Aku Tak Mau Jadi Pelupa
Bayangkan! Betapa megerikannya kelak kita melupakan semua memori, peristiwa, curhatan, hingga orang-orang tersayang yang pernah kita alami. Aku tak mau itu terjadi. Sayangnya banyak hal yag terjadi dalam diriku yang saying untuk tidak diabadikan. Sayangnya juga foto dalam instagram berikut caption-captionnya rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa ‘tak ingin dilupakannya’ peristiwa tersebut.
Menulis adalah caraku merekam ingatan setiap peristiwa itu, sama seperti fungsi foto bukan? Mencoba membekukan waktu yang terus melesat lalu kita tak bisa hentikan. Bedanya, jika selembar foto menceritakan lebih banyak, menurutku menulis lebih filosofis, lebih punya alasan, lebih bisa dimengerti tanpa harus mengartikan lewat lapisan teori semiotika, tanpa harus bergulat dengan lambang-lambang dan simbol-simbol yang kita buat sendiri.
Menulis juga salah satu caraku untuk keluar dari dunia keseharian. Terjebak, tersesat kemudian entah berakhir di mana aku akan kembali pada diriku sendiri. Aku ingin punya dunia itu. Sayangnya rutinitas yang transaksional tidak mengijinkan kita untuk menjadi diri sendiri. Percikan, curhatan, keluhan, pujian, kesan, dan pengalaman yang terbersit dalam bena akan sesuatu tidak ingin aku lepas begitu saja. Untuk itulah aku menulis. Mungkin bukan tulisan sastra yang poetic, shopisticated, dan menjual. Aku hanya berharap kelak tulisan-tulisanku akan berpengaruh pada pembaca, entah itu pujian, makian, curhatan, atau keluhan, yang penting ada tanggapan. Karena seberapa kecil pun tanggapan artinya kalian menyeriusi tulisanku.
Ini adalah akun medium pertamaku (mungkin nanti ada beberapa akun, aku pun tak tahu). Selamat membaca dan menyeriusi tulisan-tulisanku!