Proklamir

apa yang membuatku membuat ini?
kamu.

kutanggalkan semua spekulasi yang tiada artinya ini dalam kicau sederhana. ada rasa syukur disetiap helaiannya. akhirnya aku bisa menulis menggunakan rasaku kembali. bukan dikejar-kejar untuk publish jam 10 pagi dan melulu mengenai inspirasi yang kadang membuatku mencontek beberapa literasi.

seperti arti cinta yang bergumul tanpa dasar, tak ada patokan pasti, semuanya membuat seluruh jaringan sel hidup, lebih hidup. pemacu semangat dalam seretan waktu. otomatis menggerakkan seluruh pembuluh darah 4x lebih cepat seperti memakai morphin. melebarkan pupil 1,5 kali seperti memandang gelap, karena ada keindahan dalam pencarian ketidakpastian.

halo Mars aku Venus pengAgungmu kini. dalam tatanan surya kita terpisah oleh bumi. namun tak ada alasan menjembatani titik temu kita dalam orbitnya. kita mengenal gaya sentrifugal, suatu saat kita ada dalam titik yang sama dan duduk berdua, seakan tak ada pemisah lagi, lekat. seperti telanjangnya kaki menginjak bumi.

David Tutwiler “Train Station”

lantas aku membayangkan sebelum tidur semalam. aku menantimu di peron kereta. suasana ramai disana, kupandangi jam dinding berdiameter 1 langkah kaki yang terpapang di tengah koridor. ingin mencuranginya agar cepat mendengar informan meneriakkan kedatanganmu dari sana. aku pasti cemas, mengatur nafas, dan berkali-kali membenarkan letak rambutku agar pantas. lemas lututku, bilamana akan ada kecewa di rautmu ketika pertama kali mendapati sosokku yang sebenarnya. kukesampingkan segala spekulasiku dan tetap memperhatikan anak detik berlari-lari di dalam jam. apa yang kurang dariku? aku bertanya pada diriku sendiri, sekadar cari-cari tahu. apa yang bisa aku lakukan untukmu mengenalku dikala mata kita nanti saling beradu. otakku seakan memperintahkan ribuan pustakawan untuk mencari akal di dalam lautan literasi yang tersimpan di otak kanan dan kiri. keringat menetes di kening, segila ini aku sekarang. aku timba nafas perlahan, dan aku usap keringat di kening. berujar:

“dia kadang mengenalku melebihi diriku sendiri, jadi alasan apa lagi yang aku cari untuk dia tak mengetahuiku”

lalu aku santap bulat-bulat lagi waktu, untuk tak lagi segan menerima setiap larian sang detik. aku nikmati sendiri sembari menunggumu disuarakan oleh speaker tua di ujung-ujung peron ini..

Like what you read? Give R C a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.