Double Major yang Serba Double

Menjalani satu kuliah saja bagi sebagian orang sudah sangat melelahkan. Belum lagi embel-embel organisasi, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan kegiatan ekstra lainnya di dalam dan di luar kampus. Tidak banyak orang yang berminat untuk mengambil lebih dari satu kuliah. “Satu saja udah ampun, mana sanggup kuliah dua,” ungkap Elvira dan empat orang kawannya sesama mahasiswa S1 di Universitas Padjajaran.

Berbeda dari mahasiswa yang mengambil satu kuliah, mahasiswa double major atau yang mengambil dua kuliah harus menjalani kehidupan perkuliahannya serba double. Tidak hanya tugas yang bertambah menjadi dua kali lipat, kesibukan dan materi yang harus dipelajari juga bertambah. Akan tetapi, berbeda dari pandangan orang-orang yang menganggap kuliah double akan terasa sangat sulit, beberapa mahasiswa double major justru menjalani kehidupan dua kuliah mereka dengan baik.

Faris adalah satu dari mahasiswa double major. Faris saat ini menjalani kuliah di jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran (Unpad). Faris mengaku keputusannya menjalani dua kuliah tersebut diambil setelah menerima pengumuman dirinya diterima di Psikologi Unpad. Faris yang saat itu sedang menjalani kuliah di jurusan Biologi dan sudah berada di semester lima merasa sayang melepas kesempatan tersebut. Semenjak saat itu, ia pun menjalani dua kuliah.

Hal yang sama juga diutarakan mahasiswa lain yang tidak ingin disebutkan namanya. Mahasiswa yang saat ini menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad tersebut mengaku dirinya menjalani dua kuliah semenjak diterima di Fikom pada tahun kedua kuliahnya di FIB. “Tahun 2012 ikut SNMPTN lagi keterimanya Fikom, karena kampusnya deketan ya dicoba saja dua. Jadi nggak ada alasan besar sih,” jawabnya saat ditanya mengapa memutuskan mengambil double major.

Alasan yang berbeda diungkapkan Asahi dan Yoga. Asahi yang merupakan mahasiswa Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta dan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, alasannya mengambil dua jurusan karena merasa kurang sreg dan terlalu nganggur di kuliah pertamanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba mendaftar di UGM. Berbeda dengan Asahi, Yoga mengaku mengambil double major karena memang menyukai kedua jurusan yang ia jalani dan merasa lebih baik mengambil keduanya daripada harus memilih salah satu. Alasan tersebut membuatnya mengambil kuliah di jurusan Administrasi Bisnis dan Hukum Universitas Brawijaya.

Niat dan disiplin

Disiplin waktu menjadi hal yang penting bagi mahasiswa yang menjalani double major. Bagaimanapun, waktu mahasiswa yang mengambil kuliah dobel akan lebih banyak tersita untuk urusan perkuliahan dibanding mereka yang hanya mengambil satu kuliah. Keterampilan mahasiswa dalam mengatur dan memilih jadwal kuliah dan pengerjaan tugas antara kuliah yang satu dengan kuliah lainnya menjadi kuncinya. Yoga menyatakan, ia selalu menentukan jadwal kuliahnya di awal sedemikian rupa agar tidak ada jadwal kelas yang bentrok dan disiplin terhadap setiap jadwal yang dibuat. “Mau nggak mau, kita harus punya spirit yang sama pada saat awal memutuskan ambil dual degree sama pas menjalani. Jadi lebih besar di niat, kalau waktu dan segala macam, semuanya relatif kok,” kata Yoga.

Manage waktunya ya pintar-pintar saja sih, sama kemauannya harus kuat. Kalau memang kita nggak bisa mengikuti kuliah karena keterbatasan waktu di tempat yang satunya, berarti kita harus bisa ngejar ketertinggalan materi sendiri. Benar-benar belajar lebih giat, lebih maksimal, lebih dari teman-teman yang lain supaya nggak ketinggalan,” jelas Fidkya, mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB dan Fakultas Kedokteran Unpad.

Banyak Manfaat

Sesuai pengorbanan yang lebih, hasil yang didapat tentu juga lebih. Mengikuti kuliah di dua bidang yang berbeda tentu dapat membantu mahasiswa mendapat memiliki perspektif yang lebih luas. Hal ini diungkapkan oleh Faris. Dengan mengikuti dua kuliah, relasinya menjadi sangat luas dan pandanga akan segala sesuatu juga lebih luas karena hidup di dua lingkungan yang berbeda. Hal yang sama juga dirasakan oleh Asahi. Menurutnya, kelebihan dari mengikuti dua kuliah ialah relasi dan teman yang ia miliki menjadi lebih banyak. Selain itu, wawasannya juga menjadi lebih luas dan nantinya pilihan pekerjaannya juga lebih luas.

Dua kuliah yang saling berkaitan juga menjadi manfaat lainnya dari double major. Menurut Yoga, kedua kuliah yang ia jalani sekarang saling berkaitan sehingga saling menunjang satu dan lainnya. Hal yang sama juga diungkapkan Asahi yang menganggap bahasa merupakan faktor penting dalam dunia kerja saat ini, dan pilihannya mengambil kuliah Sastra Jepang akan memberinya nilai lebih saat akan bekerja nanti.

Mengambil dua kuliah juga tidak membuat para mahasiswa ini jadi pasif dari kegiatan diluar kuliah. Fidkya yang setiap hari bolak-balik Bandung-Jatinangor untuk menjalani kuliahnya mengaku masih aktif dalam organisasi di ITB. Asahi yang juga kuliah di dua tempat berbeda juga masih tetap aktif ikut di kegiatan himpunan di kedua kampusnya, bahkan ia juga sempat mengikuti kegiatan lain di luar kampus sebagai Panitia Pengawasan Pemilu Yogyakarta.

Berbeda dengan Fidkya dan Asahi yang kuliah di dua kampus yang berbeda, Yoga dan Faris yang kuliah di satu kampus lebih aktif lagi dalam organisasi kampus. Faris mengatakan, dirinya bahkan aktif di empat organisasi berbeda tahun lalu. Sejalan dengan Faris, Yoga pun demikian. “Kebetulan aku tiga tahun pertama aktif di Himpunan, pernah di BPM, terus di (Fakultas) Hukum sendiri aku ikut BEM juga, ikut Organisasi Hukum Perdata, ikut Komunitas Peradilan Semu,” papar Yoga.

Menurut Fidkya, jika ingin mengambil dua kuliah harus dipikirkan dengan baik dan matang kelebihan dan kekurangannya. Tidak lupa, jika sudah ada tekad kuat untuk mengambil dua kuliah, harus minta restu dari orang tua. Asahi mengatakan, untuk mengambil dua kuliah harus menjaga semangat. Sementara menurut Faris, untuk mengambil double major harus senantiasa meluruskan niat.

“Karena niat yang menentukan kekuatan untuk bertahan dan carilah teman atau tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah, karena kehidupannya akan keras,” ujar Faris.