Tersesat

Zona nyamanku adalah dia yang datang dengan kaos putih pukul delapan malam. Ditengah gerimis mengendarai sepeda motor dengan plat belakang tiga huruf yang menjadi inisial dari judul naskah yang aku tulis dimasa remajaku. Menghampiri untuk sekedar duduk diatas ubin dingin disebelahku tanpa banyak bicara karena masih bersalah dengan apa yang telah dilakukannya sepuluh bulan terakhir. Padahal aku sudah memaafkannya, lebih tepatnya tidak bisa marah berlama-lama.
Ia pula yang mempunyai ego tinggi, melahap ego ku yang kubiarkan kalah setiap berdebat dengannya. Sedetik pertama sebuah tinju bisa mendarat tepat diatas lengannya, namun sedetik setelahnya akan tetap aku yang sibuk melempar maaf agar terus bisa memeluk harga dirinya, lebih tepatnya tidak pernah bisa marah berlama-lama.
Suatu malam yang dingin diatas motornya, kami melaju kencang hingga angin menutupi suara tangisku yang kubiarkan meredam tidak terdengar. Hanya bahu yang naik turun setiap aku menghela nafasku yang mulai tercekat. Pertengkaran malam itu cukup hebat sepertinya, tapi aku memilih untuk tidak mengingatnya kembali karena luka yang sudah tertutup rapi itu ku takutkan akan membasah kembali. Namun satu-satunya yang kuingat malam itu adalah bagaimana aku berbisik kepadanya untuk pertama kali,
“Kamu akan menyesal saat nanti ada orang lain yang datang dan memperlakukan aku dengan lebih baik.”
Sampai saat ini — bahkan setelah hampir dua belas bulan sejak kejadian itu — sayangnya masih dia yang menjadi zona nyamanku. Ketika orang lain datang untuk memperlakukan aku dengan lebih baik, air mataku masih saja jatuh untuknya. Membayangkan — tidak lagi satu atau dua utas, tapi—segunung kenangan yang begitu sulit untuk aku taklukan. Malah justru selanjutnya menjadikan kenangan itu sebagai secarik luka yang kuyup oleh air mata.
Putus cinta tidak pernah menjadi hal yang mudah. Mengusahakan konsep selamanya ditengah pelik yang melahirkan lebih banyak ketegangan diantara kita. Namun ia tidak menyadari hal itu. Hatiku bahkan mencelos sesaat ia memanggilku pengkhianat yang berhak hancur bersama dengan orang yang berusaha melengkapiku, yang secara tidak langsung menggantikan posisinya. Aku tidak peduli apabila kata-kata itu keluar dari orang lain, tapi tidak darinya. Namun tetap saja disela kecamuk pikiranku malam itu, ada sel diotakku yang meyakinkan bahwa ia punya alasan yang jelas hingga kata-kata itu terlontar dengan tegas dari bibir tebalnya. Alasan yang pada akhirnya memang sengaja membuatku membiarkan ego dalam dirinya kembali melahap harga diriku yang kian renta. Tidak dapat berbuat apa-apa.
Hatiku melebur dengan harapan tentang konsep selamanya yang sempat disusun oleh masa muda. Kini tidak kudapati lagi dia sebagai sandaran, melainkan sempat aku tersesat untuk jangka waktu yang begitu lama. Sadarku bahwa — sampai saat ini — hanya bersamanya lah aku dapat bahagia; sebuah kondisi sakral yang kerap diburu seluruh manusia. Namun dalam sisi hatiku yang lain juga tahu bahwa ia akan selalu menjadi zona nyamanku, sebuah zona yang kerap menghalangiku untuk maju.
“Aku bisa lebih baik dari ini.” Suatu hari ku dapati diriku sendiri melakukan self-talking di stasiun kereta dalam perjalanan sepulang beraktivitas. Aku tidak pernah mempercayai bahwa bicara sendiri dapat efektif untuk dilakukan. Entahlah, mungkin selama ini aku terlalu skeptis.
“Aku pantas melakukan apapun yang membuatku bahagia sendiri.” Masih sambil memperhatikan langkahku sendiri dengan tertunduk. Orang-orang lain mulai menyusulku karena bahkan aku sendiri belum tahu kemana langkah kaki ini dapat membawaku.
Kini sudah mencapai akhir bulan kedelapan, aku masih tersesat tanpa sandaran.
Menemukan jalan pulang tanpa dirinya memang tidak pernah mudah.
***
August 31st, 2018 — She’s lost in a coffee shop with jasmine tea on the table.
