APA YANG KU PELAJARI DARI SEKOLAH FOTOGRAFI

Jika saat ini setiap orang dapat melakukan foto menggunakan Digital Camera ataupun iPhone dan menghasilkan foto yang menawan, apa gunanya mengejar gelar sebagai fotografer? Dengan melimpahnya foto-foto dari website seperti Instagram, apa yang membuat hasil foto kita terasa istimewa? Bagaimana kita dapat dikenal sebagai seorang fotografer? Jawaban singkat dariku adalah ketika aku mengambil course fotografi, aku diajarkan untuk tidak concern menjadi yang terbaik, karena hasil foto bukan mengenai bagus atau tidak bagus, tapi lebih memaksa diriku untuk berpikir tentang pesan dari foto tersebut. Fotografi itu mengenai menyampaikan perspektif kita melalui sebuah gambar.

Kenapa aku menulis tentang ini?

Hasil foto seseorang dapat menceritakan begitu banyak tentang orang tersebut. Secara sekilas, mungkin kita hanya melihat fotografi itu seperti terjemahan dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari, seperti dokumentasi apa yang orang makan di pagi hari, dokumentasi dari kaki maupun kuku jari, atau mungkin pakaian yang digunakan. Jika kita perhatikan, mungkin foto-foto tersebut terlalu mainstream. Tapi, menurutku orang-orang tersebut berusaha untuk dekat dengan setiap yang melihat foto tersebut. Dan mari kita jujur pada diri sendiri, apakah kita juga sering berbagi momen seperti yang aku sebutkan diatas untuk mendapatkan perhatian? Jawabanku adalah ‘IYA’. Apakah kita memikirkan kualitas gambar dari foto tersebut? ‘TIDAK TERLALU’. Jaman sekarang, kita semua sedang diundang untuk menjadi penonton dari foto-foto seperti itu. Dan yang paling penting adalah, bahwa kita memberikan hak kepada penonton-penonton tersebut untuk memasuki area pribadi kita.

…To take a photograph is to participate in another person’s (or thing’s) mortality, vulnerability, mutability. Precisely by slicing out this moment and freezing it, all photographs testify to time’s relentless melt. — Susan Sontag

Menurutku, selfie bukan sekedar mengambil gambar portrait dari wajah kita. Selfie dapat menyampaikan kepada orang bahwa kita memiliki rasa humor, atau mungkin kita sudah mulai memperhatikan penampilan kita, sehingga kita dapat dengan bangga mempresentasikan diri melalui foto selfie.

Foto landscape dapat menyampaikan kepada penonton bahwa kita sedang melalui suatu pengalaman yang berat secara emosi dan membutuhkan free space.

Pet Photography dapat memberikan pesan kepada orang, bahwa kita menghargai suatu nilai persahabatan, atau bahkan kita sedang membutuhkan sahabat.

Ingat, bahwa setiap hasil foto kita merupakan serpihan-serpihan dari apa yang ada dalam pikiran kita. Dan lebih mudah menggambarkan fase kehidupan kita melalui serangkaian foto. Ketika kita share sebuah foto, kita sedang mengundang orang lain untuk menilai, dan belajar dari foto tersebut.

Photography has become a means of fantasy, belonging, and adventure…

Kadang-kadang orang sudah senang dengan hasil foto momen happy mereka. Dulu, aku khawatir melihat hasil fotoku sendiri, dan bahkan pada saat harus mempresentasikan hasil fotoku, aku merasa hasil fotoku tidaklah bagus. Tapi aku terus-menerus mengingatkan diriku sendiri bahwa foto-foto dapat memberikan dampak yang positif terhadap orang lain; mungkin saja dapat menginspirasi orang lain untuk mencoba sesuatu yang baru.

Oleh karena itu, berhenti untuk posting suatu foto untuk mendapatkan ‘like’ dari orang lain, tetapi posting foto untuk mengundang orang lain menikmati foto yang dihasilkan. Hashtag digunakan untuk bergabung ke dalam suatu percakapan, bukan untuk mendapatkan followers. Perspektif kita jauh lebih berharga dibanding apa yang kita pikirkan. Perspektif kita menceritakan kepada orang lain bahwa kita peduli terhadap sesuatu. Kita akan melihat bahwa tidak semua orang setuju dengan perspektif kita, tapi kita akan terkejut juga melihat berapa banyak orang yang mendengarkan kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.