Investasi di IGrow

Arba’s Journal
Jun 21, 2019 · 5 min read

Singkat cerita, setelah lama mencari instrumen investasi yang halal, akhirnya saya memutuskan untuk berinvestasi di IGrow.
Pasti kamu sudah pernah dengar IGrow kan ? Kalau belum, itu loh platform Investasi Pertanian yang menghubungkan investor dan petani. Lebih lengkapnya nanti bisa cek link diakhir artikel ini ya.

Kenapa saya memilih investasi di IGrow ?
Jadi begini, awal mulanya setelah mengetahui investasi itu penting, saya kemudian mencari tahu dahulu terkait hukum berinvestasi. Prinsip saya, jika ingin berkah maka harus melalui jalan yang sesuai syariat.

Terus terang, saya pernah jatuh kedalam transaksi mengandung riba bernama KPR, rasanya sangat tidak nyaman, dan hingga artikel ini dibuat saya masih belum bisa lepas karenanya. Mohon doa ya, agar saya bisa lepas segera dari riba dengan jalan terbaik. Aamiin :)

Kembali ke soal investasi. Saya ingat bahwa Umar Bin Khattab r.a. saat menjadi khalifah dulu pernah memberlakukan peraturan bahwa pedagang yang hendak berdagang di pasar umat islam harus mengetahui dulu kaidah halal dan haram agar tidak terjerumus kepada riba.

Terkait aturan Umar r.a. tersebut, rekan pembaca bisa lihat dari sumber yang terpercaya berikut ya :) https://pengusahamuslim.com/5989-regulasi-umar-bin-khatab-dalam-melindungi-pasar.html

Itulah alasan pertama saya, Halal

Nah perlu dicermati, hingga artikel ini saya buat, saya tidak menemukan informasi pihak IGrow tidak memiliki sertifikat atau lisensi terkait pengelolaan dana secara syariah. Namun karena saya mengetahui salah satu pengelola dibalik IGrow yaitu Mas Andreas Senjaya, mempelajari beberapa review netizen salah satunya link ini. Dan juga melakukan review investasi dari websitenya langsung. Saya menilai investasi di IGrow sesuai dengan prinsip syariah.

Bagaimana memang investasi yang sesuai syariah itu ?

Siapa yang mendapat keuntungan harus mau menanggung kerugian.

Jadi sebelum ini saya pernah mempertimbangkan untuk ikut deposito syariah. Namun saya kemudian ragu, karena deposito merupakan investasi yang dijamin. Padahal dalam perjanjian mudharabah, modal tidak boleh dijamin. Jika dijamin, sama saja seperti pinjam-meminjam. Sedangkan kelebihan bagi pemilik dana dari hasil transaksi pinjam-meminjam adalah riba.

Saya merekomendasikan rekan pembaca untuk membaca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi jika ingin lebih banyak mengetahui terkait ekonomi syariah

Kemudian dari sebuah blog, saya mengetahui praktik investasi antara bank dengan mitra pengusahanya juga belum murni syariah. Karena jika rugi, mitra memiliki kewajiban untuk mengembalikan modal kepada bank. Artinya dalam hal ini bank bisa menerima keuntungan, namun tidak mau menanggung kerugian. Maaf, saya lupa nama blog yang menceritakan pengalamannya ini nih hehe. Jika ketemu In sha Allah saya update disini.

Selain deposito, sayapun pernah mau mencoba reksadana pasar uang syariah bukareksa di bukalapak. Namun lagi-lagi ketika saya review prospektusnya, investasinya juga ke deposito. Urung deh saya :D

Tapi bukan berarti semua reksadana syariah demikian ya. Menurut saya tidak semua, ada juga reksadana syariah yang dananya diinvestasikan ke perusahaan barang dan jasa yang halal.

Setelah mengetahui dua instrumen investasi tersebut, saya juga menemukan instrumen lain yaitu P2P Lending Syariah. Dari namanya ‘Lending’, pinjaman dong, riba dong, tapi kok syariah ?

Karena penasaran saya mencari informasi lebih lanjut, kok bisa pinjaman disebut syariah tapi ada keuntungannya ??
Di instrumen investasi P2P Lending sendiri terdapat Amartha, Ammana, IGrow, dan masih banyak lagi. Kebetulan saya baru mempelajari Amartha dan IGrow saja.

Cara kerja amartha yaitu menghubungkan peminjam dengan penerima pinjaman. Nah informasi dari websitenya, sebenarnya sudah jelas amartha menawarkan keuntungan sekitar 15% per tahun dan uang peminjam bisa dijamin. hemm..

