Lelaki di Tengah Hujan

A man in the rain

Lelaki itu berdiri ditengah hujan. Hujan yang deras mengguyur seluruh tubuhnya. Hujan juga turut membasahi wajahnya. Namun baginya, alangkah baiknya hujan turun kala itu. Karena tetesan hujan yang turun seakan menyamarkan air matanya yang ikut membasahi pipinya.

Lelaki itu terlihat sangat tegar. Ia berdiri di tengah hujan. Sorot matanya tajam. Meski semburat kesedihan yang amat pedih terpancar jelas dimatanya. Disebelah sana terlihat seorang gadis yang amat dicintainya. Namun apa daya gadis itu lebih memilih pria lain meski ia tahu dan melihat bagaimana perjuangan lelaki tersebut. Memang cinta tak dapat dipaksakan. Perempuan itu melihat lelaki tersebut untuk terakhir kalinya, sambil berkata lirih seraya berucap

“semoga kau menemukan perempuan yang lebih baik dariku, karena kau lebih pantas dicintai oleh wanita yang mampu membahagiakanmu”

Singkat dan sangat jelas, lelaki itu menangkap pesan singkat tersebut dan tersenyum pedih. Perlahan namun pasti wanita itu memalingkan punggungnya, menjauh dari pandangannya, pergi dari hidupnya. Sang wanita pergi, namun entah apa yang membuat lelaki itu tetap berdiri entah berapa lama lagi. Mungkin sampai hujan berhenti. Atau sampai terik matahari datang, dan mengeringkan air matanya.

**

Kurang lebih seperti itu reka adegan usai partai puncak liga champion 2017 lalu. Final di Cardiff bukan hanya mengisahkan tentang kisah heroik Cristiano Ronaldo yang kembali sukses meraih si Kuping Panjang ke dalam pelukannya. Ada sebuah kisah pilu lain yang dilupakan penonton kala itu karena kurang populer dibanding cerita megabintang yang mampu melesakan 2 gol ke gawang sang legenda itali. Ya kisah itu ialah lelaki ditengah hujan. Lelaki itu boleh kita sebut sebagai Paulo Dybala.

Paulo Dybala memang pendatang baru, sampai musim lalu Ia pun masih kalah saing dalam perebutan posisi penyerang utama si nyonya tua, dibelakang Alvaro Morata dan Mario Mandzukic. Pada musim ini pun Ia harus maklum berdiri menatap punggung penyerang tambun Gonzalo Higuain. Kemampuan dribling yang ciamik dan finishing yang fantastik sebenernya sudah cukup sebagai modal penyerang utama klub kota Turin tersebut. Namun kemampuan udara yang buruk mungkin menjadi alasan lain yang membuat posisinya bergeser menjadi gelandang serang. Tak mengapa sebetulnya mengingat ia juga memiliki kemampuan dalam memberikan umpan-umpan kunci yang tak jarang berbuah manis di gawang lawan.

Di kompetisi liga champion Dybala menunjukan permainan brilian. Sosoknya melejit pasca melesakkan sepasang gol ke gawang Ter Stegen . Namun setelahnya Ia seperti kehabisan bensin dan tertatih-tatih di permainan yang justru menjadi momen penting baginya. Harus diakui Paulo Dybala dan Juventus memperlihatkan sisi lain dari Sepak Bola Itali yang kental dengan filosofi bertahannya itu. Dani Alves serta Cuadrado menjadi warna tersendiri dengan kecepatan menusuk pertahanan lawan. Namun sayangnya hal itu tidak terlihat pada partai final tersebut. Entah kurang gairah atau pemain madrid yang sedang kesurupan, Madrid begitu mendominasi, setidaknya di babak ke 2. Tidak ada penyerangan berarti yang mengancam gawang Keylor Navas. Padahal banyak yang menjagokan Si Nyonya Tua akan mengangkat trofi si kuping besar musim ini.

Dybala adalah sosok lelaki ditengah hujan. Yang mencintai wanita dalam wujud trofi yang melambangkan kejayaan, kemenangan dan kebanggaan. Namun kita paham betul bahwa wanita akan lebih memilih pria yang benar-benar memperjuangkannya. Yang rela berkorban untuknya. Tak heran sang wanita tersebut jatuh pada pelukan Cristiano Ronaldo yang berjuang keras bersama kawan-kawannya.

Saya tak mengatakan Dybala tidak berjuang, hanya saja ia terlihat bermain kurang gairah dan tidak memberikan segalanya untuk sang wanita. Permainannya tidak berkembang dan hanya berputar-putar di tengah lapangan. Ketika mendapatkan bola ia lebih sering mengembalikannya ke daerah sendiri dan memilih untuk tidak memaksimalkan potensi dribblingnya. Lihat saja statistik selama partai final itu, tidak ada satupun tendangannya yang mengancam penjaga gawang lawan asal korta rika Keylor Navas. Duel udara memang menjadi kelemahannya, namun memilih untuk tidak berduel dengan Marcello di menit-menit babak dua membuat sang wanita mulai mengendurkan niatnya untuk jatuh pada pelukannya. Kita bisa melihat dari raut wajahnya yang seakan berkata “Kita coba lagi, masih ada kesempatan lain”. Ia tidak seperti Ronaldo yang tiada hentinya belari, jatuh bangun dan menciptakan peluang-peluang di daerah lawan. Ronaldo benar-benar menunjukan kesungguhan cintanya pada wanita itu tanpa jeda.

Seperti sebuah kisah romantis, Kesungguhan dan sikap itulah yang akhirnya membuat wanita itu jatuh cinta dan membuka hatinya. Ini adalah kali keempat Ronaldo mengatakan bahwa Ia pantas berdiri memeluknya, disebelahnya. Lantas apa bagaimana dengan lelaki di tengah hujan? Ia hanya mampu melihat dari kejauhan seraya menutup setengah mukanya melihat wanita yang dicintainya jatuh pada pria lain.

Sang wanita jatuh pada pria yang tepat
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.