masih ada esok

visualtranslation

Aku bodoh jika percaya bahwa tulisan indah bisa menaklukan hatimu yang telah kau selaraskan dengan rasio otakmu. Bagimu, Cinta dan tetek-bengeknya bukanlah hal yang agung, sakral atau suci, persetan romantisme! Akalmu terlalu penuh dengan ideologi yang kau sebut realis. Ya! Percuma membuat tulisan panjang penuh sentuhan cinta di sana sini. Percuma!

Tapi, malam ini aku mencoba jujur. Bukan sekedar menulis tulisan indah. Aku akan menumpahkan semua perasaan dalam deretan huruf yang susah payah aku rangkai. Serius, susah payah demi membisikan rasa syukur padamu. Rasa syukur karena diantara semua lelaki, aku kini tinggal dalam organ yang orang awam sebut hati, tapi kau sebut jantung karena saduran bahasa Inggris “Heart”. Terserah apa katamu, yang jelas hal yang pertama kali akan aku lakukan dalam “pengakuan” ini adalah berkata; Terima Kasih! Terima Kasih sayang.

Siapa aku hingga lancang berkata cinta padamu. Lihat, aku buncit, miskin, kusam, bukan dokter, dan semua hal buruk yang selama ini menjadi “nama tengah”ku. Siapa aku hingga kamu sudi memilih yang buruk diantara yang baik? Kamu selalu berkata, aku sempurna sebagai lelaki, aku pantas digandeng saat kondangan. Seriously, dimana letak idelisme mu yang kau bilang “realis”? Dimataku, kamu adalah seorang yang murtad dari realis, alih alih kamu adalah seorang utopis — mengada adakan yang tak ada- hidup dalam angan-anganmu sendiri.

Sebutlah aku sedang dalam badai -ketidakamanan- High Level Insecurity. Tapi saat ini, akulah yang realis. Jelas aku tahu, sebelum ini nama nama dengan fisik, materi, dan hati yang sempurna telah menawarkan pundaknya untuk kamu sandari, tapi kamu tolak. Dokter? Psikolog? Cocok sekali disandingkan denganmu yang theory-oriented. Jauh nian jika dibandingkan seorang penulis yang kerjanya hanya menulis lamunannya. Sekali lagi, terima kasih kamu telah membiarkan aku bersyukur.

Sayang, aku bukan minder. Aku bukan rendah hati. Aku hanya merasa kurang pantas bersanding bersamamu kelak di depan Altar. Jika boleh aku bertanya padamu, satu pertanyaan saja. Kenapa? Kenapa aku yang kau pilih untuk menghabiskan waktumu? Aneh sekali. Aku selalu berfikir, semua ini karena belas kasihanmu yang ingin kau samakan dengan milik Dewi Kwam In. Sungguh, jika memang itu alasannya, aku memintamu untuk pergi segera. Secepatnya.

Malam ini, sungguh pertanyaan itu berputar-putar seperti Carousel dalam jutaan sel otakku. Bantu aku menghentikan putaran itu sayang. Aku butuh jawaban. Jawaban jujur. Sejujur-jujurnya dari hati, — eh maksudku jantungmu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated R C’s story.