Kemudian hasil browsing kesana kemari, saya menemukan cerita pengalaman investasi P2P Lending dari blog Mas Sabda, saya mendapat informasi bahwa amartha menerapkan peraturan angsuran mingguan yang terdiri dari pokok dan laba.

Disinilah yang membuat saya fix untuk tidak berinvestasi di amartha.

Beberapa pertimbangan :

“usaha apa ya yang pasti bisa dapat profit setiap minggu ?”

“kalau rugi ditengah-tengah, kan labanya sudah dibagikan, gimana dong ?”

“bagaimana kalau pengusahanya sakit, ga jualan seminggu ? Kan kalau demikian bukan kelalaian pengusaha, apa pengusaha harus tetap mengangsur periode tersebut ?”

hemm…

Note : Bagi yang sudah mencoba berinvestasi di amartha atau lebih paham silahkan dapat mengklarifikasi di kolom komentar ya apabila pemahaman saya salah :) Kebetulan saya tidak berani mencobanya, karena lebih takut jika ternyata benar riba. Saya sangat berterimakasih jika berkenan mengkoreksi.

Demikian pendapat saya tentang Amartha. Nah, lain halnya dengan Ammana. Di website Ammana dengan jelas mengklaim cara kerja mereka sesuai syariah. Tapi saat artikel ini dibuat saya belum menemukan informasi lebih detail untuk ammana. Mohon maaf sekali. Mungkin kalau rekan-rekan pembaca mengetahui lebih detail, bisa informasikan di kolom komentar ya :)

Nah, sekarang kita ke pilihan investasi saya, IGrow :)

Jika membaca disclaimer di websitenya, rekan-rekan pembaca akan menemukan istilah pinjam-meminjam. Dan saat daftar di ketentuan investasi IGrow akan ditemukan posisi kita sebagai pemberi pinjaman. Lah, pinjam-meminjam lagi ?

Tunggu dulu, sayapun terus terang awalnya ragu dengan istilah tersebut. Namun jika dicermati, semua fintech pengelolaan dana yang saya baca ini, istilah itu selalu ada.

Apa mungkin karena mereka tunduk kepada OJK ? dan ketentuan istilah investasi seperti ini disama-ratakan dalam kategori pinjam-meminjam ? hemm..

Nah, kenapa saya tetap memilih melanjutkan investasi ?

Yang membedakan adalah jaminan.

Di IGrow, hingga saya menulis artikel ini, saya tidak menemukan informasi bahwa dana dijamin oleh perorangan atau lembaga manapun. Inilah yang menjadikan saya yakin bahwa cara kerjanya sesuai syariah.

Siapa yang mendapat keuntungan, harus mau menanggung kerugian.

Dalam mudharabbah, modal tidak boleh dijamin

Tunggu-tunggu …

Kalau modal tidak dijamin berarti resikonya tinggi dong, apalagi modal investasi di IGrow cukup besar dibanding yang lainnya.

Benar sekali.

Pertama, itulah sebabnya menurut saya investasi tidak boleh coba-coba.
Sebagai pemodal, kita harus juga memahami bisnis yang kita akan danai terutama kesesuaiannya dengan prinsip syariah. Kita harus juga mengetahui dengan baik pengelola dana kita siapa, apakah memahami prinsip syariah atau tidak. Sehingga kita tidak berspekulasi :)

Saya juga baru mulai investasi di IGrow padahal sudah lama sekali saya tahu tentang IGrow. Semua agar saya paham terlebih dahulu tentang investasi syariah dan juga supaya saya bisa mengumpulkan dana dulu untuk investasinya :D

Nah, saya mensiasatinya selain dengan menabung dulu, juga dengan mengajak teman untuk ikut menjadi pemodal, joint-investor. Berbagi keuntungan dan berbagi resiko :D

Kedepannya saya berharap IGrow memperbolehkan lebih dari satu pemodal/unit atau memperbanyak unit agar semakin banyak orang bisa ikut serta meski memiliki dana terbatas.

Oh iya, kalau kamu tertarik untuk berinvestasi di IGrow, kamu bisa gunakan kode voucher IGWEFF1992. Informasi dari websitenya kamu bisa dapat potongan hingga 100K, tapi saya kurang tahu kapan kadaluarsanya, silahkan dicoba saja ya :)

#investasi #igrow #halal #syariah

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade