Ekstase Radikalisme

photo by pinterest.com

dan Mungkinkah Seminar atau Ceramah Mengakhirinya?

Radix bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti akar. Radikalisme, oleh karena itu dapat diartikan sebagai ideologi yang mengakar.

Saya pernah mendengar suatu cerita menarik tentang ini. Tentang radikalisme, tapi dengan bentuk yang tidak lazim.

Kurang lebih sepuluh tahun silam, Maryono dikirim untuk merantau oleh orang tuanya ke Yogyakarta. Tujuannya, tentu sekolah. Merantau, mungkin adalah istilah yang tepat, sekaligus kurang tepat. Kalau orang jawa bilang; bener ning ora pener.

Bilamana merantau didefinisikan sebagai sebuah laku prihatin di suatu tempat asing dengan suatu tujuan tertentu, maka istilah itu kurang begitu tepat, kalau dipakai untuk mengistilahkan apa yang dilakukan oleh si Maryono itu.

Maryono, pada faktanya tinggal bersama keluarga besar orang tuanya di Yogyakarta. Kehidupannya pun boleh dibilang sejahtera, bahagia, tidak berkekurangan. Meskipun ia merantau di usia yang terbilang muda, 13 tahun, alias baru lulus sekolah dasar.

Tapi toh, kadar keprihatinan seseorang dalam merasakan kegetiran hidup itu berbeda-beda. Mungkin saja, si pemuda, meskipun hidup sejahtera, tapi di lubuk hatinya tetap prihatin

Singkat cerita, Maryono ini masuk ke sekolah menengah pertama negeri di bilangan Kota Yogyakarta. Dan setiap hari, ia berangkat dan pulang sekolah menumpang bus kota. Bus kota, pada masa itu, boleh dibilang masih digandrungi anak-anak SMP, tentu saja karena belum ada Bus Trans ber-AC itu. Tapi misalkan Bus Trans sudah ada, toh si pemuda akan tetap memilih Kopata, Aspada, Kobutri, atau malah Puskopkar. Alasannya, tentu privilege. Setiap pilihan yang kita pilih, disamping mengandung konsekwensi-konsekwensi tertentu, juga mengandung privilege. Dan bagi Maryono, memilih Kopata dan kawan-kawannya, berarti memilih privilege untuk bisa merokok di kursi paling belakang bus, tepat di samping si kernet bekerja.

Itu adalah tempat favorit Maryono, tempat yang memberinya otonomi untuk merokok sepuas-puasnya. Kalau pun tempat itu telah diduduki oleh simbah-simbah yang membawa berkarung-karung barang dagangannya, maka ia akan langsung meneropongi kursi-kursi yang ada di samping kaca.

Tapi suatu waktu, semua kursi itu penuh dan terpaksa ia harus duduk di kursi-kursi yang tidak mepet ke kaca. Itu adalah suatu kejadian langka yang sungguh menjengkelkan bagi si pemuda. Bayangkan saja, menumpang bus tanpa merokok. Bus yang setiap 50 meter harus berhenti menurun-naikkan penumpang, dan 10 meter setelah 50 meter itu harus berhenti lagi karena lampu merah dan 25 meter setelah 10 meter dan 50 meter itu harus berhenti lagi karena disitulah tempat bus akan nge-time (ngetem).

Situasi semacam itu memangkelkan, tapi itu bukan yang paling memangkelkan. Bagi Maryono — pemuda SMP berdarah jawa murni, berjiwa melayu, dan penggila buku Kedatangan Dajjal dan Percakapan Jin dengan Manusia — situasi yang paling memuakkan terjadi bilamana ada seorang atau segerombolan biarawati menaiki bus.

Situasi itu barangkali bisa dipahami dalam kacamata politik kontestasi ruangnya Henry Lefebvre, tapi mana mungkin pemuda yang mengenyam pendidikan tingkat menengah pertama tahu Lefebvre. Jangankan Lefebvre, Tan Malaka saja masih asing. Tapi, meskipun masih asing dengan Lefebvre atau Tan, si pemuda membayangkan situasi itu dalam kacamata, Perang Salib. Ya, Perang Salib. Perang Salib karena sebagai pembaca buku Kedatangan Dajjal yang tekun, Perang Salib dan kejatuhan Kristen adalah sebuah impian yang hakiki.

Rasa muak, mual, geli, dan sedikit jijik adalah rasa-rasa yang dirasakan si pemuda, kalau kebetulan menumpangi bus bersama biarawati. Ia — seorang pembaca teori konspirasi freemason, illuminati yang tekun, yang juga mengimani kalau Dajjal itu adalah George W Bush — sebenarnya paling mual kalau membaui bau badan si biarawati, entah itu bau keringat, bau pakaian, atau parfum, yang jelas tubuhnya akan berekasi seakan-akan mau muntah.

Sialnya, beberapa kali, biarawati itu menjejeri duduk Maryono, seolah-olah mereka paham kalau Maryono pasti akan langsung ingin muntah. Biasanya, kalau kursi di sampingnya itu sudah terisi, Maryono akan sedikit bernafas lega. Sedikit, karena kalau biarawati itu berjalan melewati kursi duduknya, meskipun hanya sekelebatan, maka Maryono akan menahan nafas dalam-dalam sampai kira-kira satu dua menitan, karena tentu saja meskipun sekelebat, bau si biarawati itu akan tetap terbaui.

Situasi itu berlangsung selama satu dua tahunan. Rasa mual dijejeri biarawati, tentu adalah reaksi biologis-psikologis tubuh atas akumulasi doktrin-doktrin yang diterima oleh si pemuda tentang betapa kafirnya, betapa najisnya, betapa baunya, orang-orang kafir. Doktrin yang ia telan mentah-mentah ketika mengenyam bangku sekolah dasar di institusi pendidikan dasar swasta terkemuka di sumatera.

Tidak dapat dipungkiri, rasa mual adalah ekstase tertinggi kebencian seorang pemuda SMP terhadap seorang biarawati, atau dalam bahasa kekinian, itu adalah manifestasi tertinggi rasa muak seorang pemuda muslim terhadap biarawati katolik kafir, atau dalam bahasa yang lebih kekinian, itu adalah wujud tertinggi pembangkangan seorang manusia terhadap takdir, atau dalam bahasa yang jauh jauh lebih kekinian, itu adalah wujud intoleransi radikal, intoleransi yang mengakar, intoleransi yang sampai-sampai mewujudkan diri sebagai rasa mual.

Maryono, bukan nama sebenarnya, adalah kawan baik saya. Setelah lulus SMP, ia melalui serangkaian pengalaman berliku, perjumpaan pada berbagai situasi dan lingkar pertemanan yang membuatnya tidak lagi alergi, atau lebih tepatnya mengada-ada, tentang bau suster-suster biarawati itu.

Hikmah dari Cerita

Berbicara soal Radikalisme, saya teringat pada seorang filsuf tersohor asal Italia, Antonio Gramsci. Gramsci pernah mempostulatkan sebuah gagasan kontra-hegemoni yang bernama Perang Posisi. Mudahnya, Perang Posisi adalah strategi revolusi yang menitikberatkan perubahan pada diri seseorang atau kelompok dalam memandang atau mempersepsikan dunia di sekelilingnya. Singkatnya, ini soal merubah struktur berfikir seseorang. Gramsci, dari jauh hari, sudah mewanti-wanti kalau strategi ini akan jauh lebih sulit dilakukan dan tentu saja membutuhkan proses yang lama.

Pengalaman kawan Maryono mengisyaratkan satu hal; kebencian, sentimen, atau apa pun itu, hampir mustahil dienyahkan kalau LSM-LSM itu masih saja mengandalkan serangkaian seminar yang bertujuan membikin tobat para fundamentalis-fundamentalis itu