Hutan Pusuk dari Gunung Malang oleh Ardianta Pargo

Asal-asalan Mengambil Foto dari Motor, Monyet Pusuk ini kok Jadi Bisa Berbicara

Tidak sengaja bongkar-bongkar isi hardisk dan saya menemukan koleksi foto-foto lama.

Foto memang menyimpan kenangan, akan tetapi cerita dibaliknya tidak banyak yang tahu. Karena itu, izinkan saya menceritakannya.

Waktu itu…

Kami sepakat untuk pergi ke Malimbu untuk perpisahan. Karena sekolah tidak mengadakan perpisahan di luar.

Saya berangkat agak belakangan, karena harus pergi meminjam kamera dulu.

Teman-teman yang lain sudah sampai di lokasi. Saya masih dalam perjalanan.

Karena saya yang bawa kamera, jadi ya… foto-foto dulu.

Mangsit

dan... saat sampai di bukit Malimbu, ngambil foto lagi.

yang itu bukan saya :P

yang Ini baru saya: eeaaa…

Sebuah keberuntungan bisa berfoto sama turis… wkwkw 😂

Setelah puas mengambil gambar, saya akhirnya turun dan bertemu yang lainnya.

Rupanya mereka sudah pada mandi…

Okelah, saya jadi tukang ambil gambar saja.

Suasana pantai waktu itu bisa dibilang cukup sepi. Jadi lebih bebas narsisnya. 😀

Setelah menghabiskan waktu di Pantai Malimbu, akhirnya kami pulang. Akan tetapi rute pulangnya lewat Pusuk.

Jaraknya memang lebih jauh, tapi itu akan terbayar dengan pemandangan yang didapatkan.

Lihat saja ini, keren kan?

Luar biasa… air lautnya mengaggumkan. 😮

Lanjutkan perjalanan…

Setelah beberapa menit, kami pun sampai di Pusuk.

Kami beristirahat ngopi di Gunung Malang sambil menikmati keindahan hutan Pusuk.

Uadara di sana memang sejuk, membuat kopinya semakin terasa nikmat.

Pada akhirnya, setelah kopinya habis… kami bergegas untuk pulang.

Dalam perjalanan, saya mengambil foto dari motor dan hal yang tak terduga terjadi!

Bukan…, bukan kecelakaan.

Tapi ini…

Gambar-gambar monyetnya, jadi komik 😂.

Kami tidak berhenti… karena tidak ada makanan untuk monyet.

Monyet-monyet ini hanya ramah kalau ada makanan. Kalau kamu gak bawa makanan, bersiap-siaplah… sesuatu yang buruk akan terjadi.

Tancap gas, kaburr…

Waduh! plat motor saya udah dicatat. Sepertinya gak bisa lewat Pusuk lagi.

dan… begitulah ceritanya.

Entah bagaimana saya bisa mengambil foto monyet-monyet itu. Asal jepret, ya… bagitulah hasilnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.