apakah arti rumah menurutmu?

karena ketakutan tanpa alsanku adalah ketika kamu terlalu jauh melangkah, kau lupa jalan pulang. bukan perihal sekarang, namun suatu saat ketika kita merajut ikatan waktu.


aku ingat dulu sewaktu belum menginjak usia belasan, ibu mengatakan, untuk ingat pulang sebelum gelap datang. lantas pernah sewaktu waktu aku melanggar kepercayaan itu dan main hingga berpayung bulan. petak umpet memaksaku tinggal lama di halaman belakang gedung pertemuan, di salah satu daerah di pinggiran kota Jogja. kala itu belum seramai sekarang. jujur ini memaksaku membongkar memoar lama yang ternyata begitu dekat, lekat. lucu, beberapa teman beralasan sembunyi untuk pulang ke rumah hanya sekedar meminum air putih atau ke warung utnuk membeli makanan ringan berhadiah cincin. kala itu aku sembunyi di bawah gerobak penjual mie yang tak terpakai, aku berharap bisa berlari ke arah semula, ketika mendapati langkah kaki pencari mendekat. lama aku nantikan kehadirannya, atau teriakan, “Anin jek pung!” namun tak kunjung terjadi. selama ini kah durasi main petak umpet ala teman-temanku?. aku jengah, mulai bosan ketika kudengar ternyata sudah ba’da isya. aku memutuskan keluar dari tempat sembunyi dan berjalan menuju pos jaga yang dijadikan tempat ‘djitoeng’. tak ada orang disana, aku lari pulang ke rumah dengan memendam kesal yang berlebih.

Cloe Night

aku kecewa terhadap teman-temanku semua, aku kecewa karena sehabis itu aku harus mendapat omelan dari Ibu dan Nenek, aku kecewa karena aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah dan aku kecewa karena melanggar kepercayaan. aku terisak tanpa suara, karena menggeluti sebuah permainan hingga lupa waktu. banyak masalah yang tertunda jika kita menyepelekan hal dasar ini. mungkin temanku benar, mereka pulang sebelum larut. mungkin mereka benar, taat aturan sebelum sesal terpaut. tapi adakah sedikit kata dari esensi “bubar” yang begitu mahal terucap, apa aku terlalu setia berekspektasi untuk mereka mengeluarkan satu kata. terlalu dini aku mengartikan rasa kala itu, sehingga menulis ini akupun mendapat pemahaman baru tentang kepercayaan yang begitu penting, fundamental right. hal dasar yang ber-alas percaya.


coba aku aplikasikan dalam sebuah hubungan percintaan yang kita jalani sekarang, tentu kita menelusuri setiap rangkaian detiknya dengan satu titik tuju yang berbeda. namun kita bersama untuk saling mengingatkan sebuah arah yang kita tak tahu ada di semenanjung mana. apakah itu benoa atau intan? biarkan kita menutup spekulan untuk tetap menjadi misteri. aku tahu kita sama-sama dewasa untuk semakin sadar tentang hakikat dalam naungan pertemuan. lalu mengenai kepercayaan berlabel “petak-umpet” tadi aku rasa kau tahu apa yang hendak aku sampaikan.

kau menjawab satu pertanyaan yang menjadi keresahanku ini pukul 00.18, aku ingat nada suaramu turun menjawabnya. kau memikirkan hal besar yang kau prioritaskkan, dan akupun sama. “keluarga”. itu harga mati, itu harga diri. aku mencintaimu karena itu. malam ini akupun mendapati sikap cinta kepada adikmu, aku bahagia mendapatinya, aku bangga kepadamu wahai juara hati. kau tahu aku bukan orang yang pandai berucap janji, bahkan janji itu menurutku hanya omong kosong karena membumbungkan ekspektasi dan terus menunggu realitasnya, sama seperti faseku yang menunggu dipanggil sang empunya pencari tadi, “andi dadi!” tempat persembunyainku yang tak kunjung terbongkar.

aku tersenyum menulis ini, karena aku bangga pada saat aku mengalami rangkaian peristiwanya. aku mampu membuktikan bahwa aku pemenang untuk diriku sendiri, aku berhasil bertahan sampai di-hina gelap. aku harusnya sadar, aku sepercaya itu kepada sebuah pola aturan. dan kini hadirmu mempertajamnya.

kita aplikasikan sekarang, bila masa bermainmu telah habis nanti dan aku memasuki ranah itu, biarkan aku bersembunyi tak jauh darimu. aku cukup tau untuk bermain aman tanpa menyakiti, dan tau rasanya di curangi dalam sebuah rasa di kemarin hari. jadi aku tak akan mengecewakanmu untuk sekedar mengalihkan sang pencari kita, untuk mengecohnya dan kita sama-sama selamat dalam pemainan. kemudian aku datang ditempatmu bersembunyi dan mengulurkan tangan.

berucap “ayo aku antar pulang”

kau mendongak, tersenyum malu-malu dan mengangguk kemudian. aku tatap mata tajammu dan mengelus pelan kepala itu. kau menyambut tanganku erat, tak ada paksaan berlebih untuk mendorong niat untuk melepaskan jalinan kuat antara nadi bertemu nadi ini.


lalu aku ingin mengajakmu ke warung untuk membeli makanan ringan berhadiah cincin. cincin untukmu dan chiki 500-an untukku, santai saja, ini tak akan menambah porsi lemak di perutku, untukmu sang penyemangat, biarkan aku tahu bahwa masih ada hari esok untuk kita saling bergandengan. saling mencari dan dipertemukan. dan biarkan pagi ini menjadi sebuah hari baru untuk kita sambut bersama. karena cinta dari jogja akan selalu terbit dan tak akan tebenam.

Yogyakarta, 4:35 : 13/3/2017

@di3vo

Show your support

Clapping shows how much you appreciated R C’s story.