Hal Menyakitkan Dari Seorang Ayah Pada Anak Perempuan Pertama

Hanna Noverly
Sep 1, 2018 · 7 min read

Beberapa teman perempuanku yang menyandang status “Anak Pertama” pernah berbagi cerita tentang apa yg mereka alami dalam sebuah keluarga padaku, dimana aku juga adalah seorang anak pertama. Cerita yang membuat mereka merasa teramat sakit, tapi harus bisa bangkit dan tegar demi ibu dan adik mereka. Disini aku tegaskan bahwa, aku bukan curhat atau apapun hal negatif yang terbersit dihati bahkan pikiran kalian yang akan membaca ini, tapi disini aku hanya sekadar berbagi cerita dan berbagi pengalaman tentang apa yg dirasakan beberapa temenku para anak pertama khususnya perempuan melihat laki-laki yang awalnya sangat mereka cintai dan banggakan perlahan menyakiti mereka sedikit demi sedikit tanpa laki-laki itu tau bahwa anak pertama mereka itu udah peka dan bisa menyium segala ketidakberesan yang terjadi dalam rumah. Aku berharap, apa yang akan aku ceritakan ini bisa jadi sebuah pelajaran bahkan renungan jika ingin melangkah ke jenjang lebih serius (menikah) harus mikirin matang-matang karena akan berdampak pada anak.

Dari cerita atau pengalaman teman-teman ku, aku menarik 3 hal besar yaitu tentang hal Tanggung Jawab, Kesetiaan, dan juga Kerjasama dalam sebuah keluarga. Tiga hal ini adalah hal yang bisa dikategorikan penting adanya dalam sebuah keluarga. Karena keluarga juga tercipta dari adanya rasa “Kebertanggung Jawaban, Saling Setia, dan juga Saling Kerjasama dalam hal apapun.”

Pertama, tentang Tanggung Jawab. Dari cerita-cerita mereka, tanggung jawab hal pertama yang mereka rasakan. Menurut mereka, tanggung jawab itu tidak muncul pada jiwa seorang Kepala Rumah Tangga. Tanggung jawab serasa diabaikan, lalu akhirnya seorang istri lah yang berusaha bersusah payah memback up hal itu. Tanggung jawab apa yg diback up? Tanggung jawab dalam hal ekonomi dan pendidikan anak, 2 hal ini yang paling dominan. Padahal, 2 hal ini seharusnya tuh adalah tanggung jawab seorang Kepala Rumah Tangga. Sedangkan seorang istri, telah disibukkan mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus suami lalu kemudian ditambah lagi harus memback up tanggung jawab seorang Kepala Rumah Tangga. Bukankah ini termasuk memberatkan beban kerja istri? Jujur bagi aku sendiri yang mendengarnya, itu tidak adil. Memang sah aja kalo seorang istri mau bekerja membantu suami dalam perekonomian rumah tangga, tapi bukan berarti suami lepas tangan terus memanfaatkan penghasilan istri juga kan? Itu yang aku maksud sangat teramat tidak adil. Well, temanku sempat mengatakan bahwa dikeluarganya tersirat teori “Uang istri adalah uang suami.” Hahaha kocak sih dengernya gitu. Hello, aku sampai kaget dan bingung juga, sih, dengar teori itu, tidak pernah ada teori seperti itu bahkan di agama pun setahu aku jg tidak ada. Padahal mah yang ada tu “Uang suami adalah milik istri, sedangkan uang istri adalah milik istri.” Bagi mereka para anak pertama mendengar bahkan melihat itu terjadi di rumah sungguh sangat amat menyakitkan sih, bahkan aku sendiri yang mendengarkannya merasakan betapa sakitnya mereka melihat itu terjadi. Sakit hati, marah, ingin memaki, tapi apalah daya anak pertama tuh harus bs terlihat tegar dan sabar demi ibu mereka dan juga adik mereka, hanya demi ibu mereka tidak sedih melihat bahwa anaknya tau apa yang dirasakan ibunya dan demi adik mereka agar tidak ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh kakaknya. Tanpa disadari, sebenarnya seorang ayah tuh udah ngegoresin sedikit luka pada anaknya. Percayalah, sedikit demi sedikit akan hilang rasa kepercayaan, rasa kasih sayang, rasa cinta, rasa bangga, rasa hormat si anak pada ayahnya sendiri kalau ayahnya mengabaikan hal seperti itu. Harusnya tuh ya, seorang ayah tuh bisa bertanggung jawab sesuai dengan tupoksinya sebagai seorang ayah dan suami, berilah contoh yg baik buat istri dan anaknya, apalagi anak pertama yang benar-benar mencontoh langsung orang tuanya. Ajarkan mereka apa itu Tanggung Jawab sedari kecil, melalui kalian sebagai seorang Ayah yang pertama kali mencontohkannya pada mereka.

