a l a s a n
Kadang-kadang, keringat meluncur licin di balik pakaian katun berwarna hangat — hitam, cokelat, abu-abu, biru tua — warna kesukaanmu karena nona muda yang tangannya tak kau biarkan terlipat di depan dada banyak tingkah. Kau jadi tidak bisa berdiam diri juga; turut mengikuti apa maunya. Tidak jarang, tawamu menubruk udara padahal raut wajah anak perempuan sulung dari rumah nomor kembar tujuh itu sudah persis bola-bola kertas; banyak kerutnya karena kesal.
Kadang-kadang, nona muda yang sulit kau tebak apa maunya hingga kata tak bisa lagi kau suarakan, berpikir tak hanya sekali soal nanti-nanti. Dulu, sehari tiga kali — persis waktu makan. Jauh sebelumnya, kelewat sering. Lantas akhir-akhir ini, dia lebih kerap memikirkannya dengan helaan nafas. Seakan tengah meminta pada gegap gempita atas jawaban-jawaban. Kemudian, tanya berupa; ‘Alasan masih bersama, apa?’
Penyuka warna biru dan kuning itu tak jarang berkata; ‘Mungkin karena memang masih harus bersama.’ Namun lambat laun, rasa-rasanya tidak demikian. Ada sesuatu yang lebih dalam. Jauh kelewat dalam ketimbang palung di pantai selatan sana. Atau, jika disebut sebagai ‘rasa’ kelewat berlebihan, mari sebut sebagai alasan; pondasi akan kebersamaan atas perasaan mengikat yang bahkan jika diingat, tidak pernah dideklarasikan gaungnya pada udara.
Maka, jika ditanya alasan mengapa masih bersama meski kemarin, dulu, tangis mudah mengucur bak hujan di tengah langit biru alih-alih mendung menggulung, akan lebih tepat karena rasa yang sama. Kala marah merekah dengan warna merah menyala, rasanya tak akan berkobar kelewat lama. Perkaranya tak lagi siapa yang berperan sebagai air dan siapa yang jadi bara api tak mau padam. Tidak lagi jua mengangkat beban-beban perkara entitas lain.
Walaupun tidak juga bisa dikatakan bahwa rasa takut yang meletup persis jagung dalam pemanas makanan, tidak juga larut. Seringnya malah menghimpit dan membuat dada sesak bukan main.
Ah, sebenarnya ini hanya sebuah rangkaian kata kalau-kalau nanti badai datang dan rasanya ingin mengurung diri dengan tangis, agar nona muda yang kerap mengumbar tawa ini sadar benar bahwa dia sudah banyak belajar, lebih-lebih soal mengendurkan karet yang menggelung egonya erat jika berhubungan dengan perkara kasih. Urusan bersama, tidak bersama, adalah urusan-urusan yang tidak bisa dipikir atau dirasa-rasa. Juga, tidak melibatkan entitas lain, meski entitas tersebut faktor yang membuat hubungan ini lebih baik — atau malah sebaliknya.
Terima kasih, ya, kepada seorang yang bersama dengan nona satu ini hingga saat ini. Terima kasih juga, kepada orang-orang yang hadir sebentar dan membuatnya lebih membuka mata atas rasa-rasa baru. Terima kasih juga khususnya untuk nona ini juga, yang masih mau bergegas membuka mata dikala kantuknya sudah hilang, alih-alih memilih menyerah dan membiarkan raganya digerogoti kalut menyedihkan.
Terima kasih karena masih menemukan alasan hidup dan sudah semakin tahu hal yang ingin, tidak ingin, baik, dan tidak baik, untuk dilakukan.
Terima kasih, ya.
Terima kasih banyak.
Kamu hebat!