WARLOK 002: Lika-liku E-sport dari Kekuatan Magis hingga Perubahan Maknanya

Image by Arbha Witarsa

Apa yang tidak penting di zaman sekarang? Sudah tidak ada, semua dibuat penting, salah satunya video game. Saking pentingnya video game kini berubah nama menjadi e-sport. Dengan merubah nama video game menjadi e-sport, kita telah merubah pemahaman mengenai video game itu sendiri. dari yang awalnya dinilai membuang waktu, menjadi sebuah aktivitas yang positif.

Pukul 2 pagi tadi saya berbincang dengan Difa Satria (Dekol) mengenai bagaimana e-sport menjadi bagian dari kehidupannya. Dekol merupakan salah satu orang yang paling ahli dalam bermain video game di lingkaran sosial yang saya miliki. Hampir setengah hidupnya dia habiskan untuk bermain video game. Bagi Dekol video game telah merubah hidupnya, tanpa harus kita lihat dampaknya positif atau negatif. Video game telah menjadi identitasnya.

Saya mencoba menggali lebih dalam mengenai bagaimana menjadi seorang ahli dalam bermain video game menurut Dekol, dan mencari tahu harapan-harapan apa yang ada dalam industri e-sport. Sebegitu pentingkah e-sport hingga harus dikategorikan menjadi sebuah “sport”?

Kekuatan Magis

Pada awalnya Dekol menganggap video game sebagai salah satu kegiatan untuk membuang waktu semata. Memangnya apa yang perlu dilakukan oleh siswa sekolah menengah pertama (SMP) saat kegiatan sekolah usai? Ya membuang waktu. Ada yang menghabiskannya dengan bergerombol bersama sekumpulan anak badung di warung yang berada di depan sekolahnya, ada yang mulai tertarik dengan kegiatan otomotif bongkar pasang “motor bebek”, ada yang fokus berolahraga, dan ada juga yang langsung pergi menuju “warung internet” (warnet) dan sudah menyiapkan sisa uang jajannya untuk paket hemat bermain video game selama 6 jam, serta semangkuk Indomie double dan sebotol Fruit Tea. Pada masa ini lah pilar-pilar penyokong berdirinya kemegahan istilah e-sport dibangun. Bagi saya e-sport tidak dibangun oleh kekuatan pemasaran bermodal ratusan juta. Budaya e-sport berkembang di atas kursi-kursi di dalam bangunan yang disebut warnet, jauh sebelum warnet berubah nama menjadi “e-sport arena”.

Pada masa itu Dekol dapat menghabiskan lebih dari 12 jam dalam satu hari untuk bermain video game. Selain itu Dekol juga bisa menghabiskan 3 jam lagi untuk menonton orang lain bermain video game. Dekol menghabiskan waktunya setiap hari selama 5 tahun dengan cara seperti ini. Saat saya tahu begitulah cara dia menghabiskan waktu, saya pun bertanya “eh sekolahnya mana ini anjay?”. Satu hari 24 jam, dikurangi 12 jam masih tersisa 12 jam lagi. Lalu kita kurangi dengan waktu untuk tidur selama 8 jam, masih ada sisa 4 jam. Dari 4 jam kita kurangi 3 jam karena dekol masih menonton orang lain bermain game. Cuman sisa 1 jam?! Saya pun kaget karena ada sekolah yang hanya harus masuk selama satu jam. Dan saya akhirnya mengerti mengapa identitas Dekol tidak dapat dipisahkan dengan video game, dan juga mengapa Dekol bisa “jago” seperti sekarang.

Yah namanya juga anak SMP, dulu juga saya kaya gitu. Bedanya saya gapunya apa yang saya “jago”. Dan lebih untungnya lagi kegiatan seperti itu sudah menjadi sejarah bagi Dekol. Setelah game online sudah bisa dimainkan dalam handphone, dia pun dapat bermain dimana saja dan kapan saja. Alhasil sekarang Dekol bisa membagi waktunya dengan baik dan fokus pada hobinya yang lain yaitu musik. Sekarang dia adalah seorang drummer yang cukup dihargai dan memiliki 2 band yang sedang merintis karir di Kota Bandung.