Kedua, tentang Kesetiaan. Dari cerita-cerita mereka, kesetiaan inilah yang sirna dari hari ke hari. Menurut cerita yang aku pahami, hadirnya sosok pihak ketiga di antara orang tua mereka lah yang membuat mereka mulai hilang kepercayaan tentang “SETIA”. Bagi kami anak pertama, kami teramat peka tentang hal seperti ini. Anak pertama itu bagaikan DETEKTIF dalam keluarga, yang selalu membaca situasi keluarga tanpa ada yang menyadarinya. Silahkan di sembunyikan rapat-rapat, kami pasti akan bisa mencium hal itu dengan cepat dan tanpa diketahui siapapun. Karena, anak pertama itu memang diharuskan terlahir lebih peka terhadap hal apapun yang menyangkut keluarga. Kami sebagai anak tertua, yang berusaha harus bisa paham jatuh-bangun orangtua, dalam keadaan apapun kami harus bisa bersikap tenang dan dewasa. Hal ini yang membuat teman-temanku merasakan sakit hati yang luar biasa dalam. Apalagi ketika laki-laki pertama itu menuduh ibu mereka yang memiliki pihak ketiga, padahal laki-laki pertama itulah yang mempunyainya. Laki-laki yang pertama kali mereka lihat ketika lahir yang juga mereka anggap sebagai “Cinta Pertama” dalam hidup mereka, telah mengkhianati kesetiaan dari ibu mereka dan juga mengkhianati perasaan mereka sebagai seorang anak pertama dan khususnya perempuan. Aku yang mendengarkan cerita merekapun, ikut meneteskan airmata. Aku tau, betapa sakitnya dikhianati. Betapa perihnya dibohongi dan kemudian dituduh seenaknya. Hati seorang perempuan itu seperti kapas, begitu lembut dan begitu halus. Hal ini membuat mereka, teman-temanku trauma untuk mencintai seseorang. Terkadang aku juga berpikir, setega itukah laki-laki pertama dalam hidup seorang anak perempuan pertama menyakiti hati istri dan anaknya? Tidakkah mereka para laki-laki itu berpikir, bahwa ibu mereka juga seorang perempuan? Coba pikirkan, apa yang mereka para laki-laki rasakan ketika ibu mereka mengalami hal yang sama seperti mereka para anak pertama ini? Tidakkah mereka berpikir, bahwa segala hal yang mereka lakukan atau mereka perlihatkan itu berdampak pada anak-anak mereka? Dan akhirnya teman-temanku trauma dalam hal “Cinta” sebab ayah mereka. Mereka bilang,”Seorang Ayahlah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang, tapi seorang ayah pulalah yang mengajarkan rasa benci dan rasa dikhianati.” Hal ini juga, dapat membuat hilangnya kepercayaan, cinta, kasih sayang, dan rasa hormat sang anak pada ayah mereka.

Ketiga, tentang Kerjasama. Mereka mengatakan bahwa, di dalam keluarga mereka tidak terlihat adanya kerjasama antara ayah dan ibu. Baik dalam hal ekonomi, pendidikan, mendidik anak, memberi makan anak, dan memikirkan masa depan anak. Dan menurut mereka, hanya ibu lah yang mengurus segalanya. Sedangkan seorang ayah, mengabaikan hal itu dan lebih peduli sama dunianya dan juga kemauannya sendiri. Padahal ya bisa dikatakan, kerjasama antara ayah dan ibu itu sangat teramat penting tapi nyatanya tidak diterapkan. Hal ini sangat disayangkan ya sebenarnya, berasa ndak niat membina rumah tangga dan hadirnya anak. Setidaknya ya, saling bahu-membahu lah antara suami dan istri dalam hal ekonomi. Jika istri memang bekerja dalam hal membantu perekonomian keluarga ya silahkan, tapi setidaknya suami bekerja juga tanpa melihat besar dan kecil dari sebuah hasil usaha. Karena terkadang hal inilah yang membuat seorang suami itu terlihat lepas tangan dari tanggung jawab. Membiarkan istrinya bekerja, lalu dengan gampangnya suami hanya meminta dari hasil kerja istri. Menurutku sih, boleh aja meminta sebagian hasil pekerjaan istri, tapi bukan berarti segala sesuatu mintanya pada istri, apalagi dengan memaksa dan pakai acara mengancam. Benar-benar tidak etis. Dan harusnya seimbang, antara memberi dan meminta. Kami sebagai anak pertama, merasakan hal ini walau kami tak mengatakannya. Jangan sangka kami ini walau anak pertama, tidak tahu menahu apa yang terjadi dalam keluarga. Mereka sebagai anak pertama itu peka dan paham apa yang terjadi, mereka bukan membela salah satu diantara kalian (ayah dan ibu), tapi mereka membela yang benar setelah apa yang mereka lihat, pelajari, pahami, dan rasakan.

