Kupikir aku tak akan merindukanmu

Jalan lengang batas saat anak-anak pergi sekolah dan para orang tua mengantarkannya. Kemacetan penuh orang bergegas kesuatu tempat mencari penghidupan. Saat disana aku mengantarkanmu untuk bertanya kabar kepada kakakmu.

Waktu itu aku bosan. Hampir tiap hari kulakukan rutinitas itu. Aku hafal dengan tiap lubang, gundukan, lampu merah serta tikungan sampai aku pikir aku bisa melewatinya dengan menutup mata.

Aku pikir aku tak akan merindukannya.

Melewati jalan itu lagi pergi ketempat kerja. Melihat anak-anak berlari-lari dan belajar. Cinta monyet mereka dan harapan bisa lulus ujian nasional. Gurauan getir tentang hidup dengan segala kepasrahan yang menjadi harus. Bergaya punya segalanya disuatu masa dimana kita hanya ditugaskan untuk menjaganya. Bukan punya kita.

Aku pikir aku tak akan merindukannya.

Berjalan sendirian menyusuri peron stasiun kota. Termangu lama menunggu kereta berikutnya. Menyesali kenapa tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan saja, toh tak ada ruginya. Melihat hiruk pikuk orang mencari pegangan selanjutnya, atau sekedar mencari apa saja yang bisa dipegang untuk hidupnya.

Aku pikir aku tak akan merindukannya.

Aku pikir aku tak akan merindukanmu..

Aku salah..

Bisakah kita jumpa sekali saja ?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Anita K. Arum’s story.