Menentukan Harga Proyek IT untuk Freelancer

Di beberapa komunitas pemrograman dan developer, salah satu pertanyaan yang cukup sering diajukan adalah “bagaimana cara menghitung harga website / software / aplikasi mobile”. Ya, harga memang menjadi salah satu tantangan bagi para pegiat bisnis IT. Tidak hanya bagi pemula, terkadang yang sudah berpengalaman pun masih belum punya standar baku bagaimana cara menghitung harga. Jika salah dalam menentukan harga, bisa-bisa kita rugi. Dalam artikel ini saya akan membahas cara menentukan harga proyek IT untuk freelancer. Cara ini kurang tepat jika sudah melibatkan tim dalam proyek, karena jika bicara tim, banyak variabel yang terlibat, yang mungkin tidak ditemui di dunia freelancer.

Freelancer, perlu diingat bahwa yang dijual adalah jasa perorangan. Dalam industri jasa perorangan, harga jual kita akan semakin tinggi ketika order (permintaan) semakin banyak. Ketika baru mulai freelance, harga berapa pun yang ditawarkan sebaiknya diterima. Selain untuk memperoleh uang masuk, ini merupakan jalan kita untuk memperluas jaringan bisnis. Ingat, peluang apapun sangat berharga, jangan biarkan lepas begitu saja. Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan semakin luasnya network kita, order akan semakin banyak. Ketika order semakin banyak, secara alamiah kita akan meminta harga yang lebih tinggi untuk mengeliminasi harga yang lebih rendah, karena kita hanya memiliki 24 jam dalam sehari dan tidak akan mungkin mengerjakan semua order yang masuk. Kecuali kita sudah berencana untuk melakukan transformasi dari freelancer menjadi business owner.

Ukuran dalam menentukan harga, adalah satuan waktu, bukan pengalaman atau seberapa jago skill kita. Waktu, adalah salah satu ukuran yang objektif, sedangkan pengalaman dan skill adalah sesuatu yang subjektif. Jadi yang kita jual sebenarnya adalah waktu, berapa lama waktu kita yang dibayar oleh customer. Untuk membuat sebuah website dalam 10 hari misalnya, kita jual dengan harga Rp 3 juta, itu sama dengan kita menjual 1 hari kita seharga Rp 300 ribu. Bagaimana kita tahu itu nilai tersebut terlalu murah atau mahal? Kembali ke hukum permintaan-penawaran di atas, ketika order kita masih sedikit, coba ambil semua peluang, selama waktu kita masih ada. Ketika waktu sudah menjadi sesuatu yang langka, itu saatnya menaikkan harga. Jika customer tidak setuju, masih ada proyek lain karena order yang masuk banyak. Ketika tidak memiliki opsi seperti ini, dapat disimpulkan bahwa order kita belum cukup banyak.

Harga yang ditawarkan di awal memulai profesi freelancer, sebaiknya tidak jauh berbeda dengan standar gaji di kota kita. Yang membedakan, freelancer mengambil selisih sebagai laba karena yang namanya bisnis pasti ambil keuntungan. Keuntungan dari sesuatu yang kita jual, yaitu waktu. Di Jakarta, UMP tahun 2017 adalah Rp 3.3 juta. Dengan asumsi gaji programmer fresh graduate rata-rata adalah Rp 4 juta, maka di awal kita bisa tawarkan harga untuk 20 hari kerja adalah Rp 5 juta (1 juta adalah selisih keuntungan). Sehingga harga per hari kita adalah Rp 250 ribu (Rp 5 juta dibagi 20 hari). Jika kita diminta mengerjakan website dalam 10 hari, maka harga kita adalah 10 hari dikali Rp 250 ribu, yaitu Rp 2,5 juta. Jika satuan hari dirasa belum cukup, bisa menggunakan satuan jam, agar lebih akurat. Dalam 1 hari, biasanya acuannya adalah 8 jam kerja.

Perlu diperhatikan bahwa waktu yang dimaksud adalah “waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek” (waktu yang dijual ke customer), bukan “waktu dimana kita harus menyelesaikan sebuah proyek”. Sebagai contoh, customer memberikan waktu 30 hari, namun setelah kita analisa, disimpulkan bahwa untuk menyelesaikan proyek tersebut dibutuhkan waktu 60 hari. Nah, harga yang ditawarkan adalah 60 hari dikali rate harian kita, jadi bukan 30 hari, karena waktu yang dijual ke customer adalah 60 hari. Jika rate harian adalah Rp 250 ribu, maka harga penawaran kita adalah 60 hari x Rp 250 ribu = Rp 15 juta. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa semakin cepat deliverable proyek, semakin murah harganya.

Lalu bagaimana bisa proyek yang seharusnya selesai dalam 60 hari tapi customer minta diselesaikan dalam 30 hari? Bisa dengan menambah programmer 1 orang lagi, atau menambah jam kerja kita dalam 1 hari. Dikarenakan artikel ini membahas mengenai freelancer, maka opsi yang cocok adalah menambah jam kerja.

Dalam beberapa marketplace freelancer, banyak harga yang dipasang customer dianggap terlalu “murah”. Atau banyak yang berkomentar bahwa sebaiknya para freelancer menetapkan harga jasa bersama-sama, agar harga pasar tidak rusak. Bukan seperti itu harga bekerja. Harga dalam industri jasa sangat tergantung dari jumlah permintaan. Ketika permintaan banyak, harga akan semakin tinggi. Ketika masih banyak harga customer yang murah, bisa dikatakan bahwa memang permintaan pasar belum cukup banyak. Bisa saja kita menyepakati harga freelancer, tapi harus melalui lembaga yang sah secara hukum, dan aturan itu hanya berlaku bagi anggota mereka. Kecuali jika pemerintah campur tangan dalam penentuan harga. Tapi ingat, negara kita negara demokrasi, bukan sosialis, yang semuanya diatur oleh pemerintah agar tidak ada kesenjangan. Kita semua bebas menentukan harga, selama customer bersedia membayarnya.

Sebagai penutup, ada 1 kutipan dari Joe Girard, salesman terhebat di dunia: “Ketika kamu tidak pernah gagal menjual karena masalah harga, itu artinya kamu menjual terlalu murah.”