Itulah 3 hal yang riskan terjadi dalam sebuah keluarga. Tiga hal itu adalah hal yang penting dalam unsur membangun sebuah keluarga. Ketika salah satu dari 3 unsur itu tidak ada, sebuah rumah tangga itu tidak dalam kondisi baik dan sehat, melainkan rumah tangga itu dalam kondisi cacat dan tidak baik. Ibarat 3 tiang dalam rumah, jika salah satu hancur maka rumah itu tidak dapat berdiri dengan kokoh malah yang ada hancur juga semuanya. Dan kami sebagai anak pertama, kami memang diam, tapi kami selalu mengamati dan melihat. Kami bukan anak yang bego-bego banget kok. Kami mengerti mana yang salah dan mana yang benar. Mana yang sesuai dan mana yang tidak beres. Mana yang jujur dan mana yang bohong. Jangan karena kami diam, kami tidak tau apa-apa yang terjadi diantara kalian (ayah dan ibu). Kami bukan anak kecil yang bisa dibohongi dan disogok permen agar diam dan merasa masa bodoh dengan apa yang ada disekitar kami, tapi kami telah dewasa, dari kecil kami mempelajari dan melihat apa yang terjadi pada kalian. Mulailah berpikir ketika akan menjadi Kepala Rumah Tangga, jadilah Kepala Rumah Tangga yang baik, yang mengerti keluarga, yang mengerti apa tanggung jawab atau tupoksi seorang Kepala Rumah Tangga, yang mengerti memimpin dan menjadi contoh teladan pada anak-anaknya. Dan ada seorang temanku yang berpesan,”Harusnya para laki-laki itu melihat ke dirinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Sanggupkah mereka menjalankan segala tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah? Sanggupkah mereka menakhodai sebuah kapal itu menuju ke arah yang lebih baik dan bahagia? Sanggupkah mereka menjadi seorang Pemimpin dalam rumah tangga yang akan dicontoh oleh anak-anak mereka kelak? Menikah bukan hanya sekadar status, tapi ada tanggung jawab yang mereka pikul sampai akhir hayat dan itu akan di PERTANGGUNG JAWABKAN ketika mereka di akhirat kelak.”

Pesanku juga sama seperti pesan temanku diatas. Sebelum mengambil langkah untuk menikah dan membina rumah tangga dengan pasangan, silahkan dipikirkan matang-matang tentang segala hal seperti yang disampaikan temanku. Kalau memang tidak sanggup, ndak usah memaksakan untuk menikah. Menikah itu tidak ada keterpaksaan, nikah itu bukan hanya sekadar ganti status, nikah itu bukan hanya sekadar bisa berduaan dan menjauhi zina. Tapi menikah itu tentang 2 manusia dengan 2 kepribadian yang berbeda dijadikan satu dalam ikatan yang suci dan sakral depan Tuhan, dengan niat ibadah dan menyempurnakan separuh agama. Dimana dalam menikah, ada hal-hal baru yg akan dijalani. Dimana seorang suami, kini tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, melainkan terhadap istri dan juga anak-anaknya. Tapi jika memang belum merasa siap menjalani segala tanggung jawab dan kewajiban menjadi seorang suami, lebih baik jangan memaksakan untuk menikah. Silahkan berpuasa, sebab berpuasa bisa mengendalikan hawa nafsu.

Semoga dengan apa yang aku sampaikan ini, bisa dimengerti buat siapapun yang membacanya. Silahkan direnungkan dan intropeksi ke diri sendiri. Bagi kalian yang membaca ini, coba dipikirkan dengan baik segala sesuatunya. Apakah kalian sudah sanggup dan mampu menjalankan tanggung jawab dan kewajiban dalam pernikahan? Aku harap, apa yang aku sampaikan ini menjadi sebuah pelajaran seseorang yang akan menjadi suami dan ayah. Jujur dari hati yang terdalam, aku sedih dan aku kasihan mendengar cerita mereka. Aku merasakan apa yang rasakan, tapi kami harus tetap kuat, harus tegar, dan harus bisa lebih dewasa didepan siapapun padahal hati kami sangat teramat rapuh dan sakit sebab hal ini. Jadi anak pertama itu tidaklah mudah dan se-menyenangkan yang orang-orang pikirkan. Aku sebagai anak perempuan pertama merasakan suka, duka, dan juga beban jadi anak pertama, maka dari itu aku bisa berkata seperti ini.

Terima kasih sudah mau membaca tulisanku….

-01 September 2018, HN-

    Hanna Noverly

    Written by

    Menulislah apa yang kamu rasakan, karena terkadang apa yang kita rasakan susah untuk diungkapkan.