Menyampingkan ego, demi mereka

“momen dimana membawa orang tuamu tersenyum, adalah momen yang patut di perjuangkan habis habisan”

satu kalimat yang membuat hati saya bergetar, dan mampu menyadarkan kalau saya harus lekas bergegas. saya sadar, saya sekarang berkejaran dengan waktu. dan saya sadar waktu mungkin lebih cepat dari saya. setiap hari, umur saya dan umur mereka sedikit demi sedikit terkikis. dan karna waktu yang mungkin lebih cepat dari saya, mendekatkan saya dan mereka dalam posisi “ketiadaan”. lalu, siapa yang akan menang ? apakah waktu dengan mutlak merebut harapan? atau saya yang memaksa lari mengalahkan waktu dengan menyingkirkan gengsi dan ego ? pertanyaan saya sekarang, apakah saya mampu ? wong saya masih suka mager mageran dikamar, suka main sama laptop dengan kedok mengerjakan tugas padahal entah. saat itu mungkin mata saya tertutup oleh kebahagian semu. namun, karna kalimat tadi, saya sadar. mereka tidak bisa menunggu. “ketiadaan” akan datang membersamai waktu.

lalu, saya mesti apa. saya harus lari bersama siapa dan dengan apa? sampai saya bertemu dengan orang orang yan percaya dengan mimpi saat dini dan mengejarnya tanpa mengenal gengsi. disini saya bukan apa-apa, mungkin posisi saya bahkan bawah sekali, masih membebani mereka, karna saya keinginan mereka mungkin tertunda. karna ego saya yang tidak mau kalah dan ngalah untuk memenuhi keinginan saya, mungkin mereka memutus keinginan mereka dan lebih memilih saya yang egois ini. namun orang-orang yang sekarang di hadapan saya, orang orang yang percaya dengan mimpi dan impian membangkitkan saya dan mengubah pemikiran saya. “saya harus menang, mengalahkan waktu”.

kali ini waktu memang harus di sadari, namun tidak hanya cukup dengan itu, waktu juga harus dijalani dengan cara yang berbeda, berbeda dengan anak anak seusiaku pada umumnya. mungkin, memang asyik, kalau waktu saya di alokasikan dengan jalan jalan ke pantai ke mall, liat festival, nongkrong dan kegiatan anak anak seusiaku pada umumnya. namun, saya punya beban untuk melunasi hutang hutang saya kepada mereka mulai jasa maupun materi. mungkin mereka memang tidak menganggap nya begitu, namun tidak sadarkah, kebahagian saya seharga dengan impian mereka seperti berangkat ke tanah suci, membeli tanah mungkin, memperbaiki rumah mungkin, memperluas lahannya mungkin, membuka usaha mungkin, atau bahkan menunda pengobatannya. karena itu, saya sering mengurungkan keinginan saya untuk mencari kebahagiaan layaknya anak anak seusia saya.

berdiri disamping orang orang yang memiliki impian besar, membuat saya berani untuk mnumbuhkan kembali keinginan saya yang tertunda dan pernah saya kubur dalam dalam karena tidak tau, bagaimana saya akan mewujudkanya. sekarang saya lebih berpotensial untuk menang atas waktu. “mereka tidak lagi muda, begitu pun dengan saya. oleh karena itu menunggu bukan hal yang bijak sama sekali. tidak ada yang tau kapan ketiadaan akan datang “

  • sampingkan sedikitlah egomu, lalu sadar.
Like what you read? Give Ade R.Anjani a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.