Keanehan

Edison Ascartes White sama sekali tak menyangka kalau ia, lagi-lagi harus memperhatikan satu hal yang sama di layar laptopnya. Lima tahun silam, ia barangkali tak akan pernah sudi membayangkan masa depan seperti yang sedang ia alami sekarang ini. Terlebih kalau ia sedang iseng membandingkan peruntungannya dengan kepunyaan sahabatnya, Huang Ling Chan, tentu wajahnya akan secara dramatis bertransformasi menyerupai wajah ikan lele yang hidup di kolam buthek tepat di bawah jamban milik engkong rojali.

Tetapi nasib, sebagaimana ditulis di berbagai kitab-kitab suci, roman-roman, magnum opus para filsuf, disertasi-disertasi, dan surat-surat kabar, adalah suatu keniscayaan yang untuk mengubahnya, kita perlu sedikit merayu pemilik kitab-kitab suci tersohor yang kelewat sombong itu.

Edison, pria berkulit hitam, sehitam oli mesin mesran, berpipi bulat kenyal, sebulat dan sekenyal tahu bulat, berhidung mancung, semancung moncong biawak, dan berjiwa pemberontak, seradikal Toussaint Louverture, namun tak berdaya ketika dihadapkan dengan, Wagiyono Cunha Ali-Barzen, seorang tiran, sekaligus senior, atasan, supervisor, sekaligus motivator pribadinya, di kantor.

Baru empat hari yang lalu, sticker Freedom is Slavery yang sengaja ia tempelkan di balik layar laptopnya, demi menarik perhatian Abdul Karim Van Estinberg, dikoyak-koyak secara tidak manusiawi oleh Wagiyono. Alasannya, sticker itu terlampau melodramatik. Tindakan otoriter itu semakin meyakinkan Edison, tentang ucapan Michwngkuwu Ndiaye dua tahun silam tentang totalitarianisme sistem kapitalisme, yang kehadiran dan eksistensi ontologisnya itu lebih menyerupai udara yang kita hirup, kasat mata tapi sungguh mendominasi. Edison, bahkan berani berfikir kalau sebenarnya ia memang tidak lebih semenjana dari seekor lele yang hidup di kolam buthek penuh tinja milik engkong rojali. Lele yang tidak berdaya ketika dipaksa menenggak kontaminasi ramuan air jamban.

Tepat ketika menurun-naikan layar smartphone di laman wikipedia Toussaint Louverture, terbesit secercah hasrat Edison untuk memberontak. Ia lantas ingat nasib sahabatnya Ndiaye yang kini bergiat di industri seblak. Betapa menyenangkannya hidup dengan kegiatan merebus kerupuk, membumbui bakso, mengiris cabai, memanaskan wajan, dan tentu saja mengumpulkan sisa-sisa seblak di piring-piring pelanggan untuk didaur ulang.

Tepat ketika ia mendongakkan wajah, seketika ia segera mengurungkan niatnya.

“Itu terlalu beresiko“, ujarnya dalam hati

Lima hari sejak peristiwa penting ini, atau tepat di hari sabtu pagi, wajah Edison terpampang di koran-koran.

Ia telah melakukan semua tindakan kriminil yang paling mungkin akan membuatnya menghabiskan sisa hidupnya di penjara kota. Edison telah memperkosa teman kantornya, si sintal Abdul Karim, menggigiti jari-jari kaki Direktur Keuangan, Patricia Winothai hingga putus, dan yang lebih buruk, ia telah meracuni minuman Wagiyono dengan perpaduan antara air kencing dan tinja miliknya, dimana sebelumnya ia menelan sebungkus bakteri e-coli dan dua helai bakteri salmonella, dan meniupi pop ice milik Wagiyono dengan asap tembakau tingwe yang ia beli langsung dari petani tembakau di daerah temanggung sehari sebelumnya.

Edison, yang tidak begitu terkesan dengan ide revolusi proletar komunisme atau partai-partai sosial demokratik, memilih untuk percaya kalau kebebasan yang terpenjara adalah sejahanam-jahanamnya hidup, sementara penjara yang membebaskan adalah senikmat-nikmatnya penjara.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.