Dilan dan Segala Daya Tariknya

Ketika novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 pertama terbit, saya cukup terkesan dengan keberhasilan penjualan novel tersebut di pasaran. Namun, keberhasilan penjualan saja ternyata tidak cukup menarik minat saya untuk membaca novel yang ditulis oleh Pidi Baiq tersebut. Waktu itu saya memang masih menyebalkan, melihat hampir segala sesuatu yang populer sebagai hal-hal yang kacangan — karena tentu saja yang populer itu, katanya, adalah kebalikan dari yang adiluhung. Baru saja beberapa waktu lalu akhirnya saya menyadari bahwa populer tidak berarti jelek. Hanya saja, novel populer memang selalu berkaitan dengan budaya massa sehingga kontennya selalu mengikuti selera pasar.

Alasan dangkal tersebutlah yang membuat saya menjadi malas membaca novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Perlu sebuah pendapat dari sebuah akun Twitter — yang sayangnya saya lupa siapa orangnya — yang bilang bahwa novel ini mengandung gagasan ideologi patriarki di dalamnya, hingga saya akhirnya tertarik membaca Dilan.

Upaya saya untuk menamatkan novel ini tentunya tidak sia-sia. Betapa halusnya gagasan ideologi patriarki diselipkan di dalam novel yang katanya sih, romantis. Kata siapa? Jadi, pada bulan Agustus lalu saya membuat kuisioner daring yang melibatkan 250 responden. Kuisioner ini menunjukkan bahwa sebanyak 54% responden menyatakan ingin memiliki pasangan seperti Dilan, dan sifat yang paling mereka sukai dari Dilan adalah sifat unik dan romantisnya (Aprilia, 2017). Aduh, dugaan saya benar!

Secara garis besar, novel ini bercerita tentang hubungan percintaan Dilan dan Milea pada saat keduanya masih duduk di bangku SMA. Tokoh Dilan digambarkan sebagai remaja laki-laki yang nyeleneh, berani (ada keterangan bahwa dia adalah anggota gangster yang hobinya berkelahi), tapi juga romantis. Cara yang dia gunakan untuk mendekati Milea merupakan cara yang tidak biasa, yang mampu membuat Milea penasaran. Tapi saya menemukan beberapa hal yang aneh dari cara pendekatan Dilan dan penerimaan Milea.

Saya jadi ngeri sendiri mengetahui bahwa apa yang saya baca sebagai gagasan ideologi patriarki ternyata dibaca sebagai suatu gagasan yang romantis. Jenis ideologi patriarki apa yang digagas oleh novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990? Begini, biar saya jelaskan sedikit. Menurut hasil pembacaan saya, jenis ideologi patriarki yang digagas oleh novel ini meliputi kuasa laki-laki terhadap perempuan, oposisi biner yang menempatkan laki-laki sebagai yang aktif dan perempuan sebagai yang pasif, pelecehan seksual, pelanggaran sexual consent, dan juga rape culture.

Definisi pelecehan seksual jika merujuk pada press release yang diterbitkan oleh Komnas Perempuan, adalah

Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual… sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan. (Komnas Perempuan)

Salah satu contoh yang terdapat dalam novel dapat dilihat melalui kutipan berikut:

Dia pasti ngajak bercanda, tapi aku gak mau. Maksudku, aku tidak mau bercanda dengan orang yang belum kukenal. Asli, aku gak tahu siapa dia… ‘Mau ikut?’ dia nanya. Enak aja, belum kenal sudah ngajak semotor. Bagaimana bias begitu mudah baginya? Aku tidak bisa mengerti. (2014: 22)

Kutipan di atas menunjukkan ketidaknyamanan Milea atas sikap Dilan, yang pada saat itu merupakan orang asing, yang menggoda Milea sekaligus mengajaknya untuk naik motor bersama. Meskipun tidak nampak dengan gamblang, namun penjelasan mengenai sikap Milea dapat diasumsikan sebagai penolakan untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan Dilan. Namun, alih-alih meninggalkan Milea, Dilan lanjut menggoda Milea dengan menawarkan tumpangan motor. Gambaran mengenai komunikasi antara Dilan dan Milea yang tampak pada kutipan di atas saya asumsikan sebagai kesengajaan Dilan untuk membuat Milea tidak nyaman dan dapat pula diartikan sebagai pelecehan seksual yang tidak terlihat.

