Berpesta Dalam Keberagaman

Ariano Edwar
Sep 3, 2018 · 2 min read

Pesta pembukaan perhelatan akbar Asian Games 2018, yang diikuti 45 negara di benua asia yang akan berkompetisi dalam 40 cabang olahraga. Semua saya pikir sepakat bahwa pesta pembukaan itu sangat menakjubkan sangat kelas dunia. Sungguh membanggakan bisa menjadi bagian dari saksi mata tentang sebuah malam menakjubkan yang akan terkenang berpuluh-puluh tahun ke depan.

Pembukaan menakjubkan itu mempertontonkan aksi-aksi kreatif dari anak-anak bangsa terpilih, salah satu bagian yang mengesankan untuk saya adalah saat sebuah panggung megah yang disulap menjadi pegunungan dan hamparan sawah yang luas. Banyak tarian dari segala penjuru tanah air dipertunjukkan, dari sabang sampai merauke semua mendapatkannya bagiannya. Saya termenung dalam rasa haru seketika ketika merenungkan bahwa Indonesia itu indah, sangat-sangat indah, dalam perbedaannya. Ini lah yang membuat Indonesia sebagai bangsa sangat kaya dari negara-negara lainnya.

Namun, setelah malam itu kita seakan lupa apa yang menjadi pesan dari pertunjukkan megah itu. Kita awam kembali dengan kata bertoleransi terhadap perbedaan, yang pada dasarnya sukar dihindari dalam hidup ini. mulai dari perbedaan kecil hingga perbedaan yang sifatnya fundamental. Kita sekali waktu mungkin dapat berbagi bingkisan mie instan yang rasanya sama, namun di lain waktu kita bisa saling gontok-gontokan karena perbedaan selera tentang cara memasaknya apakah dengan direbus atau digoreng. Yah, hanya sebuah hal remeh temeh tentang perbedaan di kehidupan kita sehari-hari.

Ada lagi perbedaan besar lainnya, seperti toleransi terhadap penganut agama yang berbeda tampaknya menjadi hal yang langka hari ini. Setiap orang punya persepsinya sendiri tentang ajaran agama yang dianutnya, tak perlu lah begitu kasar kepada orang lain yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang kita anut. Permintaan untuk mengecilkan suara adzan karena mengganggu kenyamanan salah satu warga masyarakat — yang kebetulan berbeda agama — tak perlu lah dibesar-besarkan. Dimanakah amalan sila ke-empat pancasila saat itu yakni bermusyawarah untuk mufakat. Agama itu mengajarkan kedamaian, persengketaan yang terjadi seperti itu bukankah lebih Indonesia jika diselesaikan secara damai dengan bermusyawarah. Kenapa kita harus saling tarik urat syaraf di dalam pengadilan?

Hasilnya, seperti yang telah lewat, pihak mayoritas selalu menang atas minoritas. Benarkah minoritas selalu dalam posisinya yang salah atau tidak?

Namun, hari ini kita bersatu lagi karena badminton, Indonesia mendulang emas yang banyak dari cabor ini. Saat ini, di titik ini, tidak ada yang mempedulikan dari agama apa kamu? dari ras mana kamu? asal daerah mana kamu?. Semua orang melupakan perbedaan itu dan larut dalam kegembiraan dan bangga karena INDONESIA menang. Luapan rasa bangga keluar dari setiap orang, baik yang menyukai olaharaga maupun dari mereka yang sebelumnya tidak mau tahu tentang event ini. Rasa bangga dan cinta akan tanah air seakan menular dan menjalar di setiap nadi rakyat indonesia. Darah mereka seakan mengalir darah yang sama, baju yang berbeda tak menjadi soal, yang ada hanya Indonesia. Dan, Indonesia menemukan maknanya disana.

Dan, di suatu sudut yang sunyi nan gelap, jauh dari hiruk pikuk luapan kegembiraan pesta. Ada Ibu Meiliana yang duduk terdiam, jarinya sedari tadi tak berhenti mencoret-coret di atas sebuah lantai berdebu, Ia bingung dan gelisah mencari Indonesia-nya yang hilang.

Ariano Edwar

Written by

reach me on twitter @anoedw and Instagram @1993ri