Larangan Merokok Untuk Ali

Panggil saja ia Ali. Begitu banyak anak-anak yang kujumpai dalam setahun ini, dan nyatanya aku tak mampu menghafal nama dengan baik. Mengingat banyak sekali orang tua yang menamai anak-anaknya dengan nama barat atau Arab. Nama-nama yang bagus sekali, tapi tidak mudah diingat. Tentu saja dan aku juga memiliki kapasitas dibawah rata-rata dalam menghafal nama dengan cepat.

Siang itu aku merapikan buku-buku dalam mapku ketika aku melihat Ali tampak serius memandang keluar pintu. Seluruh teman-temannya sudah keluar kelas untuk pulang, namun berbeda dengannya. Ia masih berdiri jinjit dibelakang meja dan tampak serius melihat keluar ruangan. Aku penasaran dengan apa yang dilihat anak itu dan kemudian aku mendekatinya. Sepertinya ia sangat serius sampai tak menyadari aku sudah berada didekatnya.

Wah kasus nih” gumamnya.

Kasus apa?” tanyaku pelan yang ternyata mengagetkannya.

Dia mengelus dadanya, tanda ia benar-benar kaget. Kemudian ia menunjuk ke lapangan. Disana ada seorang anak lain yang bukan dari kelas ini sedang ditegur oleh kepala sekolah. Disini memang begitu, kepala sekolah terjun langsung untuk menegur siswanya. Aku bertanya pada Ali, “Kasus apa Al?” dan ia menjawab dengan masih tak melihatku. “Ketauan ngrokok” katanya. Pandanganku segera beralih dari lapangan menuju ke Ali.

Kamu ngrokok?” kataku. Ali diam. Ia masih melihat keluar ruangan, namun matanya sempat melihat kebawah pertanda ia mendengarkan pertanyaan itu. Ia tak menjawabnya. Kuulangi sekali lagi pertanyaanku, dan ia pun masih sama. Kuulangi sekali lagi sampai pada akhirnya ia meletakkan kakinya yang sedari tadi jinjit lalu ia memandang ke bawah dan mengangguk. Aku menghela nafas.

Sejujurnya selama hidupku aku juga seorang perokok. Dengan embel-embel pasif dibelakangnya. Ayahku perokok aktif. Sudah sejak SMP ia merokok. Aku sudah berulang kali mengingatkan tentang bahaya merokok, tapi ia pikir aku tak tau apa-apa tentang rokok. Yasudahlah. Susah memang memberitaunya. Meskipun aku kerap kasihan jika ia terbangun dimalam hari karena terbatuk-batuk. Tak jarang ia sampai muntah.

Aku tidak tau hubungan macam apa yang terjalin antara aku dengan rokok. Aku tidak suka dengan bau asapnya, tapi tiap hari aku menghirupnya. Aku tidak suka dengan orang yang merokok sembarang tempat, tapi aku juga tidak suka melihat orang-orang menutup hidungnya saat berdekatan dengan ayahku yang sedang merokok (Aku pikir itu suatu pemberian peringatan yang kurang sopan saja).

Rumit memang. Mungkin ini yang disebut toleransi dan aku sudah terbiasa sejak kecil.

Disini sekarang aku berada, duduk bersama Ali. Sekolah sudah sangat sepi namun ia masih tinggal untuk menanyakan beberapa soal matematika yang ia tak mengerti. “Rokok yang kamu hisap merk apa Al?” tanyaku memecah keheningan.

Djarum. Yang murah Bu” katanya sambil tersenyum bangga. Jawaban yang membuatku pilu. Siang itu lalu kami habiskan dengan membahas rokok. Tentang bagaimana kisah kakekku yang mirip Jendral Sudirman karena satu paru-parunya tidak berfungsi lagi. Tentang bagaimana ayahku juga merokok saat seumurannya. Dia tertarik dan menginginkanku untuk terus bercerita.

Aku menghindari kata-kata larangan, karena toh nyatanya larangan pun sekarang malah semakin memicu seseorang untuk bertindak. Kutanya dia “Trus kapan rencananya kamu mau berhenti ngerokok Al? Harus direncanakan juga itu” kataku dan kami tertawa.

Aku merasa sedang menasehati Ayahku saat ia masih SMP, saat pertama kali ia merokok.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Anita K. Arum’s story.