Nostalgia

Palembang Tempo Lama

Berjumpa sahabat lama merupakan kebetulan menyenangkan, setidaknya dalam laju kehidupan modern. Sahabat lama yang saat ini bisa kita jumpai secara fisik ataupun maya, setidaknya teknologi telah merubah bagaimana dan dimana perjumpaan itu terjadi — grup whatsapp, facebook, instagram. Perjumpaan yang kita lakukan dengan bertegur sapa melalui rangkaian teks kata atau lintasan imaji yang tertautkan pada profil sahabat lama.

Kesenangan berjumpa dengan sahabat lama ialah saat bernostalgia. Saat dipersekian detik, waktu yang melaju super kencang di lintasan kereta aktivitas super cepat, berhenti tiba-tiba, dan membolehkan kita turun ke peron terdekat hanya untuk mengingat dan bertukar cerita kejadian lampau.

Saat nostalgia, sesaat kita lupa berlalunya waktu atau berapa sisa umur kita. Pikiran yang melayang menempatkan kita dalam dimensi lampau, lalu dalam sejenak itu, kita kembali menjadi muda, segar dan ceria. Energi positif muncul menyemburat, maka tak heran nostalgia seringkali memberikan kita kesegaran, kerileksan, bahkan optimisme sesaat. Nostalgia mampu menarik kita untuk mengenali ulang pecahan serpih eksistensi yang telah pudar dan nyaris hilang tertelan derasnya aktivitas modern yang kita lalui.

Nostalgia bukanlah penegas bahwa kita menua, nostalgia justru mengantarkan kita untuk mendamaikan periode dimana munculnya pertikaian maupun robeknya ego atau eksistensi, seiring dengan langkah kaki di putaran menit,hari, minggu, bulan. Kita lantas lebih bijak melihat dan menyarikan makna dari lintasan terlewati, bahkan secara ekstrim, nostalgia mampu mengantarkan pada visi-visi baru yang meremajakan kembali pucuk-pucuk layu personalitas masing-masing kita.

Tak jarang dalam nostalgia, ada cinta lama yang bersemi kembali, ada kecemburuan yang terobati, bahkan ada senyum yang merekah lagi. Hanya realita yang menjadikan nostalgia, kembali ke baris susunan memori di ingatan kita. Nostalgia juga menjadi salah satu proses defragmentasi alokasi ingatan kita. Walau demikian, nostalgia tidaklah mengubah makna sahabat di kehidupan, sosok yang lekat dan erat dengan perjalanan kita. Nostalgia tidak kemudian meletakkan sahabat di pintu kelawasan, karena kita tak pernah memberikan label itu pada siapa saja yang pernah singgah dan menemani perjalanan hidup,- sulit untuk mengatakan mantan teman.

Nostalgia menjadi jembatan waktu bagi kita untuk keluar sejenak dari derap modernitas dan duduk bersama menghirup udara segar, hangatnya kopi serta ramahnya canda sejenak bersama sahabat kita, di pojok-pojok intim memori eksistensi. Jembatan ini juga mengantarkan kita kembali untuk menatap esok lebih optimis, karena seru-nya derap perjalanan, — selalu lebih seru saat kita bersama sahabat-sahabat kita. Nostalgia mungkin telah coba dicuplik dalam empati yang dituangkan gunawan muhammad di sajak kwatrin tentang sebuah poci. Nostalgia merupakan bangunan ilusi yang terbentuk dan kita abadikan walau kita sadar bangunan itu cukup rapuh untuk lantak saat fana-tiada.

Nostalgia bisa jadi ketakutan kita yang terwujud akan kerinduan pada rumah. Rumah akhir yang diceritakan kitab-kitab kepastian- mungkin neraka atau surga. Kerinduan yang memuncak hingga mendesak kita untuk membongkar ulang ideologi dan memaksa kita untuk mau berpikir — mereka bilang ini pembaharuan. Sisi sebaliknya kerinduan ini juga telah mengubah ilusi menjadi fantasi kemudian utopia yang secara langsung kita cerna sebagai doktrin-doktrin fundamental. Betul, nostalgia berlebihan mampu mengaburkan pandangan, seperti katarak.

Untuk itu cukuplah nostalgia kita jadikan bagian pengalaman estetika kita atas kejadian kebetulan, pesona waktu lampau, dan penghormatan pada waktu. Sesuatu yang tak terduga, menumbuhkan persepsi tambahan atas kreasi kriya manusia.