Saat ditanya apa saja yang telah dia hasilkan dari video game Dekol menjawab banyak sekali. Selain uang yang dia hasilkan dari menjual akun video game online, peralatan yang mahal untuk bermain video game, dan “skin” atau “senjata khusus” yang dijual di dalam sebuah video game online, dia mendapatkan banyak teman baru. Menurut saya video game dapat membangun kepercayaan yang sangat tidak masuk akal. Seseorang dapat percaya dengan orang lain hanya dengan bermodal “jago”. Tapi selain “jago” hal lain yang dapat membangun kepercayaan adalah seberapa sering anda bermain bersama orang asing tersebut. Dekol pun menyebutkan dia bisa kenal dengan orang-orang yang terkenal “ngeri” di Kota Bandung, khususnya ditakuti di kalangan para remaja dan ruang lingkup komunitas antar sekolah. Dekol tidak mau menyebutkan siapa saja orang itu dengan alasan takut. Tapi sudah cukup bagi saya mengetahui hal tersebut. Sangat lucu dimana anda dapat akrab dengan seorang yang ditakuti di dunia nyata dalam dunia video game online. Belum tentu dengan sering bertemu di dunia nyata pun dapat membuat seorang yang garang luluh. Inilah kekuatan magis sebuah video game yang tidak akan dimengerti orang-orang dewasa di masa itu.

Gula Bagi Semut

Video game tak pernah membuat Dekol tertekan, melainkan menjadi obat dari tekanan. Coba kalian tanya kepada seseorang yang suka bermain video game tentang kenapa mereka memilih bermain, jawabannya pasti karena karena mereka terhibur. Pada dasarnya video game memang untuk hiburan semata. Tak ada yang mampu membayangkan bagaimana bermain video game dapat menjadi sebuah karir. Saya ingat dulu disaat saya kecil, karir yang saya tahu di dunia gaming hanya sebagai game developer dan game tester. Saat pertama kali saya mengenal istilah game tester dalam majalah “XY Kids” saya pun tergiur. Kerjanya hanya bermain video game dan mendapat uang yang cukup besar. Tak terbayangkan sekarang orang yang hanya bermain, bukan melakukan testing-pun dapat menghasilkan uang.

Saya dan dekol tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi, sebenarnya kami lebih tidak dapat membayangkannya. Namun kakak Dekol yang bernama Defta membantu menjawabnya. Menurut dia hal ini terjadi karena munculnya nilai baru dalam industri game itu sendiri. seseorang dapat menjadi “jago” dan menghasilkan uang karena mereka memiliki pasar yang siap untuk menikmati orang tersebut bermain. Sama seperti atlet-atlet bola, selain mahir mereka memiliki pasar yang siap untuk menyaksikan dia beraksi.

Dekol pun sempat memiliki pikiran untuk menjadi atlet e-sport. Tapi hambatan paling besar untuk menjadi atlet adalah kita perlu memiliki tim. Dan membangun sebuah tim pun sangat lah sulit. Saat saya tanya lagi apakah dia masih mau mencoba serius dalam dunia e-sport, Dekol menjawab jika memang mau serius dia hanya ingin membuat konten kecil-kecilan dan unjuk gigi seberapa mahir dia dalam bermain suatu game. Jika harus diberikan contoh kita bisa melihat sosok-sosok di kanal Youtube yang bernama “Pew Die Pie” atau “Ninja”. Mereka mampu memiliki jutaan penggemar dan hidup dari game semata.

Saya pikir industi game memang sangat menggiurkan. Anda dapat terhibur sekaligus menghasilkan uang setiap harinya. Dan juga sepertinya anda tidak perlu keluar keringat. Bagi saya industri game bagi anak muda zaman sekarang sudah seperti gula bagi semut.

Balada Cinta dan Game

Dekol bercerita bahwa video game selalu membuat kisah cintanya kandas. Dia bilang hal ini terjadi karena masalah komunikasi. Dekol terlalu fokus bermain game, dan jika “Doi” mencoba menghubunginya dia tidak akan menjawabnya. Memang lucu, tapi bagi Dekol jika permainan sudah dimulai, alangkah lebih baik jika dia bisa fokus hingga game berakhir. Hanya saja setelah permainan berakhir yang dia lakukan malah bermain lagi buka menjawab sang pasangan.

Memang sulit sepertinya untuk mencari pasangan yang dapat mengerti soal hal tersebut. Tapi sekarang Dekol memiliki pasangan yang mengerti. Bahkan dia dibelikan kabel charger yang panjangnya 2 meter oleh pasangannya, dengan alasan agar dekol tidak mengelak “habis batre, stop kontak jauh” lagi saat sang kekasih mencoba menghubunginya.

