Naylah, Fira dan Afiah
sewaktu mengerjakan display kelas bersama beberapa muridku, Naylah, Fira dan Afiah. Beberapa bunda mengajakku makan siang diluar dan menyempatkan waktu untuk makan es krim dilangganan mereka. Namun, saya berterima kasih dan memilih untuk tetap tinggal di kelas untuk melanjutkan pekerjaan.
Setelah sejam berlalu, Naylah membawakanku es krim dan berkata “Bunda, ini es krimnya bunda dari Bunda Fatma, mintaka bundaaaa” mendengar hal tersebut saya mengiyakan permintaan Naylah, tetapi Afiah dan Fira berkata “makan meki dlu bunda, kenyangpi bunda baru kasiki, bunda” saya mengambil gelas es krim lalu mengambil sesendok dan kembali memberikan gelas itu sambil berkata “Ini, nak. Kenyangmi bunda. Kalianmi saja” “yessss, terima kasih, bunda”
Berada di situasi seperti itu, mengingatkanku pada Ibuku. Saya dapat merasakan apa yang Ibuku rasakan ketika saya meminta makanan yang sangat ingin ia makan.
Saya mencoba menjabarkan perasaan yang saya rasakan tadi siang. Sebenarnya saya sangat ingin makan es krim tersebut, tapi saya sadar jika saya sudah tidak memikirkan diri saya sendiri. Saya bersama anak-anak yang tiap harinya memanggil saya bunda, jika saja kalian bisa merasakan perasaan hangat ketika mereka membagikan kabar atau fakta yang mereka ketahui dengan kalimat “Bunda, masa toh blablabla” “Bunda, ada betulkah itu blablabla” “Bunda, ada mau saya beritahuki blablabla” semua itu tidak dapat tergantikan oleh segelas es krim namun segelas es krim dapat membuat mereka bertiga ceria dan itu sudah cukup bagi saya.
Pernah suatu ketika, seluruh guru pergi ke rumah kepala sekolah untuk mengambil daging pembagian qurban, sedangkan di sekolah masih ada beberapa anak yang masih menunggu jemputannya salah satunya Naylah. Melihat hal tsb, saya berkata pada Naylah “Naylah, bunda ke rumahnya Bu Andi dulu ya nak, beritahu yang lain kalau main di halaman sekolah saja, tidak ada yang boleh keluar gerbang nah.” “iyya Bunda, janganki lama nah!” setelah beberapa menit di rumah kepala sekolah, guru yang lain segera balik ke rumah masing-masing namun saya dan Bunda Ulfa kembali ke sekolah untuk menemani murid yang masih menunggu jemputan. Ketika motor memasuki gerbang, mereka bersorak gembira “yeeee ada bunda”
Saat meninggalkan mereka sendirian di lingkungan sekolah tanpa ada orang dewasa yang mengawasi, saya dapat merasakan ada kekhawatiran dan ketakutan dari sorot mata Naylah, itulah mengapa saya memilih untuk kembali menemani mereka padahal saya bisa saja langsung pulang ke rumah.
Saya berusaha untuk menjadi seorang dewasa yang bisa mereka percaya. Dan itu tak mudah, tapi saya tetap (harus) berusaha.
