Kak Rahman di Sabtu Pagi

Ini adalah ceritaku tentang pagi yang dingin di hari Sabtu. Saat semua orang sibuk mempersiapkan OHU, saat maba-maba masih berkumpul untuk mencari unit, saya datang ke ITB untuk melakukan sebuah wawancara.


Rasanya saat itu waktu menunjukkan pukul 08.45, saya bertemu dengan teman saya Steve di selasar Barat gedung CC Timur. Saya telah membuat janji untuk melakukan wawancara pukul 09.00 dengan kak Rahman di selasar gedung CC Timur. Kami seharusnya melakukan wawancara berdelapan, namun sayangnya ada seorang dari kami yang terlalu sibuk dan menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan stand OHU unit miliknya, hingga akhirnya kami melakukan wawancara hanya bertujuh.

Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 09.00 dan baru saya dan Steve saja yang telah duduk melingkar dengan kak Rahman. Sebagian dari teman saya bilang di mpc (multiple chat) kalau mereka sudah di jalan, ‘otw’ katanya. Hingga akhirnya kami berkumpul berenam pukul 09.15, walaupun sudah ngaret namun tetap ada satu teman kami yang lebih telat karena kesibukan rumah tangga, mengingat dia memang tinggal di Bandung. Namun untungnya saat wawancara tepat akan dimulai, dia tiba di tempat dengan nafas terengah-engah dan muka lega, diapun meminta maaf karena keterlambatannya. Katanya dia terlambat karena diharuskan mengantarkan adiknya ke sekolah terlebih dahulu sebelum pergi ke ITB. FYI aja nih, teman saya yang kita bicarakan dari tadi adalah kortang (koordinator angkatan) kami, Ahmad Rizal Alifio yang kerap dipanggil io.

“Kortang Kita!!” — Muhammad Aditya Hilmy

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG,

Awalnya wawancara kami dimulai dengan kak Rahman memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Halo aku Rahman, nama lengkapnya Abdurrahman. Asal dari Jember, kalau gak tau Jember itu di mana, Jember itu deket Banyuwangi. Kalau gak tau Banyuwangi itu di mana, itu deket Bali.”, canda kak Rahman. Kak Rahman menghabiskan masa kecilnya hingga kurang lebih berumur 12 tahun. Lalu merantau ke Semarang untuk melanjutkan pendidikan di jenjang SMP dan SMA. Selanjutnya menetap di Bandung untuk melanjutkan kuliah di ITB dan masuk jurusan Informatika. Sekarang ini kak Rahman sedang menjalani tahun ke-empat di ITB, dia merupakan mahasiswa IF (singkatan informatika) angkatan 2015 dengan NIM (Nomor Induk Mahasiswa) 13515024.

Selesai kak Rahman memperkenalkan diri, kami diminta memperkenalkan diri pula satu per satu. Peserta wawancara kak Rahman di pagi hari ini ada tujuh orang, yaitu: Ijun, Didit, Akhmal, Ajeng, Steve, Johanes, dan Io kortang kami. Dalam perkenalkan kami, selain diminta menyebutkan nama lengkap dan panggilan kami juga diminta menyebutkan asal daerah, hobi dan komunitas dan club yang akan kami ikuti di HMIF. Salah satu hal yang menarik yang disebutkan teman saya Akhmal adalah hobinya merenung, dan semua orang tertawa saat mendengarnya.

“… hobinya…, merenung.” — Akhmal Iswara Adjie

SAATNYA MEMULAI SESI WAWANCARA KITA…

Hal yang sudah sangat jelas, karena namanya juga wawancara, sudah dipastikan akan ada banyak tanya jawab diantara narasumber (kak Rahman) dan pewawancara. Pertanyaan pertama yang diajukan dalam sesi wawancara ini berasal dari Didit. “Itu bisa ganti komunitas gitu gak sih kak?” (gitu-gitu gimana dit?), tanya Didit ke kak Rahman di tengah-tengah sesi perkenalan diri. “Boleh, boleh, aku bolehkan ya.”, jawab kak Rahman. Apakah kalian merasakan sesuatu yang aneh dari jawaban kak Rahman? “aku bolehkan ya”, emangnya kakak siapa?

