminta ijin.


Kertas coret-coret berserakan dimana-mana disudut kamarku. Dalam hati, ibuku pasti marah bila ia tau. Syukurlah ia tak akan pernah tau. Ada banyak bungkus mie instan dikeranjang sampahku, jika bapak tau ia pun pasti akan marah, syukurlah ia tak akan pernah tau.

Aku selalu begitu, menyuruh orang lain agar tenang saja. Seperti kala ibu berkata “sudah makan?” aku selalu menjawab “tenang saja”. Apa arti “tenang saja” ? Sudah makan ? Belum makan ? Atau tidak makan tapi baik baik saja ?

Hahaha.. tenang saja, I can handle it. Doakan saja Ibu. Agar anakmu ini selalu bisa menghandle apapun itu. Dan agar bisa berkata “tenang saja” kepadamu.

Kata-kata yang menjadi favoritku karena Bapak selalu berkata begitu pada kita. Tenang saja.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.