Berikut beberapa tips & trik bagaimana menghindari pasangan yang menghubungi ditengah permainan video game yang sangat genting ala Dekol:

1. Kasih tau sebelum main

Alangkah lebih baik anda beritahu dulu bahwa anda akan bermain game.

2. Alasan baterai habis, dan stop kontak jauh

Jika anda lupa mengabari, alasan baterai handphone anda nge-drop dan jarak stop kontak sangat jauh menjadi alasan yang cukup masuk akal. Walaupun menurut saya tidak sih.

3. Charger ketinggalan

Hampir sama dengan alasan sebelumnya. Tapi alasan ini lebih memiliki resiko yang tinggi jika setelah bermain game anda ketahuan menggunakan media sosial.

4. Handphone anda nge-lag

Alasan ini hanya berlaku jika anda bermain game pada handphone anda. Dan alasan ini tidak berlaku bagi pengguna Iphone X.

5. Block dulu maaf kemudian

Jika anda merasa terganggu, apa boleh buat satu satunya cara adalah memblokir pasangan anda terlebih dahulu. Jika dia marah, minta maaf lah setelah permainan berakhir.

6. Matikan status online dalam game

Jika pasangan anda dapat memiliki aplikasi yang dapat melihat anda sedang online, matikanlah status online anda.

7. Ajarkan dia cara bermain game

Ini trik paling aman dan adil. Ajak dan ajarkan pasangan anda bermain game dan berhubungan melalui game tersebut. Jangan lupa buat akun baru agar “rank” anda tidak terjun bebas.

Mungkin anda bertanya apa susahnya sih menjawab pesan atau panggilan dari pasangan anda di tengah-tengah permainan. Tapi bagi mereka yang serius dalam bermain game, hal ini sangat sulit dilakukan. Bagi Dekol bermain game itu perlu fokus. Fokus untuk membunuh paling banyak dan mati paling sedikit. Jika ada yang bertanya untuk apa, jawab saja “biar keren”.

Fenomena E-sport dan Kenapa Seolah Semua ini Penting

Saya berkesimpulan bahwa video game berubah nama menjadi e-sport karena adanya nilai ekonomi. Bahkan setelah saya mencoba menyamakan antara atlet e-sport dan atlet olahraga fisik seperti sepak bola, saya merasa ada satu kesamaan mengapa mereka sangat populer. Alasannya satu, pada dua aktivitas itu ada nilai ekonomi yang sangat besar. Sepak bola dan e-sport sama sama memiliki pasar yang besar. Dan selama adanya pasar, uang dapat dihasilkan. Selama ada uang investor dapat masuk, dan jika suatu aktivitas memiliki penyuntik dana aktivitas tersebut bisa berkembang dengan pesat dan menjadi sebuah fenomena yang populer.

Lihat saja, sebelum dikenalnya kata e-sport permainan seperti video game hanya dipandang sebagai ”permainan”. Kesannya pun hanya sekedar main-main saja. Dan jika kita lihat sepak bola pada dimensi yang paling bawah seperti ekstrakulikuler sekolah, sepak bola pun hanya dilihat “main-main” saja.

Betul menurut Defta (Kakaknya Dekol yang sebelumnya disebut), ini semua konstruksi sosial. Sama seperti tanpa adanya Liem Swie King mungkin bulu tangkis tidak akan populer di Indonesia. Juga tanda adanya blind hook ala Dendi mungkin DoTA tidak akan se-populer ini. Sekarang anda lihat setiap game memiliki seorang sosoknya masing masing. Sosok-sosok tersebut beberapa ada yang di kontrak oleh tim-tim dari setiap cabang e-sport. Bahkan sebuah tim e-sport dapat berkembang seolah menjadi sebuah perusahaan. Ambil contoh tim Na’vy, dulu mereka hanya sebuah tim untuk sebuah game online berjudul DoTA 2, sekarang Na’vy menginvasi ke hampir setiap game online. Bahkan antara tim e-sport dapat melakukan jual beli pemain seperti klub-klub sepak bola, baseball, dll. Bayangkan berapa banyak perputaran uang dalam industri ini. Tidak dapat kita pungkuri bahwa kapitalisme memang dapat membantu berkembangnya suatu bidang dengan sangat cepat.

Apa mungkin kapitalisme lah yang dapat merubah sebuah “game” menjadi sebuah “sport”?