Saya baru menyadari satu hal. Ternyata kak Rahman ini, sangat mudah tertawa. Mulai dari hal-hal kecil yang diucapkan hingga tertawa bahagia karena sebuah lelucon.

Taukah kalian, ternyata kak Rahman ini adalah kadept, ketua departemen, internal di HMIF (Himpunan Mahasiswa Informatika)? Dengan alesan itu lah kak Rahan dapat dengan confident-nya bilang “aku bolehkan ya”, walau sebenarnya internal gak ada hubungannya sama komunitas sih. Saat kami mengetahui fakta tersebut, “Oh.. bener juga, pantesan pernah liat.” “Hah, yang mana? pernah liat di mana?” “Itu loh pas pengenalan badan HMIF, pas kita jalan muter-muter.” Kami saling berdiskusi membicarakan saat pertama bertemu kak Rahman di SPARTA (nama kaderisasi dari HMIF untuk calon anggota himpunannya). Kami pertama kali melihat dan mengenal kak Rahman saat SPARTA 04 (kaderiasi hari ke-empat) di saat kami dikenalkan dengan departemen-departemen dan keorganisasian di HMIF.


JAIL BANGET SIH

Merupakan sebuah kejutan bagi kami kalau kak Rahman ini orangnya usil banget. FYI nih, setiap kali kami ingin melakukan wawancara biasanya kami akan diberikan syarat wawancara. Kak Rahman ini memberikan kami syarat yaitu meminta kami masing-masing untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke salah satu temannya yang berulang tahun senin kemarin, namanya kak Candra Hesen (fakta unik lainnya nih, kalian gak berpikir kalau kak Candra itu cowo kan?).

Setiap dari kami ditanyai kak Candra, siapa yang menyuruh kami memberikan ucapan selamat. Jelas kami menyebutkan nama kak Rahman karena memang diminta demikian. Namun kami semua diminta mengirimkan pesan-pesan aneh dan berbeda untuk kak Rahman dari kak Candra, salah satunya adalah ‘Kamu bukan temen lagi’. Saat kami bertanya kepada kak Rahman sebenarnya kak Candra itu siapa, kak Rahman menjawab kalau dia adalah teman seangkatan kak Rahman yang memang sangat sering kak Rahman jailin.

Ternyata kami juga pernah dijailin kak Rahman secara tidak sadar. Seperti yang saya katakan tadi, di SPARTA 04 kami berkeliling kampus ITB untuk mengenal departemen-departemen di HMIF salah satunya adalah departemen internal yang diketuai oleh kak Rahman. Saat kelompok saya (kelompok pada SPARTA 04) sampai di bagian departemen internal, kami diminta mengabil lotre yang berisikan nomor. Setelah kami mengambil satu, kak Rahman mengatakan, “Karena kalian mendapat nomor 1, maka kalian harus menunjukkan yel-yel kalian!”. Di sana lah letak kejailan kak Rahman kepada kami.

Saat di tengah wawancara, kak Rahman mengaku jujur dia pernah jail ke kita. Katanya saat permintaan menunjukkan yel-yel, itu merupakan murni keinginan kak Rahman tanpa ada hubungannya dengan nomor yang kami ambil. Jadi kak Rahman bercerita, kelompok yang awal-awal tidak diminta mengambil kertas lotre. Namun karena kak Rahman merasa bosan maka dibuatlah sistem demikian. Kami diminta mengambil salah satu gulungan kertas dan melihat nomor yang tertera di kertas yang ternyata tidak peduli mau nomor berapa pun yang kami dapatkan, kami akan tetap disuruh menunjukkan yel-yel kami.


KEMBALI KE WAWANCARA

Akhirnya kami kembali melanjutkan sesi wawancaranya setelah selesai mendengarkan cerita dari kak Rahman. Kak Rahman bercerita lagi tentang SPARTA waktu angkatannya, ternyata kak Rahman ini seorang panitia lapangan untuk acara OSKM (semacam event penerimaan mahasiswa baru di ITB). Oleh karena ini kak Rahman sangat sering absen SPARTA untuk ikut diklat (pelatihan panitia) dan tak jarang juga absen diklat untuk mengikuti SPARTA. Menurutnya momen-momen yang telah ia lewati saat itu sangat menyenangkan. Katanya, saat OSKM tahunnya (waktu itu namanya Integrasi) ada helikopter dengan Pak Kadarsah Suryadi yang mendarat di lapanga Sabuga. (Wow!)

Lalu kak Rahman melanjutkan bercerita tentang saat dia menjadi panitia SPARTA untuk kaderisasi angkatan 2016. Menurutnya SPARTA saat itu sangat selo (santai) dibandingkan dengan SPARTA angkatannya. Kami juga banyak bertanya tentang angkatan kak Rahman dan angkatan-angkatan lainnya yang kak Rahman tau. Misalnya soal kortang (koordinator angkatan) dan ketangnya (ketua angkatan). Faktanya, kak Rahman adalah ketang dari angkatan 2015.

Kami juga membahas soal Teleskrin Ganesha, sebuah OA yang aktif dan viral di LINE. Menurut kak Rahman, info dari Teleskrin sebenarnya bermanfaat, namun karena manfaatnya tidak untuk umum jadi terkesan kurang baik. Lalu berlanjut dengan membahas kepanitiaan OSKM tahun ini dan tahun 2015 karena salah satu anggota wawancara kami adalah seorang panitia non lapangan untuk OSKM, Io.

Topik selanjutnya yang kami bahas adalah soal tugas-tugas yang diberikan oleh panitia SPARTA. Tentang proses pembuatannya dan hasilnya. Kami juga membahas soal makrab (malam keakraban) yang merupakan salah satu tugas dari DAEMON (pengawas kegiatan SPARTA, kak Rahman juga seorang DAEMON). Kami bercerita kalau kami sempat beberapa kali diperingati dan dimarahi warga sekitar karena terlalu ribut dalam menjalankan acara. Jelas sih kami bakal terdengar ribut, kami yang hadir ada sekitar 170 orang di sebuah rumah berlantai dua yang kecil dan bertempat di sebuah komplek perumahan. Akan lebih aneh lagi kalau tidak ada warga yang menegur.


AKHIRNYA ENDING

Nah akhirnya ending juga. Akhir wawancara kami diisi dengan beberapa quotes dari kak Rahman untuk UNIX (nama angakatan kami). Beberapa diantaranya adalah:

“Aku gak memaksa kalian untuk selalu sibuk ngapa-ngapain, tapi usahakan kalian tau mau ngerjain apa dan pekerjaan itu, maksudnya bukan pekerjaan sih, aktivitas itu bermanfaat buat kalian.” — Abdurrahman
“Pasti dalam hidup banyak hal yang gak kalian suka. Kalau bisa kalian tau kenapa kalian gak suka dan memang itu gak membawa hal yang baik, dan dipastikan kalian memang gak suka, tapi jangan sampai kalian gak suka cuman karna ngeliat luarnya doang, mungkin banyak manfaatnya buat kalian. Jadi kalian harus mencoba dulu.” — Abdurrahman

“Mungkin segitu dulu dari aku. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya buat wawancara. Semangat SPARTA-nya, aku tunggu kalian di himpunan!”, kata-kata terakhir kak Rahman menutup wawancara kami di pagi hari ini Karena waktu telah tepat menunjuk pukul 10.00 yang berarti sudah 45 menit berlalu sejak wawancara dimulai dan karena kak Rahman memiliki kesibukan lain di sekre (tempat kediaman biasanya buat berkumpul atau mengerjakan tugas).

Jadi sekian dulu cerita dari saya. Terima kasih telah menyempatkan membaca :).

List peserta wawancara kak Rahman:
Johanes 16517074,
Mahanti Indah Rahajeng 16517153,
Juniardi Akbar 16517154,
Akhmal Iswara Adjie 16517226,
Ahmad Rizal Alifio 16517291,
M. Aditya Hilmy 16517292, dan
Steve Andreas Immanuel 16517337.

Berikut ini adalah sedikit cuplikan dari sesi wawancara kami.

Mau fakta lainnya? Sudahkah kalian melihat huruf awal yang di cetak besar di setiap paragraf selain paragraf pertama?