Oh ya, sebentar. Perlu kupertegas.

Aku ingat jelas perihal kecil yang barangkali kau sebut 'tidak penting', namun sangat kubutuhkan saat posisiku berada di suasana genting. Membutuhkan sedikit kehadiranmu yang kadang kala hilang seiring berhembusnya angin laut. Membawa hawa panas, namun bisa jadi terasa hangat jika saja masih ada pengabulan doa tentangmu.
Kau memberikan banyak kata, menjanjikan hal-hal manis yang siap untuk diterapkan kapanpun aku butuh. Tapi memang seperti itu bukan? Mereka yang baru hadir di kehidupan seseorang tak segan-segan meyakinkan dengan hal yang membekas di ingatan.
Oh ya, sebentar. Perlu kupertegas.
Harapanku tentangmu masih sama seperti mercusuar di penghujung pantai. Tegak, kokoh, tidak tumbang ditempa ombak. Pintaku padamu masih sama seperti halnya pertama kali menginjak pasir yang sedari dulu dikenal khalayak namun berkesan bagi siapapun pemilik yang sedang koyak. Membekas. Tak hilang disirat hujan. Seiring dengan jejeran batu yang tanpa sadar membentuk pola, menerjemahkan warna tersembunyi dari cakrawala, atau juga mengaduk habis biru-hijau dalam perpaduan formula. Tapi juga harus membuatmu berpikir keras tentang bagaimana melewati terjal dan tajam yang bisa jadi fatal untuk kedua kakimu. Hingga akhirnya kita putuskan melewati satu-dua demi tiba di penghujung.
Mengisyaratkan gerakan adalah andalanmu. Mungkin barangkali dengan begitu aku bisa mengerti titik temu yang kau simpan jauh pada hal yang kerap kali meramu.
Sama seperti laut. Kamu menyimpan banyak hal tak terduga. Terlihat tenang, tapi isimu membuat hanyut dan tergenang.
Dan harapanku masih sama, hingga sekarang, pun besok yang akan datang. Mengadahkan pinta yang terlentang, mengarungi rintangan dengan kombinasi irama yang semakin lantang.
Harapku pantang. Menjerumus jauh pada angin laut, diserapnya butir butir gemintang.