Bentuk-bentuk pelecehan seksual yang terdapat dalam novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dinarasikan dengan nada yang santai. Narasi yang dibangun turut menuntun keadaan pikiran pembaca untuk melihatnya sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa saja. Hal ini tampak pada kutipan berikut,

Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman, bahkan aku gak tahu apa yang harus kulakukan selain terus berjalan. (baiq, 2014: 20)

Kutipan di atas saya asumsikan sebagai cerminan dari realita yang seringkali dialami oleh perempuan hingga saat ini. Maka, novel ini telah memenuhi salah satu kriterianya sebagai novel populer, yaitu merupakan refleksi atas keadaan pada kehidupan nyata.

Ketidaknyamanan tokoh perempuan, Milea, terlihat jelas melalui penuturan di atas. Namun, kalimat setelahnya dibuat agar tokoh Dilan seolah tidak berbahaya,

“Selamat pagi,” katanya. Sebenarnya aku bingung bagaimana harus memahami situasi semacam itu. Aku mencoba menyembunyikan diriku yang gugup. Kulihat wajahnya sebentar, dia tersenyum. Aku menjawab sambil mendorong helaian rambutku ke belakang telinga: “Pagi.” (baiq, 2014: 20).

Dalam narasi tersebut sama sekali tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai ketidaknyamanan Milea terhadap laki-laki asing yang membuntutinya. Tokoh Milea digambarkan mengalami kebingungan untuk memahami situasi ‘semacam itu’. Sedangkan pada situasi serupa di kehidupan nyata, perempuan seringkali merasa tidak nyaman dan biasanya bergegas untuk meninggalkan situasi yang tidak mengenakan tersebut. Namun, pada novel digambarkan bahwa apa yang dilakukan Dilan seolah merupakan sesuatu yang berani dan sopan. Berani karena ia mempunyai keberanian untuk mencoba akrab dengan Milea sang siswa baru, dan sopan karena ia melakukan aksinya dengan tersenyum. Dua hal itu merupakan sifat dari maskulinitas normatif. Jadi, meskipun pada awalnya Milea digambarkan tidak nyaman, pada akhirnya ia menjawab juga ‘sapaan’ Dilan.

Jika kemudian berbagai kutipan di atas — dan tentunya isi novel ini secara general — dianggap sebagai cerita yang romantis, maka kengerian saya menjadi beralasan. Pertama, karena novel ini cukup banyak dikonsumsi dan digemari, khususnya oleh pembaca dengan rentang usia 17 hingga 25 tahun. Kedua, karena novel ini merupakan salah satu novel populer, maka ia pasti menawarkan ideologi tertentu — dalam hal ini adalah ideologi patriarki — yang bekerja dengan cara menutupi, menyembunyikan, dan memutarbalikkan relasi gender di dalam masyarakat (Storey, 2006: 3–4). Jika gagasan ideologi patriarki yang terdapat dalam novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 diterima dengan baik, bahkan dianggap sebagai hal yang romantis, maka itu berarti si konsumen telah berhasil dihegemoni. Artinya, budaya patriarki menjadi semakin dilanggengkan. Bukankah itu merupakan sesuatu yang mengerikan?

Relasi kuasa atau hegemoni yang terdapat dalam novel populer adalah salah satu isu penting dan menarik untuk dicermati lebih dalam lagi. Penting karena siapa yang berkuasa kemudian memiliki keleluasaan untuk menentukan gagasan apa yang akan terus ditawarkan pada masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Storey, bahwa “the text and practices of popular culture are seen as form of public fantasy” (Storey, 2006: 9). Maka, pertanyaan saya selanjutnya adalah, fantasi kelompok mana dan siapa saja yang terus menerus muncul pada novel populer?

Daftar Pustaka:

Aprilia, N. H. (2017). Survei Respon Pembaca Serial Dilan Karya Pidi Baiq. Retrieved from: https://docs.google.com/forms/d/1IOnjtap8XNcdmIBx9U_Ab8kN-RyUdSNYcccwzvblNN8/edit#responses

baiq, P. (2014). Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990: DAR! Mizan.

Storey, J. (2006). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction: University of Georgia Press.