Satu Lagi hal Yang Bisa Kulihat

Kali ini aku mendapat giliran mengajar disebuah sekolah yang katanya “orang-orang angkat tangan” menyerah sebelum masuk kelas. Di pintu masuk, aku memandang lama papan nama sekolah ini. Bangunannya masih layak disebut sekolah, meskipun tidak begitu bagus. Bukan mengada-ada tapi memang begitu adanya. Daun-daun kering jatuh berserakan dihalaman sekolah, mereka dibiarkan saja disana, tidak dibersihkan oleh petugasnya. Dinding yang lama tidak dicat ulang, banyak bekas cap sepatu dimana-mana (entah mengapa, aku juga heran, kenapa sepatu bisa sampai ke dinding), tipe bangunan sekolah lama, dengan banyak tiang kayu didepan kelas bercat warna biru abu. Tiang setengah lapuk tapi masih kuat menyangga atapnya. Mirip nasib sekolah ini.

Tidak ada pos satpam, hanya ada dua guru piket yang menyambutku dan mempersilakanku masuk. .

Kupikir sekolah ini besar, namun ternyata tidak. Hanya ada lapangan kecil didalamnya, dan beberapa ruang kelas mengitarinya. Anak-anak melihat ke arahku datang dengan heran. Mungkin mereka pikir; siapa orang ini yang berani-beraninya masuk diarea mereka. Mirip serial Highschool Madness. Ada beberapa geng disekolah ini, dengan satu bos yang berkuasa, semua orang takut padanya, tidak menghargai guru, berbuat sesuka hati hanya karena ia anak kepala sekolah. Klise bukan ? Tapi ya.. itu nyata.

Ada beberapa anak berteriak “Ada cewek cantik masuk kelas, dia guru!” kupikir mereka sedang membicarakan aku. Suatu berkah jika mereka menganggapku cantik (meskipun aku berpikir aku tidak begitu), karena paling tidak mereka menjadi tertarik denganku, dan aku juga berharap mereka akan tertarik dengan apa yang aku sampaikan.

Semua siswa sudah masuk. Ada yang bergerombol dibelakang, ada yang bergerombol didepan. Ada yang mengangkat satu kaki, ada yang duduk dimeja. Ada anak laki-laki dan perempuan yang sedang ngobrol (mungkin pacaran), ada anak perempuan yang terus menyisir rambutnya dan membawa kaca kemana-mana. Ada anak yang makan didalam ruang kelas, memukul-mukul meja dan masih banyak lagi.

Pelajaran dimulai.

Hari itu aku mengajarkan pelajaran yang paling mereka benci; Matematika (tentu saja karena aku seorang Guru Matematika lepas). Pada awalnya mereka tertarik dan antusias, aku juga melemparkan beberapa gurauan, dan mereka menanggapinya (meskipun kadang berlebihan). Mereka tetap menggodaku. Seperti ketika aku bertanya siapa yang bisa menjawab soal ini, kemudian mereka menjawab apa yang akan aku berikan jika mereka bisa menjawab, kemudian aku bilang apa saja (karena aku yakin mereka tidak ada yang bisa) dan mereka bilang “Apa aku boleh kerumahmu pada Sabtu malam?” …..

(Yah. Seperti itu misalnya. Bahkan mereka masih anak SMP.)

Mereka terus meminta agar pelajaran dihentikan dan pulang saja (sepertinya mereka sudah tidak menganggapku cantik lagi). Aku menahan mereka, walaupun sebetulnya aku tau bahwa: tidak ada gunanya menahan mereka dengan terus mengajari mereka jika memang tidak ada niat dari diri mereka sendiri untuk belajar.

Aku bertanya pada mereka tentang apa hal yang menarik bagi mereka, dan aku kaget mendengar jawaban mereka.

Hal yang menarik bagi mereka adalah Menikah. Paradoks bukan ? Menikah adalah hal yang menarik untuk setiap orang, aku tau, tapi untuk anak kelas 3 SMP (?) kurasa itu belum saatnya.

Aku paham mengapa. Sekolah ini seperti sekolah bagi para anak-anak yang tidak diterima bersekolah dimanapun dikota ini (aku sengaja tidak menggunakan kata “buangan” karena itu sangat kasar). Sekolah dengan anak-anak yang menganggap “mimpi” adalah omong kosong. Anak-anak yang tidak tau setelah lulus nanti apakah bisa melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas atau tidak. Anak-anak yang meskipun mereka ingin masuk sekolah menengah atas namun rasanya tidak mungkin karena keterbatasan ekonomi. Anak-anak dari keluarga yang tak mengenal apa itu beasiswa, sehingga kondisi ekonomi keluarga merampas hak belajar mereka. Anak-anak dari keluarga yang mungkin kurang paham arti pendidikan. Atau mungkin, dari keluarga yang sangat menomorsatukan pendidikan tapi mereka tidak tau bagaimana cara merengkuh kemewahan itu untuk anak-anak mereka. Anak-anak yang terlanjur mendapat stigma negatif hanya karena mereka bersekolah ditempat ini. Anak-anak yang menganggap diri mereka tidak layak.

Itulah mengapa mereka merasa bisa bertindak apa saja. Karena belajar atau tidak, pintar atau tidak, itu bukan hal yang bisa mengubah nasib mereka. Meskipun itu salah, namun mereka berpikir begitu.

Aku tidak melihat harapan dimata mereka. Aku sedih melihatnya, dan sangat sedih karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.