Bilik-Bilik Jendela

Katanya aku hanya jadi 
Penghalang,bagimu aku 
Hanyalah jurang pemisah duniamu dan
Relita yang kejam

Aku,tak pernah berniat menjadi pemisah
Pemisah antara realita dan ekspetasi dunia
Aku bukan penghalangmu
Tapi aku hanya sekedar tanda

Aku nyaman berada disini
Diantara kertas-kertas berbau seni
Skeptis selalu mengekangku
Membuatku mengurungkan niat,
Untuk lebih dekat denganmu

Tak ada yang berarti dalam setiap inci
Tanpa tanda aksara tak berupa
Kata menyambung kata 
Kuikat erat kugenggam sebuah bait

Mereka hanya huruf-huruf mati
Yang berusaha menjemput nyawanya pada kedua matamu;
Karena setiap lembarnya adalah jendela,
Maka aku menyangga,untuk memastikan bait-bait tetap terjaga

Entah kata-kata apa lagi yang pantas
Tapi yang jelas tak ada niatku jadi pembatas
Ataupun jadi pemisah duniamu dan realita
Aku hanya selalu ada di sanubarimu

Aku hanya ingin menjadi teman setiamu
Bersama buku dan aksara-aksara didalamnya 
Aku hanya ingin menjaga setiap bait dalam bukumu
Mungkin aku tidak terlalu penting bagimu
Tapi aku akan selalu jadi teman setiamu
Menjadi pembatas bukumu,yang selalu melekat dalam lembar-lembar ceritamu

Lebih dalamnya,
Bukan hanya teman,
Sudah menjadi perangkat,
Ikatan batin sehidup semati
Tidak lekam oleh ruang
Tapi, kadang
Kita terpisah berkelana,
sendiri

Menata pribadi yang kuat 
Kemudian,
Bertemu kembali menjadi
Pembatas,
Bersama dengan pembatas
Pembatas buku

- Aza, Jee, Jehandut, Ochi, Erwin, Hanna, Nindya, Andhika, Sekar

#wakarsas_jogja #WakarsasJogja_collaboration #meetup_2

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hanna Noverly’s story.