Annisa Farid
Jul 28, 2017 · 2 min read

Aku menulis ini khusus untuk Tata, sekadar pengingat betapa cantiknya Tata dan betapa Tata dicintai.


Untuk Tata yang cantik,

Pertama, aku ingin bilang bahwa Tata cantik sekali sampai aku iri. Haha.

Tapi beberapa hari ini, aku sadar bahwa aku bahkan tidak pantas untuk iri. Tata berhak atas segala kecantikan jiwa dan raga Tata.

Kedua, aku ingin berterima kasih pada orangtua Tata yang sudah merawat dan membesarkan Tata sampai akhirnya kita bisa bertemu.

Ketiga, aku ingin berterima kasih juga pada Tata (tentu saja!) Karena Tata bertahan hidup sampai saat ini, padahal dunia terkadang rasanya jahat sekali.

Aku sangat mengapresiasi keberadaan Tata di hidupku. Aku (sungguh) belajar banyak sekali dari Tata.

Tata adalah gadis berhati paling cantik yang pernah aku temui,

Gadis paling kuat,

Aku sudah melihat Tata menangis dan tertawa, marah dan kecewa. Aku takjub dengan bagaimana Tata sangat jujur dalam menyampaikan apa yang Tata rasa, dan itulah yang membuatku melihat bahwa Tata adalah manusia paling manusiawi dari semua manusia yang pernah aku temui.


Beberapa hari yang lalu aku sempat menangis ketika ingat Tata. Aku pikir akan sangat berat bagi Tata untuk menerima kenyataan.

Kemudian Tata datang ke kamarku sambil tersenyum. Seketika aku merasa benci pada diri sendiri.

Aku merasa bahwa pikirku begitu dangkal dan kotor — merasa tidak ikhlas atas apa yang terjadi pada Tata, padahal Tata sendiri sudah berusaha keras untuk menerimanya.

Ternyata aku. Aku yang lemah, Ta.

Melihat Tata, (juga Atun dan Aya), rasanya menambah kuat keimananku. Aku benar-benar percaya sekarang, bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambaNya.

Allah yang memilih kita, berarti kita yang mampu menjalani ini semua, kan?

Terima kasih banyak, Ta, sudah jadi kuat — sehingga aku juga ikut kuat.

Terima kasih banyak sudah jadi Tata.

Kejadian kemarin bukan apa-apa selain pendewasaan. Aku tidak bisa membayangkan betapa kuatnya Tata setelah ini. Betapa percayanya Allah sama Tata, sama kita semua — untuk membawa tanggung jawab besar ini.


Tata, mungkin aku bukan teman terdekat Tata. Tapi aku sungguh ingin Tata tahu, betapa aku bersyukur dipertemukan dengan Tata, menjadi teman Tata, bisa berinteraksi dan mengenal Tata secara langsung.

Kalau sekali-dua kali rasa putus asa itu muncul, aku ingin Tata ingat betapa Allah sayang sekali dengan Tata.

Jangan pernah menyerah (ini klise, tapi sungguh! Jangan pernah menyerah);

Jangan juga sekalipun berpikir Tata tidak dicintai.

Aku sayang sekali sama Tata.


Namun di balik itu semua, aku cuma manusia, Ta.

Aku tidak bisa janji bisa ada buat Tata 24/7;

Untuk itu, aku tulis ini buat Tata. Jadi kalau suatu waktu Tata sedih, Tata bisa baca ulang tulisan ini dan ingat bahwa aku sayang sekali sama Tata.

Sudah dulu ya, Ta.

Istirahat yang baik, supaya cepat pulih.

Salam,

Ninis, temannya Tata.

    Annisa Farid

    Written by

    sejak 1996