Perihal

seringkali aku ditegur prasangka
ia yang gemar menduga asa
bodoh, sapa nya
yang ku balas dengan anggukan sederhana

kosong
hampa bagai janji pejabat tua

hingga aku mulai memungut puisi
sajak yang mengusik benak sedari tadi
ia memohon perhatian, merenungi perihal

lalu ia mulai tertawa
terbahak bahak seperti dalam sandiwara

dan aku benci tawa itu, 
menjengkelkan,
bising dan menjengkelkan,
nada yang gencar mengolok aku,
lemah sanggupku perihal dirimu,

sebenarnya apa maumu? tanya ragu yang gemar menguping
sebenarnya apa mauku? jawab aku yang hanya bergeming

salah ku? salah mu?
atau salah waktu yang tak pernah setuju?

perihal diriku? perihal dirimu?
atau perihal kita yang selalu terbelenggu?

ah, tidak bosan bosan aku bertanya
walau jawab masih malu tuk unjuk dirinya

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.