Betapa Aku Mencintai Budaya Jawa

Annisa Nur Indah
Sep 1, 2018 · 2 min read

Malioboro, Tugu, Kaliurnag, UGM, Sleman, Sayidan, NDX, Via Vallen, Didi Kempot, Sultan Hamengkubuwono X, Merapi, Lempuyangan selalu berhasil membuatku jatuh cinta. Belum lagi orang-orangnya, suasananya, makanannya, unggah-ungguhnya, filosofisnya, ah… aku selalu punya alasan untuk kembali ke Yogya. Meski aku hanya 4 setengah tahun hidup di sana, tapi bukankah yang terpenting apa yang aku lakukan, bukan berapa lama aku disana?! Yang jelas Jogja selalu punya kesan.

Mungkin itulah kenapa setelah lulus kuliah dan memutuskan untuk bekerja di Jakarta, orang-orang sekitarku menganggapku orang Jawa, padahal logatku Sunda (memang aku dilahirkan di tanah Priangan). Bukan berarti aku menihilkan fislosofi Orang Sunda, tapi sayangnya yang lebih kentara adalah Budaya Jawa, walau bagaimanapun aku dewasa di Jogja, jadilah aku lebih mencintai Budaya Jawa. Apalagi salah satu sahabatku ketika di Jogja tak pernah henti menyanyikan lagu Didi Kempot, hingga aku akhirnya tahu seluk beluk sang seniman Jawa kontemporer tersebut. Ditambah lagi perkembangan musik hip-hop dangdut berbahasa Jawa semakin melesat. Semakinlah aku setia dengan lagu-lagu “Sayang… opo kowe krungu, jerite atiku mengharap engkau kembali”-nya NDX dan Via Vallen sebagai tombo ketika aku kangen Kota Pelajar tersebut.

Jogja itu kota seni. Ia tak pernah habis melahirkan seniman-seniman keren nan anti-mainstream yang bukan hanya punya karya hebat, tapi juga punya pemikiran keren. Sebut saja Garin Nugroho, Ismail Basbeth, Kamila Andini, dan nama-nama lain yang selalu saja membuat karya memikat. Belum lagi seniman-seniman indie yang tak melulu membahas kisah-kisah cinta mellow tentang putus-nyambung-LDR-cinta bertepuk sebelah tangan. Kini orang-orang itu jarang aku temui di Jakarta, yah… Jakarta bukanlah kota perbandingan untuk indahnya Jogja.

Sudahlah, jangan ke Jogja dan diam dalam waktu lama! Cukup aku saja yang merasakan cinta pada Jogja dan hingga 2 tahun kepergianku dari Jogja aku belum juga bisa move on. Terhitung minimal 1 tahun sekali aku ke Jogja, apapun alasannya. Ketika kamu sudah cinta sama Jogja lalu sesuatu menuntutmu untuk keluar dari Jogja, Chariril Anwar mungkin akan berkata: “mampus kau dikoyak-koyak rindu!”.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade