Makassar, Jumat terakhir di Bulan Agustus 2018
Tiba-tiba saja terlintas dibenakku, bagaimana kelak anakku tahu cara berinteraksi dengan alam jika tanah yang kupijak saat ini tak lagi berwarna coklat melainkan abu-abu ataupun hitam kelam, tak lagi berubaj teksturnya kala rinai hujan membasahinya, bagaimana bisa mereka mendengar kicauan burung gereja di pagi hari dan jangkrik serta hewan nocturnal lainnya jika kendaraan terlalu bising dan memekakkan telinga, bagaimana bisa mereka merasakan sejuknya udara pagi, malu-malunya arunika hingga semilir angin sepoi-sepoi bersamaan dengan tenggelamnya fajar yang menghasilkan indahnya gurat senja, ketika pagi harinya diawali dengan rutinitas yang dapat mengalihkan segala keindahan tersebut dan jalan pulang ke rumah saat petang dimana kemacetan dengan klakson dimana-mana serta perilaku beberapa pengguna jalan yang sama sekali tak ramah karena seperti diriku, energi kami terkuras beberapa jam sebelumnya.
Gas-rem-gas-rem lalu menyalip lalu kembali menarik tuas rem hingga akhirnya lampu lalu lintas memberikan jeda untuk kembali menjadi waras ditengah carut marutnya jalanan pukul lima. Di lampu lalu lintas, saya melihat wajah-wajah yang sangat merindukan rumah. Rumah; tempat menyandarkan segala keluh kesah dimana orang-orang terkasih ada di dalamnya.
Di lampu lalu lintas yang masih berwarna merah, satu menit terasa sangat lama, saya bahkan dapat mengingat beberapa kejadian yang tak ingin saya ingat hingga membuat saya menghela nafas panjang, pun ketika helaanku usai lampu lalu lintas masih berwarna merah. Saya menatap ke sebelah kiri, seorang pengendara roda empat yang jendela kendaraannya terbuka, menopangkan kepalanya di tangan kanannya yang bertumpu pada jendela dan tangan kirinya memegang kemudi. Ia terlalu lelah untuk memalingkan kepalanya, pandangannya tertuju pada perempatan di hadapannya. Saya pun tak peduli. Lampu lalu lintas berwarna hijau, klakson-klakson berbunyi tak berirama, saya menarik tuas gas dan kembali melanjutkan hidup.
