Soliloquy

Q: apa yang dicari seorang penjelajah di atas kapalnya?
D: sebuah pulau baru yang bisa dijadikannya tempat beristirahat atau sekedar me-namainya, sebagai pengingat bahwa pernah menjejaki daratan tersebut.
Q: lantas daratan seperti apa yang bisa disebut pulau?
D: mm.. luas, mempunyai banyak pohon dan mungkin terdapat banyak sumber daya alam di dalamnya. bilamana pulau tersebut dapat digunakan untuk pemukiman, maka negara baru akan dibangun tak jauh dari pantai. betul?
Q: mungkin, semua rasional, bila kita jejalkan dengan pengalaman.. lantas apakah pulau tersebut mempunyai daya untuk bisa menghadang para penduduk di atasnya untuk tidak berlayar mencari pulau baru lagi?
D: tentu tidak, pulau hanya sebatas benda mati. tapi tidak dengan segala isinya, binatang dan tanaman adalah mahluk dimensi ke 2, jelas hidup!
Q: ok, satu lagi. apakah pulau tersebut tak bisa marah ketika penduduk semakin semena mengoyak tubuh-tubuhnya dengan kesenangan batin manusia di atasnya?
D: bisa, tentu semua bisa masuk akal. sebentar? apa kau bicara konsepsi karma? tabur dan tuai? melakukan dan akan dilakukan, di luar batas sadar diri?
Q: aku hanya bertanya untuk kedua perpaduan dasar, sebuah pulau dapat menyejahterakan mahluk hidup di atasnya, atas dasar?
D: kau tak begitu rasional seperti yang kupikir ternyata. begini, dasar.. sebuah.. pulau.. dataran dan air.. kita menyebutnya kombinasi yang sempurna untuk kehidupan. dasar.
Q: dasar! kau ini lebih tak bisa membentur logikamu!
D: sebenaranya apa yang ingin kau sampaikan dalam tulisan ini..?

syukur.

mati lampu membuatku terhalang berbincang denganmu. aku keluar rumah dengan harapan dapat menjemput sinyal-sinyal yang tersisa. namun sia-sia tersebut hilang ketika aku mendongak ke atas. malam ini cerah, meskipun tanah di bawahku masih basah sisa air hujan tadi sore. di atasku bimasakti nampak terang, tak terhalang awan. starlet warna-warni dalam kedipnya membentuk kanoni pisces. elemen air, siapa lagi yang aku ingat kecuali kau.

air.

yang tak bisa digenggam namun hanya kunaungi. lama kupandang jajaran bintang tersebut, membayangkan kanon apa yang tergambar di otakku. lucu, aku seperti anak sd yang sedang mencari bintang timur dari selatan kota Jogja.

pesan terakhir yang kudapat darimu:

R: Iya ketemu loli
R: Soalnya ntr mau buka kamar di tempat loli syf(g)
R: Udh janjian jg sm loli

tak kuasa aku balas, karena sinyal turut ditelan gelap. sudahlah, aku percayakan kau baik saja di sana selagi kanoni air masih di atas kita. aku tak takut gelap, biarkan ratusan astral maupun mahluk ke 4 mengelilingku sekarang. aku seperti orang gila. masih ada percikan kembang api di mata dan kupu-kupu yang terbang di perutku. aku aman. semoga perasaan ini masih bisa aku bawa untuk mengiringiku menjelajah waktu kedepan lagi.

sebentar

Q: lantas apa yang kau takutkan sekarang?
D: dia bosan atau.. dia marah.. atau.. dia…
Q: dia apa?
D: dia berlayar lagi menuju daratan yang baru, mmm.. bukan-bukan itu.. aku lebih takut dia menemukan naungan yang baru yang justru menjebaknya dia dalam romansa yang menjerat waktu berhasilnya nanti.
Q: hanya itu?
D: tidak.. aku tidak jadi takut :)
Q: kenapa?
D: karena bukankah semesta selalu menghantarkan kita pada cerita yang tak terduga, tak terbatas, biarkan apapun yang terjadi nanti tak membuatku goyah karena spekulasiku sendiri.
Q: kau naif! kau sedang jatuh cinta. logikamu tumpul!
D: biarlah, suatu saat nanti akan tajam sendiri.
Q: bagaimana bisa?
D: bila Tuhan memberikan kita sedikit waktu untuk belajar menghargai waktu tanpa berfikir untuk saling tak menggenggam lagi.
Q: apakah ini ketulusan?
D: bukan, aku bukan orang saleh. sedusta-dustanya manusia adalah bertinggi hati. maka aku menyebut perasaan ini, syukur.

lantas ada bahagia setelah gelap datang, ibu Kartini berkata benar megenai adanya terang setelah gelap. aku hanya diam dalam bahagia, sesederhana itu mengaggumi ternyata. tak ada jengah maupun bosan memandang mata yang sama. bahagiaku bersambut dengan kau yang muncul di layar dan mengucapkan seruan rindu. agak berlebihan untuk menentukan sikap dihadapmu. ada malu, segan, bahkan aku kembali seperti anak SMA yang mengenal first sight impression dalam kata admire. namun ini bukan rahasaia lagi dalam lingkup sekecil aplikasi yang menyuarakan piyu-piyu, ini lucu. bahkan aku masih salah tingkah bertatap denganmu. selalu ada jeda kita untuk beradu mata, tak hirau sekitar yang kadang memperhatikan tingkah lucu kita. namun bahagiaku kini sekarang lengkap. aku harap tanah sepertiku akan lama bertemu dengan air sepertimu. mari buat sebuah peraturan, bahwa aku akan menyelesaikan tulisan ini setelah aku tahu kau sudah mandi hari ini…

Like what you read? Give R C a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.