Percakapan Di Ruang TV
Entah tulisan sederhana ini terlalu melekat kuat di ingatanku atau ingatanku-lah yang terlalu kuat untuk mengingat tulisan sederhana ini, Rahmat.
Kejadian yang hampir sama. Di depan TV ibu membuka foto-foto kiriman saudara kembarku. Ibu terus memperhatikannya dengan berkali-kali berkata bahwa saudaraku itu cantik sekali dengan pakaian batik yang dikenakannya pagi itu.
“Cantik ya mbakmu” katanya. Mungkin dia sangat bangga padanya, atau kangen. Lalu aku menjelaskan sedang apa saudaraku pagi itu, persis sepertimu saat menjelaskan bagaimana dokter tidak ditarik uang parkir saat masuk rumah sakit.
“Mbak sedang ngasih bimbingan teknis ke orang-orang mim, semua orang yang hadir disitu nggak tau program terbaru yang ada di biro mbak. Makanya mbak menjelaskan di depan” kataku.
“Orang-orang itu diplomat semua, dek ? Mbakmu, kecil-kecil udah pandai ngomong didepan orang-orang tua yang pinter-pinter ya dek” katanya.
Aku juga tersenyum, sama sepertimu Rahmat, lalu hening.
Dan ibuku juga mulai berdoa agar umurnya dipanjangkan. Seperti ibumu yang ingin melihat filmmu dilihat banyak orang, ia juga ingin aku bisa mendapat apa yang aku mau.
Lalu aku ingat tulisanmu. Aku merasa sama. ☺
