Hakikat Teman

Di satu sisi saya senang karena saya bisa mandiri, tidak tergantung orang lain, gerak sendiri, bisa kapan pun saya mau. Disisi lain saya merasa sedih karena tidak memiliki seseorang yang menemani. Kemana-mana sendiri, sepi dan sakit rasanya, meski bebas dan tidak ada perasaan khawatir dan bosan dikala menunggu dan ditunggui. Namun memiliki seseorang untuk bersama, senang juga sepertinya. Yaa menurut ilmu sosial, manusia itu memang makhluk yang saling membutuhkan sesama, bukan. Hal itu membuat saya tak mengerti, sebenarnya apa hakikat memiliki teman, mengerti untuk dimengerti, diperhatikan, memiliki yang selalu ada ketika dibutuhkan, sekedar bermain bersama, foya-foya atau bahkan mengorbankan segalanya untuk teman. Kurang lebihnya begitu yang sering saya dengar, berita, majalah, cerpen hingga puisi karya pujangga ternama. Saya tetap bingung, mencari jawaban pertanyaan level tinggi, yaa tinggi, level hati ini, perasaan, dengan manusia.

Rasanya tak perlu saya jelaskan mengapa saya bertanya, karena tiap kata, perasaan hati ini sangat tak menentu, mengapa tidak, alam pun saling bersama, yaa saya iri, melihat keakraban angin dan dahan pohon yang manari seirama, langit yang setia menunggui hujan, jatuh menetes memberi kekuatan, menyelimuti bumi, menghidupkannya. Kembali saya bertanya, inikah rasanya untuk memiliki seorang teman, karena saya merasa, sesaat ia ada, selebihnya saya sendiri.

Masih menyebutnya teman? mungkin, sementara waktu, entah hanya saya yang merasa, atau dia pun merasa.

tersenyum itu lebih mudah daripada menjelaskan mengapa kamu bersedih, bukan..”
A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.