Kepulangan Sang Jenderal

Langkahnya sedikit gontai, wajahnya tertunduk lesu. Dalam sebuah stadion yang dijuluki The Theatre of Dreams, Ia duduk di salah satu sudutnya. Sambil menenggak sekaleng soda, sesekali ia memandangi senja di kejauhan. Matahari akan terbenam, seperti dirinya yang kian tenggelam.
Ia hanya sendiri, tak ada yang menemaninya. Pria itu layaknya veteran perang, dari sebuah pasukan yang mulai ditinggal mati rekan-rekannya, bahkan sang pemimpin pasukan sekalipun. Lambat laun Ia merasa asing. Durasi untuk bertarung kian lama menurun, bahkan di laga perebutan piala eropapun Ia hanya diberikan peran sebagai penutup pertandingan. Tawaran-tawaran untuk hijrah datang, namun sang veteran tetap bergeming dan selalu terjangkit penyakit terjebak nostalgia, dimana selalu mengenang kejayaannya di masa silam, banyak nama yang disematkan pada diri sang veteran. Sesekali ia dijuluki The White Pele, sesekali The Wonder Boy, namun publik lebih mengenalnya dengan julukan Wazza.

Wazza sepertinya lupa, bahwa Ia hidup di masa kini demi menyongsong masa depan yang lebih baik. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, sebaik dan seburuk apapun kisah yang terajut, Ia stagnan, diam di tempat. Di satu sisi Ia masih ingin tetap bertahan meski tahu dan sadar dengan performanya yang kian dimakan usia. Di sisi lain, kendati harus pergi, Ia tak tahu kemana arah dan tujuannya.
Sambil menengak sisa soda yang diminumnya, pria itu berikrar pada dirinya sendiri bahwa ia akan pergi dengan terhormat dan dengan kepala tegak. Matanya tertuju ke barat, seperti sadar ada keriuhan sisa-sisa pesta kemeriahan piala eropa. Sungguh, inilah pesta besar untuk sebagian rakyat manchester tersebut. Setidaknya sejenak mereka melupakan trauma teror yang baru-baru ini melanda kota tersebut. Tentu tak ada pesta yang lebih megah daripada pesta yang merayakan kebangkitan setelah keterpurukan.

Berbeda bagi Wazza. Menang atau kalah, Ia nampaknya akan tetap mengadakan pesta. Bukan pesta kemenangan, tapi mungkin sebuah pesta…. perpisahan. Entah dengan sebuah piala ataupun meja-meja kosong yang mengisinya. Pada akhirnya Ia hanya perlu mensyukuri torehan-torehan yang mampu Ia raih sampai saat ini, yang mengisi hall of fame The Theatre of Dreams. Dan mungkin pada akhirnya tidak ada salahnya untuk Ia berhenti, dan mulai berjalan lagi. Meninggalkan tempat dimana Ia telah berjuang sepenuh hati.
Tak peduli apa yang akan terjadi, sebuah pesta yang memiliki makna yang berbeda akan kembali berlangsung di kota Manchester tersebut. Entah pesta milik siapa, entah pesta untuk siapa. Ia yang tersenyum lebar, atau Ia yang tersenyum getir dan kembali ke ekspresi datarnya.
Hari semakin larut, sisa-sisa kemeriahan pesta semalam lambat laun terurai. Sementara sang veteran terus duduk di bangku stadion sembari terus terdiam, seperti enggan beranjak dari lamunannya. Matanya menerawang, membayangkan segala kemungkinan terburuk.
Ia bangkit menuju mobilnya dan mengendarainya untuk kembali pulang. Pesta Manchester telah usai. Semburat lampu lalang menyinari wajahnya sesekali, Ia kembali terjebak nostalgia, mengingat keriuhan saat dirinya berjaya. Namun bayang buruk kembali menghantui. Bagaimana jika dirinya kembali gagal.
Sesampainya dirumah, sang veteran tertidur. Dalam tidurnya Ia bermimpi menjalankan sebuah laga. Sorak sorai penonton menggaungkan namanya. Tidak ada yang aneh dalam mimpi sang veteran. Hanya saja Ia perlahan menyadari seragam yang Ia kenakan saat itu merupakan seragam yang sudah lama disimpannya pada pojok lemari lamanya.
Farewell Capt. Best of Luck.
